Dari Tanah Leluhur, Padi dan Harapan Tumbuh
Foto: Humas Kementan
Foto: Humas Kementan
Jakarta, InfoPublik - Pagi itu, embun masih menggantung di ujung daun padi di Kampung Isano Mbias, Distrik Tanah Miring. Matahari perlahan naik, memantulkan cahaya ke hamparan sawah yang menguning, pemandangan yang dulu nyaris tak pernah dibayangkan oleh masyarakat adat setempat.
Di tanah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai wilayah berburu dan meramu, kini tumbuh padi yang siap dipanen, membawa harapan baru bagi kehidupan warga.
Di tengah hamparan itu berdiri Reinardus Ndiken, pemilik hak ulayat dari Marga Ndiken. Wajahnya tenang, sesekali tersenyum melihat petani memotong batang padi satu per satu. Bagi Reinardus, hari panen bukan sekadar perayaan hasil kerja keras. Ia adalah penanda perubahan besar, perubahan cara pandang, cara hidup, dan cara masyarakat adat memaknai tanah warisan leluhur mereka.
“Tanah ini sudah lama ada,” kata Reinardus pelan. “Sekarang kita belajar memberi nilai tambah supaya bisa menghidupi lebih banyak orang.”
Langkah Reinardus membuka lahan ulayat seluas 160 hektare untuk Program Cetak Sawah Tahun 2025 menjadikannya sosok penting dalam babak baru pertanian Merauke. Ia tercatat sebagai pemilik hak ulayat pertama yang secara aktif mengajukan lahannya masuk dalam program tersebut. Sebuah keputusan yang tidak lahir dalam semalam, melainkan melalui pertimbangan panjang—antara menjaga tradisi dan menjawab kebutuhan ekonomi masa kini.
Bagi masyarakat adat di Merauke, tanah bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah identitas, ruang hidup, dan warisan yang dijaga lintas generasi. Karena itu, mengalihfungsikan tanah ulayat menjadi sawah bukan perkara mudah. Ada diskusi panjang di dalam keluarga, musyawarah adat, serta perhitungan risiko yang matang.
Panen perdana di lahan Reinardus baru dilakukan di atas dua hektare. Setelah itu, panen kembali berlanjut di lima hektare berikutnya. Angka tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terasa besar. Ia menjadi bukti konkret bahwa masyarakat adat mampu beradaptasi dengan pertanian modern tanpa harus kehilangan jati diri.
“Kalau tidak kita mulai, kita tidak akan tahu hasilnya,” ujar Reinardus.
Kini, dari total 160 hektare lahan cetak sawah, sekitar 100 hektare telah digarap oleh petani lain yang tergabung dalam dua Brigade Pangan di Distrik Tanah Miring. Lahan-lahan ini mulai menjadi ruang belajar bersama—tentang cara menanam, mengatur air, hingga menghitung biaya produksi dan hasil panen.
Dukungan Pemerintah dan Arah Kebijakan
Transformasi yang terjadi di Kampung Isano Mbias tidak berdiri sendiri. Pemerintah daerah melihatnya sebagai bagian penting dari agenda besar pembangunan Merauke. Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, menegaskan bahwa apa yang dilakukan Reinardus sejalan dengan program Swasembada Pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo.
“Masyarakat asli dan saudara-saudara yang ada di Merauke hari ini adalah masyarakat Merauke. Sinergi dan asimilasi ini harus berjalan,” ujar Yoseph saat menghadiri kegiatan panen, Senin (26/02/2026).
Menurutnya, perubahan pola hidup dari berburu dan meramu menuju bercocok tanam bukan berarti meninggalkan budaya. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai proses adaptasi alami untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Dulu mungkin berburu dan meramu, sekarang mulai bergeser ke bercocok tanam, beternak, bahkan mencetak sawah agar ada nilai ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan,” katanya.
Yoseph menekankan, pemerintah daerah tidak ingin masyarakat adat hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Mereka harus menjadi pelaku utama pembangunan. Dari waktu ke waktu, ia melihat tanda-tanda positif—pendapatan meningkat, keterampilan bertambah, dan kepercayaan diri masyarakat lokal tumbuh.
Di balik keberhasilan panen, ada proses panjang pendampingan dan kolaborasi. Reinardus mengakui, tanpa dukungan banyak pihak, langkahnya membuka lahan cetak sawah tidak akan berjalan.
“Kita tidak jalan sendiri. Dinas pertanian, kelompok tani, penyuluh, Babinsa, semua saling mendukung," katanya.
