Jakarta, InfoPublik – Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah diarahkan tidak berhenti pada pemeriksaan kesehatan siswa. Hasil pemeriksaan perlu ditindaklanjuti agar menjadi pintu masuk bagi pembiasaan hidup sehat sekaligus memastikan peserta didik berada dalam kondisi fisik dan psikologis yang lebih siap mengikuti pembelajaran.
Untuk memperkuat tindak lanjut tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong optimalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai penghubung antara satuan pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas yang menjadi pelaksana CKG.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menyampaikan hal tersebut saat meninjau pelaksanaan CKG Sekolah bersama Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono dan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan di SMP Negeri 5 Kota Bogor, Jawa Barat.
“Tadi saya sampaikan kepada Pak Wamenkes ini, bagaimana kita mengoptimalkan peran UKS. Karena UKS ini menjadi semacam jangkar di sekolah yang menghubungkan dengan Puskesmas,” ujar Fajar, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Senin (31/8/2026).
Menurut Fajar, UKS dapat menjadi titik koordinasi di sekolah untuk memastikan hasil CKG tidak berhenti sebagai data pemeriksaan. Sekolah perlu memiliki penanggung jawab yang dapat menghubungkan hasil pemeriksaan dengan tindak lanjut bersama puskesmas, orang tua, dan pihak terkait lainnya. “Pengoptimalan UKS ini bisa memastikan pelaksanaan CKG bisa berjalan dengan baik karena di sekolah perlu ada PIC-nya (Person in Charge),” katanya.
Fajar menilai kesehatan peserta didik memiliki kaitan langsung dengan kesiapan mereka mengikuti proses pembelajaran. Karena itu, CKG tidak semata-mata menjadi program kesehatan, tetapi juga bagian dari ekosistem pendidikan. “CKG itu akan menunjang readiness, tingkat kesiapan anak-anak kita mengikuti proses pembelajaran. Jadi, itu juga berkorelasi langsung dengan motivasi belajar,” ujar Fajar.
Pada 2026, pelaksanaan CKG memang diarahkan lebih jauh, yakni tidak hanya menemukan kondisi kesehatan peserta didik, tetapi juga memastikan adanya tata laksana dan penanganan terhadap hasil pemeriksaan.
Khusus anak usia sekolah dan remaja, pemeriksaan dilakukan melalui CKG Sekolah sehingga layanan kesehatan dapat terintegrasi dengan lingkungan pendidikan. Pendekatan ini sekaligus membuka ruang untuk membangun perilaku hidup sehat sejak dini.
Praktik tersebut terlihat di SMP Negeri 5 Kota Bogor. Sekolah yang pernah meraih Juara I Lomba Sekolah Sehat tingkat Provinsi Jawa Barat itu telah membangun berbagai kebiasaan sehat yang terintegrasi dengan aktivitas siswa.
Program seperti Segar (Senam Bugar), Markisa (Mari Kita Sarapan), dan Cermin Sehatku membiasakan siswa berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi sesuai prinsip Isi Piringku, serta mengenali pertumbuhan dan kondisi tubuhnya.
“Banyak banget manfaatnya. Alhamdulillah karena kita bekerja sama. Yang susah itu ya konsistennya, konsisten dari kita sebagai guru dan anak-anak,” ujar Rahmalia, Guru IPS sekaligus Koordinator Duta SMP Negeri 5 Kota Bogor.
Sekolah juga melibatkan orang tua dan puskesmas dalam menindaklanjuti peserta didik yang membutuhkan perhatian lebih berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan.
Budaya sehat di sekolah tersebut tidak hanya bertumpu pada guru. Sebanyak 18 Duta Siswa dilibatkan dalam berbagai peran, mulai dari Duta Cegah Stunting, Duta Kesehatan, Duta Remako (Remaja Antirokok), Duta Antiperundungan, Duta Sekolah Ramah Anak, hingga pendampingan teman sebaya.
Model tersebut membuat pesan kesehatan lebih dekat dengan keseharian siswa. Anak tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi ikut menjadi penggerak kebiasaan sehat di lingkungan sekolah.
Praktik ini juga sejalan dengan semangat Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026. “Berkesinambungan banget dari Kemenkes, Kemendikdasmen. Betul. Pas banget, luar biasa program-programnya,” kata Rahmalia.
Dari sisi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dante menegaskan kolaborasi lintas kementerian dibangun agar CKG memberikan dampak yang lebih konkret bagi peserta didik. “Koordinasi ini, kolaborasi ini, akan memberikan dampak bahwa CKG tidak hanya diperiksa kesehatannya, tetapi kemudian hasilnya diimplementasikan dalam bentuk program bersama di antara lintas kementerian,” ujar Dante.
Artinya, hasil pemeriksaan menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Ketika ditemukan persoalan kesehatan, sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan dapat mengambil peran sesuai kewenangannya.
Wamen PPPA Veronica Tan juga melihat CKG sebagai momentum untuk mengubah kebiasaan, bukan sekadar mengidentifikasi masalah kesehatan. “CKG ini saya selalu katakan itu sebenarnya program untuk entry point. Tapi apa sih mindset yang kita harus ubah? Adalah pola hidup sehatnya,” ujar Veronica.
Pendekatan tersebut membuat pemeriksaan kesehatan menjadi bagian dari proses yang lebih panjang, yakni membangun kesadaran anak dan keluarga mengenai pentingnya menjaga kesehatan sebelum muncul persoalan yang lebih serius.
Manfaat pemeriksaan juga dirasakan langsung peserta didik. Rafiandi, siswa kelas IX SMP Negeri 5 Kota Bogor, mengatakan CKG membuat siswa lebih memahami kondisi tubuhnya dan mengetahui langkah yang dapat dilakukan untuk menjaganya. “Menumbuhkan semangat belajar. Jadi, kita bisa mengetahui kondisi diri kita untuk bisa lebih fokus belajar ke depannya,” kata Rafiandi.
Ia mencontohkan, hasil pemeriksaan dapat menjadi informasi bagi siswa untuk lebih memperhatikan kebutuhan gizi dan menerapkan prinsip Isi Piringku.
Rafiandi berharap CKG dapat terus dilaksanakan di sekolah-sekolah karena pemeriksaan kesehatan membantu siswa mempersiapkan diri untuk belajar sekaligus membangun kebiasaan sehat sejak usia sekolah.
Bagi Kemendikdasmen, keterkaitan antara kesehatan dan pendidikan menjadi semakin penting dalam upaya membangun sumber daya manusia berkualitas. Anak yang sehat memiliki modal lebih baik untuk hadir, berkonsentrasi, dan berpartisipasi dalam pembelajaran.
“Kalau kita bicara pendidikan yang berkualitas, bukan hanya proses pembelajarannya, tapi kesiapan anak kita untuk mengikuti proses pembelajaran. Nah, CKG punya peran besar di situ. Memastikan kesiapan anak-anak kita mengikuti proses pembelajaran dengan baik,” ujar Fajar.
Karena itu, penguatan UKS diharapkan membuat CKG tidak berhenti sebagai kegiatan pemeriksaan sesaat. Hasilnya dapat menjadi pijakan bagi sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan untuk membangun lingkungan yang mendukung anak agar sehat, aman, nyaman, dan siap belajar.