Padang, InfoPublik — Hujan kini bukan lagi sekadar fenomena alam yang menyenangkan bagi anak-anak di Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar).
Bunyi rintiknya kerap memicu kecemasan, membangunkan ingatan akan malam-malam mencekam saat banjir dan longsor melanda wilayah mereka. Ketakutan itu masih terasa, bahkan ketika langit hanya mulai menggelap.
Untuk membantu anak-anak menghadapi ketakutan tersebut, layanan dukungan psikososial digelar di Posko Pengungsian Nagari Bayua, Rabu (17/12/2025). Kegiatan ini menjadi upaya awal memulihkan rasa aman anak-anak yang terdampak langsung maupun tidak langsung oleh bencana.
Mobil Dukungan Psikososial Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama organisasi nirlaba Save the Children hadir memberikan pendampingan. Anak-anak diajak bermain, bercerita, dan mengekspresikan perasaan mereka dalam suasana yang aman dan menyenangkan. Pendekatan ini dipilih karena anak sering kali belum mampu mengungkapkan rasa takutnya secara verbal.
Samila Ide Mahira (9), adalah salah satu anak yang merasakan dampak psikologis tersebut. Setiap hujan lebat turun, ia terbiasa dibangunkan orang tuanya untuk bersiap mengungsi ke kantor wali nagari. Bagi Mahira, hujan berarti kewaspadaan, kepanikan, dan tidur yang terputus. “Kalau hujan lebat, saya tidak bisa tidur. Saya disuruh tetap bangun kalau harus pergi mengungsi,” kata Mahira pelan.
Pengalaman itu membuat Mahira berharap hujan tidak lagi datang ke kampungnya. Harapan yang sederhana, namun mencerminkan rasa takut yang masih membekas. “Saya harap hujan tidak turun lagi, karena setiap hujan pasti disuruh ke kantor wali nagari,” ujarnya.
Cerita serupa juga dialami Winda Marina (11). Ia mengatakan keluarganya selalu bersiap setiap kali hujan deras mengguyur Bayua. Pengalaman banjir dan longsor yang berulang membuat kewaspadaan menjadi bagian dari keseharian. “Ayah selalu bilang harus siap-siap ke kantor wali nagari kalau hujan deras,” kata Winda.
Bagi anak-anak, rutinitas kesiapsiagaan ini tak jarang berubah menjadi kecemasan. Rasa aman yang seharusnya mereka rasakan di rumah dan lingkungan sekitar perlahan tergantikan oleh rasa waswas.
Wali Nagari Bayua, Hadi Fajrin, menilai kondisi tersebut sebagai tantangan serius dalam pemulihan pascabencana. Menurutnya, pembangunan fisik seperti jembatan dan jalan harus berjalan seiring dengan pembangunan mental masyarakat. “Pembangunan manusia itu sangat penting. Psikososial ini berpengaruh besar terhadap perkembangan anak-anak, karena mereka melihat dan mendengar langsung kejadian bencana yang terjadi tidak jauh dari lingkungan mereka,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa meskipun tidak ada korban jiwa, dampak psikologis bencana tidak boleh diabaikan. Tanpa pendampingan yang tepat, trauma dapat memengaruhi konsentrasi belajar, kepercayaan diri, hingga interaksi sosial anak-anak.
Namun, Hadi menekankan bahwa pemulihan mental menjadi fondasi penting agar masyarakat dapat bangkit sepenuhnya. “Kami membutuhkan penguatan psikis, baik bagi warga terdampak langsung maupun yang tinggal di sekitar area bencana. Anak-anak khususnya perlu dibantu agar kembali percaya diri dan merasa aman,” katanya.
Ketakutan dan kesedihan anak-anak Bayua tidak terlepas dari peristiwa bencana yang terjadi sejak hujan lebat mengguyur wilayah tersebut pada Senin (23/11/2025). Longsor pertama terjadi di Jorong Kampung Jambu, disusul longsor besar pada Kamis malam (26/11/2025) di enam titik berbeda. Suara dentuman batu dan aliran air bercampur material masih teringat jelas oleh warga.
Ingatan itulah yang kembali muncul setiap kali hujan turun. Anak-anak cenderung berkumpul di kantor wali nagari, mencari perlindungan dan rasa aman.
Melalui layanan dukungan psikososial, anak-anak diajak perlahan mengurai ketakutan mereka. Tawa, permainan, dan cerita menjadi medium untuk menata ulang rasa aman yang sempat hilang. Di tengah keterbatasan pengungsian, kegiatan ini menjadi ruang kecil bagi anak-anak Bayua untuk kembali merasa menjadi anak-anak.
“Pemulihan memang tidak terjadi dalam semalam. Namun, dari Posko Pengungsian Nagari Bayua, langkah-langkah kecil terus diupayakan agar anak-anak tidak tumbuh dengan ketakutan, melainkan dengan harapan,” pungkasnya.