Kota Gorontalo, InfoPublik – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain, menegaskan pentingnya mengubah paradigma lama dalam memanfaatkan sumber daya alam.
"Kalau kita ingat narasi pembangunan berkelanjutan, itu lahir dari fakta di mana pada masa lalu paradigma 'red economy' dimana orang berlomba-lomba mengeksploitasi sumber daya alam. Ambil, keruk, ekstrak, dan akibatnya alam dalam kondisi rusak," kata Aryanto Husain pada kegiatan Penjangkauan Masyarakat untuk Penguatan Pengelolaan Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Teluk Gorontalo, Kamis (29/10/2026).
Aryanto yang menyelesaikan S3nya di bidang pengelolaan SDA dan lingkungan di IPB menegaskan, paradigma tersebut kini telah bergeser menuju green economy dan blue economy yang merupakan instrumen pembangunan berkelanjutan.
Di tengah pesatnya dinamika pembangunan modern, laut seringkali dipandang tanpa batas sebagai ruang eksploitasi tanpa akhir. Padahal, masa depan generasi penerus sangat bergantung pada bagaimana kita merawat ekosistem laut hari ini.
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak melalui program Oceans for Prosperity Project – LAUTRA ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan penting. Mulai dari jajaran pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, pengelola wisata selam, hingga Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (Kompak) dan Pokmaswas.
"Ini seperti 'rem' dan 'gas'. Kita semangat sekali mengeksploitasi sampai merusak lingkungan. Maka konservasi itu menjadi remnya," tegasnya.
Melalui zonasi kawasan konservasi perairan yang terbagi menjadi zona inti, zona pemanfaatan, dan zona lainnya, pemerintah bersama masyarakat berupaya memastikan pemanfaatan kekayaan laut tetap berada dalam koridor keberlanjutan. Dia juga mengingatkan bahwa laut adalah common property (kepemilikan bersama) yang hak penggunaannya melekat pada seluruh masyarakat, termasuk anak cucu di masa depan.
"Anak cucu kita nanti akan makan ikan dan beras. Bayangkan kalau tempat hidup beras dan ikan sudah rusak, apa yang akan mereka makan di masa depan? Harapan itu ada pada kesadaran kita bersama untuk menjaga," tambahnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan berbagai sesi pemaparan materi mulai dari hasil pengelolaan kawasan konservasi perairan Teluk Gorontalo, pentingnya kemitraan, pengawasan dan penegakan hukum bersama Polairud dan PSDKP, kontribusi perguruan tinggi (Universitas Negeri Gorontalo), hingga perumusan rencana aksi bersama.
Melalui penguatan regulasi, kolaborasi lintas sektor, serta peningkatan kesadaran hukum dan lingkungan, Teluk Gorontalo diharapkan tetap lestari dan menjadi salah satu pilar penting menyangga program Agromaritim Gorontalo.
"Saya berharap apa yang kita lakukan hari ini berkontribusi terhadap Agromaritim yang sejak awal sudah dicanangkan Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo," tutupnya. (mcgorontaloprov/yanto)