Pendampingan ini menjadi krusial, terutama bagi petani yang baru pertama kali mengelola sawah. Mulai dari pengolahan lahan, penentuan waktu tanam, hingga pengendalian hama, semua menjadi proses belajar bersama.
Namun tantangan belum selesai. Reinardus berharap infrastruktur pendukung seperti jalan usaha tani dan pintu air terus diperkuat. Baginya, keberlanjutan pertanian tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga oleh akses dan efisiensi.
“Kalau jalan bagus dan air teratur, petani lebih semangat,” ujarnya. “Itu yang kita harapkan ke depan, supaya panen raya bisa terus dilakukan," tambahnya.
Petani sebagai Kunci Swasembada
Dari perspektif kebijakan, penguatan sumber daya manusia menjadi perhatian utama Satgas Swasembada Pangan Papua Selatan. PJ Ketua Satgas, Oeng Anwarudin, menegaskan bahwa keberlanjutan swasembada pangan tidak bisa hanya bertumpu pada perluasan lahan.
“Yang harus kita utamakan adalah petaninya,” katanya.
Menurut Oeng, pembentukan kelompok tani dan gabungan kelompok tani penting untuk mempermudah pendampingan, meningkatkan kapasitas petani, serta membuka akses ke pembiayaan formal seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kelembagaan pertanian, kata dia, harus dikolaborasikan dengan dinas teknis dan lembaga jasa keuangan.
Tantangan terbesar adalah keterbatasan jumlah penyuluh, terutama di wilayah pedalaman. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar pendampingan tetap berjalan.
Pendampingan di lapangan juga diperkuat oleh TNI melalui Babinsa. Komandan Kodim 1707/Merauke, Letkol CZI Dili Eko Setyawan, menegaskan komitmen TNI untuk mendukung petani, khususnya di lahan-lahan baru hasil cetak sawah.
“Tugas kami membantu pemerintah daerah melalui pendampingan,” ujarnya.
Pengetahuan Babinsa terus ditingkatkan melalui kerja sama dengan dinas pertanian, sehingga mereka bisa berbagi pengalaman langsung dengan petani yang baru belajar bertanam padi.
Bagi banyak petani, kehadiran Babinsa bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal kepercayaan dan rasa aman. Di lahan-lahan yang baru dibuka, pendampingan ini memberi keyakinan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
Menjaga Harga, Menjamin Serapan
Hasil panen yang meningkat tentu membutuhkan kepastian di sisi hilir. Di sinilah peran Perum Bulog menjadi penting. Pimpinan Cabang Bulog Merauke, Karennu, menegaskan bahwa Bulog menjalankan mandat strategis sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2016—menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga pangan.
Sepanjang 2025, Bulog Merauke berhasil menyerap setara beras sebanyak 22.200 ton dan gabah 186 ton. Capaian ini menjadi yang tertinggi dalam enam tahun terakhir Bulog Merauke di wilayah Papua Selatan. Untuk beras, peningkatan mencapai 141 persen, sementara gabah melonjak 156 persen.
Angka-angka tersebut sejalan dengan lonjakan produksi padi di Merauke. Pada periode Januari hingga Desember 2025, luas panen tercatat 78.955 hektare—naik 67,39 persen dibanding tahun sebelumnya. Produksi gabah kering panen meningkat dari 258.626 ton menjadi 426.828 ton, sementara produksi beras tumbuh lebih dari 65 persen.
Dengan total capaian cetak sawah yang telah menembus 40.000 hektare, Merauke kini menegaskan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan strategis di kawasan timur Indonesia. Namun di balik statistik dan target nasional, perubahan paling bermakna justru terjadi di tingkat kampung.
Program cetak sawah tidak hanya membuka lahan, tetapi juga membuka ruang transformasi ekonomi bagi masyarakat adat sebagai pemilik sah tanah ulayat. Kisah Reinardus Ndiken menunjukkan bahwa kebijakan nasional dapat berjalan efektif ketika bersentuhan langsung dengan kearifan lokal dan partisipasi masyarakat.
Di Kampung Isano Mbias, panen bukanlah akhir cerita. Ia adalah awal dari perjalanan panjang—perjalanan masyarakat adat Merauke dalam menata masa depan di atas tanah leluhur mereka sendiri. Saat padi dipanen dan gabah dikumpulkan, harapan pun ikut tumbuh: harapan akan kesejahteraan, kemandirian, dan peran yang lebih kuat dalam menjaga ketahanan pangan bangsa.
Dan di tengah hamparan sawah yang menguning itu, Reinardus Ndiken tahu, langkah kecil yang ia ambil hari ini akan menjadi jejak penting bagi generasi berikutnya.