Jakarta, InfoPublik - Semilir angin pagi yang sejuk di kawasan Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (10/10/2025), terasa berbeda. Nuansa hijau mendominasi area penyelenggaraan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025, menggambarkan semangat baru Indonesia dalam mempercepat langkah menuju ekonomi hijau yang inklusif dan tangguh.
Begitu memasuki area utama, para peserta disambut pepohonan rindang dan instalasi bambu yang melengkung anggun. Filosofi bambu—lentur, kuat, dan adaptif—menjadi simbol arah pembangunan berkelanjutan Indonesia. "Saya pikir ini plastik, ternyata asli. Luar biasa desainnya," ujar Weni, salah satu peserta forum yang terkesan dengan atmosfer alami tersebut.
Ajang ISF 2025 berlangsung pada 10–11 Oktober 2025 dan diikuti oleh lebih dari 12.500 peserta dari 61 negara serta 187 jurnalis nasional dan internasional. Selama dua hari, forum menampilkan sesi pleno, diskusi tematik, dialog tingkat tinggi, pameran produk ekonomi hijau hingga science corner yang menampilkan inovasi riset dari universitas terkemuka seperti UI, ITB, IPB, ITS, dan UGM.
ISF kal ini menyoroti sepuluh isu utama pembangunan berkelanjutan. Mulai dari ketahanan pangan dan air, energi hijau, transportasi rendah emisi, hilirisasi industri mineral, hingga pengembangan sumber daya manusia dan lapangan kerja hijau di era kecerdasan buatan.
Melalui forum ini, Indonesia mendorong terbentuknya ekosistem investasi hijau dan biru (Investment Project Ready to Offer/IPRO), serta memperkuat kepercayaan investor terhadap kebijakan keberlanjutan yang berpijak pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Kolaborasi lintas sektor yang terbangun dalam forum ini diharapkan dapat mempercepat capaian target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Selama dua hari forum ini menghasilkan capaian konkret: 13 nota kesepahaman (MoU) dan tiga Letter of Intent (LoI) dengan nilai total Rp278,33 triliun (USD17,4 miliar). Capaian ini menjadi bukti bahwa ISF bukan sekadar wadah gagasan, melainkan ruang nyata bagi kolaborasi lintas sektor.
"Komitmen Rp278 triliun ini adalah hasil sinergi lintas sektor sejak hari pertama ISF. Ini bukan sekadar angka, tetapi arah baru pembangunan ekonomi yang lebih hijau dan tangguh," ujar Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Nurul Ichwan.
Berikut beberapa nota kesepahaman dan LoI yang ditandatangani di ISF 2025. Infrastructure Project Facilitation Office (IPFO) yang merupakan MoU antara Kemenko Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan, Asia Development Bank (ADB), dan Kemitraan Indonesia Australia untuk Infrastruktur (KIAT). Agenda kesepakatan ini adalah pembentukan kantor fasilitasi proyek infrastruktur strategis dengan dukungan teknis dan keuangan dari mitra internasional. Komitmen mendukung realisasi investasi infrastruktur senilai USD11 miliar.
Ada juga kesepakatan strategis Pupuk Indonesia dan ACWA Power untuk transformasi aset industri pupuk menuju operasional rendah karbon melalui teknologi energi bersih. Potensi nilai investasi hingga USD250 juta.
Mendorong Ekosistem Investasi Hijau
Adapun, pemerintah memproyeksikan potensi investasi hijau Indonesia mencapai USD3,8 triliun atau 4 persen dari PDB kumulatif nasional 2025–2050. Sektor swasta didorong menjadi penggerak utama. Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menegaskan, dunia usaha harus memimpin transisi menuju ekonomi hijau melalui empat bidang utama: transisi iklim, pembiayaan hijau, pasar karbon, dan pengembangan SDM hijau.
Salah satu proyek prioritas adalah program Waste to Energy yang akan dimulai November 2025 di 10 kota dan terbuka untuk 192 investor global. Potensi energi terbarukan nasional mencapai 3.700 GW, namun baru dimanfaatkan di bawah 1 persen.
Seiring dalam mencapai stabilitas ekonomi, pemerintah terus berupaya mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Salahsatunya dengan melakukan transisi energi untuk mencapai swasembada energi dan menuju net-zero emission di tahun 2060.
Sebagai penguatan transisi energi, pemerintah sudah menyusun peta jalan menuju net zero emission. Peta jalan itu mencakup lima pilar strategis, yaitu pengembangan energi terbarukan (biofuel), pengembangan energi baru (nuklir, hidrogen, amonia), elektrifikasi (kendaraan listrik, kompor listrik), efisiensi energi, serta Carbon Capture and Storage (CCS) dan reformasi teknologi energi.
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga dapat menjadi pusat pertumbuhan industri hijau berbasis teknologi ramah lingkungan. Investasi yang dibutuhkan untuk itu sangat besar, sementara ruang fiskal terbatas, sehingga perlu didorong keterlibatan swasta dan mitra global, seperti melalui Just Energy Transition Partnership (JETP) dan Asia Zero Emission Community (AZEC).
Dari Diskusi ke Aksi
Dalam pidato pembukaan ISF 2025, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono atau akrab disapa AHY itu, menegaskan pentingnya sinergi antara isu iklim dan pembangunan ekonomi. "Keduanya harus berjalan bersama, satu tidak boleh dikorbankan demi yang lain," tegasnya.
Menko AHY memaparkan strategi nasional mencakup tiga prioritas utama: pangan, air, dan energi. Pemerintah juga tengah memperkuat hilirisasi industri dan elektrifikasi transportasi. Hingga Agustus 2025, penjualan kendaraan listrik mencapai lebih dari 120 ribu unit atau 10 persen pangsa pasar nasional.
Untuk mendukung transisi energi, pemerintah menyiapkan peta jalan energi nasional (ERPU-PTL 2025–2034) dengan target 75 persen kapasitas baru berasal dari energi terbarukan. “Tujuan kita jelas: mendekarbonisasi tanpa deindustrialisasi,” tegas Menko IPK.
Sementara, Ketua Pelaksana ISF 2025 sekaligus Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah, Rachmat Kaimuddin, menyatakan forum ini memperkuat posisi Indonesia di kancah global.“ ISF 2025 memastikan bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan benar-benar menghasilkan langkah nyata,” ujarnya.
Adapun, Shinta W. Kamdani, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pembangunan Manusia, menambahkan bahwa investasi hijau membuka peluang luas bagi lapangan kerja dan pemberdayaan UMKM. "Transformasi hijau akan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas," kata pengusaha yang aktif pengembangan ekonomi hijau.
Kolaborasi Menuju Nol Emisi Karbon 2060
Forum yang dirintis sejak 2023 ini memperkuat komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission 2060 melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi. Model pembiayaan campuran (blended finance) serta kemitraan publik-swasta diharapkan mempercepat realisasi proyek hijau di seluruh wilayah.
Keberhasilan ISF 2025 menunjukkan bahwa transformasi menuju ekonomi hijau bukan sekadar wacana, tetapi telah beranjak menjadi agenda aksi yang nyata dan terukur. Dengan kolaborasi lintas sektor yang kuat, Indonesia menegaskan diri sebagai salah satu pelopor pembangunan berkelanjutan di kawasan.