Jakarta, InfoPublik - Panjangnya rantai distribusi hasil perikanan selama ini membuat nilai jual hasil tangkapan nelayan belum optimal. Keterbatasan fasilitas penyimpanan dan akses pasar juga menyebabkan nelayan belum memperoleh nilai ekonomi yang maksimal meskipun Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menghadirkan Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sebagai salah satu dari delapan klaster Program Kerja Prioritas Nasional Presiden.
Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (5/8/2026), Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan mengatakan, KNMP dirancang untuk meningkatkan Nilai Tukar Nelayan dengan memperpendek rantai distribusi hasil perikanan sehingga nelayan memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil tangkapannya.
KNMP tidak hanya menghadirkan infrastruktur kawasan pesisir, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang menghubungkan nelayan dengan pasar secara lebih efisien melalui dukungan cold chain, sarana logistik, dan berbagai unit usaha perikanan.
Secara nasional, pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 KNMP hingga 2029, dengan 1.369 kawasan ditargetkan terbangun hingga 2026. Saat ini, pembangunan tahap pertama telah rampung 100 persen di 65 lokasi pada 25 provinsi, sementara 35 lokasi tahap kedua ditargetkan selesai bertahap pada Agustus 2026. Selain itu, 1.269 lokasi telah selesai diverifikasi untuk memastikan pembangunan kawasan tepat sasaran dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah terbangun 4 KNMP, yakni di Manggarai Barat, Flores Timur, Alor, dan Kupang, yang siap dioperasionalkan. Salah satunya berada di Desa Warloka, Kabupaten Manggarai Barat, yang dikembangkan sebagai pusat aktivitas ekonomi pesisir terpadu mulai dari penanganan hasil tangkapan, penyimpanan, distribusi, hingga peningkatan nilai tambah produk perikanan.
KNMP Warloka didukung 263 nelayan aktif dan 178 unit armada kapal dengan komoditas unggulan ikan tongkol, tembang, dan layang. Kawasan ini diproyeksikan menghasilkan 1.038 ton per tahun, dengan potensi peningkatan pendapatan nelayan pascaoperasional KNMP sekitar Rp3,5 juta per orang per bulan. Untuk mendukung distribusi yang lebih efisien dan menjaga mutu hasil tangkapan, kawasan ini dilengkapi 1 unit portable cold storage, 1 unit pabrik es, 1 unit mobil berpendingin, serta 50 unit cool box.
Menko Pangan mengatakan "Kebijakan presiden yang utama kita harus swasembada, nilai tukar nelayan kita diangka 103, sampai dengan 2027 kita proyeksikan nilai tukarnya meningkat menjadi 120".
Keberadaan KNMP Warloka diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang nyata. Berdasarkan analisis kelayakan usaha, kawasan ini berpotensi membukukan omzet Rp6,97 miliar per tahun dengan laba bersih Rp677,77 juta per tahun dari sepuluh unit usaha. Kontributor omzet terbesar berasal dari unit cold storage sebesar Rp4,32 miliar, kios perbekalan Rp2 miliar, dan pabrik es Rp288 juta per tahun.
Melalui sistem distribusi yang lebih efisien, kualitas hasil tangkapan dapat terjaga, akses pasar semakin luas, nilai tambah produk meningkat, dan pada akhirnya kesejahteraan nelayan serta ekonomi masyarakat pesisir diharapkan tumbuh secara berkelanjutan.