Jakarta, InfoPublik - Di salah satu panggung utama Indonesia Sustainability Forum (ISF) 2025, suasana di panggung Climate Impact Innovations Challenge (CIIC) 2025 terasa penuh energi dan harapan. Sembilan finalis muda dari berbagai negara naik ke atas panggung dengan satu tujuan besar: menghadirkan masa depan yang lebih bersih, lestari, dan berkelanjutan.
Di hadapan dewan juri internasional, investor, dan pejabat tinggi, mereka tak hanya membawa produk teknologi hijau tetapi juga membawa optimisme bahwa kolaborasi lintas batas bisa menjadi jawaban atas krisis iklim global.
CIIC 2025, hasil kolaborasi East Ventures dan Temasek Foundation, menjadi bukti nyata bahwa transisi hijau bukan sekadar isu lingkungan. Ia kini telah menjelma menjadi arena baru bagi karier, bisnis, dan masa depan ekonomi dunia.
"Sejak awal berdiri pada 2023, CIIC terus tumbuh menjadi platform yang mendorong inovasi bermakna dan berdampak nyata dalam menghadapi tantangan iklim," ujar Avina Sugiarto, mitra di East Ventures saat berbicara di ISF 2025, Jakarta, Sabtu (11/10/2025).
Komitmen itu telah melahirkan berbagai proyek yang kini memasuki tahap implementasi. Salah satunya SunGreen H2, pemenang CIIC 2024, yang kini bekerja sama dengan PLN dalam proyek percontohan hidrogen hijau di Indonesia. Sementara itu, pemenang asal Malaysia tahun sebelumnya, Hot Water, berhasil menarik investasi global hingga USD2,8 juta untuk mengembangkan teknologi panas bersih.
Heng Li Lang, Head of Climate and Liveability Temasek Foundation, menekankan pentingnya CIIC sebagai launchpad global bagi startup iklim. Tahun ini, kompetisi mencatat rekor baru hampir 500 proposal dari lebih dari 50 negara, dengan sembilan tim terbaik yang memperebutkan hibah senilai lebih dari Rp10 miliar.
Transisi Hijau: Peluang Baru bagi Anak Muda
Salah satu finalis asal Indonesia, Rekosistem, menampilkan teknologi RekoFuel yang mampu mengubah sampah menjadi energi bersih. Sorotan lain berpindah ke startup Arukah yang tampil dengan ide besar mengubah limbah pertanian menjadi sumber penghasilan baru lewat biochar berkualitas tinggi. "Kami ingin mengubah liabilitas lingkungan menjadi aset yang bernilai global," tegas tim Arukah.
Model bisnisnya inklusif: 50 persen keuntungan karbon dibagikan langsung kepada petani, dengan target 1 juta ton CO₂ removal hingga 2030.
Namun, inovasi dari para teknopreneur muda seperti Rekosistem dan Arukah tidak akan bisa berkembang tanpa ekosistem sumber daya manusia yang siap. Menjawab tantangan ini, panggung utama ISF 2025 kemudian membahas pertanyaan krusial: bagaimana kita 'mencetak' jutaan talenta hijau di era kecerdasan buatan?
Membangun Manusia Hijau di Era AI
Dalam panel bertajuk “Building Human Capital for a Sustainable Future: Creating Green Jobs in the Age of AI”, Dino Patti Djalal, pendiri Foreign Policy Community (FPCI), membuka diskusi dengan tajam. "Negara yang menang di masa depan adalah negara yang mampu menyiapkan rakyatnya dengan kemampuan, nilai, dan pola pikir yang tepat."
Boon Heong, CEO Temasek Foundation, menekankan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan solusi berbasis alam, di mana petani menjadi 'ilmuwan kecil' yang memahami tanahnya. Sementara Maki Katsuno-Hayashikawa, Direktur UNESCO Jakarta, mengingatkan bahwa pendidikan harus mempersiapkan generasi muda untuk belajar sepanjang hayat.
Dari sektor teknologi, Spencer Low, Head of Regional Sustainability Google Asia-Pacific, menjelaskan inisiatif Google Career Certificates dan Bangkit Academy yang melatih ribuan talenta digital Indonesia. "Talenta digital yang dilatih di sini bukan hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan solusi," ucap Spencer.
Diskusi ditutup dengan refleksi dari Dino Patti Djalal, "Pertanyaannya bukan hanya bagaimana kita membangun ekonomi, tapi bagaimana kita membangun manusia."
Harapan dari Generasi Hijau
Dari panggung CIIC hingga forum ISF, satu pesan menggema: masa depan bumi ada di tangan generasi muda. Transisi hijau bukan lagi beban, melainkan peluang besar untuk berinovasi, berkarier, and membangun ekonomi baru yang berpihak pada planet.
Dari panggung CIIC 2025, Indonesia menunjukkan kepada dunia: anak muda bukan hanya penerus masa depan—mereka adalah pencipta masa depan. Dan menyebarluaskan kisah-kisah inspiratif seperti inilah yang menjadi fokus pemerintah, memastikan semangat inovasi hijau dari panggung ISF 2025 sampai ke seluruh penjuru negeri.