Mayangan, InfoPublik — Perluasan pasar mangga perlu didukung kepastian harga, kualitas pasokan, dan fasilitas penyimpanan. Kebutuhan tersebut mengemuka dalam National Mango Forum di Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, Kamis (29/10/2026) malam.
Forum yang menjadi bagian dari Mango Carnival of Indonesia 2026 itu mempertemukan sekitar 125 undangan dari unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, eksportir, asosiasi, dan petani untuk membahas pengembangan mangga dari budi daya hingga pemasaran.
Dalam sesi diskusi, perwakilan petani menyatakan kesiapan memasok ratusan kuintal mangga berkualitas untuk pasar Surabaya maupun ekspor. Namun, mereka meminta skema harga yang rasional dan menguntungkan produsen.
Petani juga menyoroti fasilitas ruang pendingin yang disebut tidak beroperasi sejak 2002. Fasilitas tersebut dinilai diperlukan untuk menjaga kesegaran buah selama distribusi, terutama pada pengiriman jarak jauh.
Wakil Wali Kota Probolinggo, Ina Dwi Lestari, mengatakan potensi mangga lokal perlu didukung peningkatan kualitas, strategi pemasaran, dan perluasan akses pasar. Tantangan produksi, termasuk kerusakan tanaman akibat angin musiman, juga memerlukan penanganan bersama.
“Selain peluang pengembangan pasar, berbagai tantangan yang dihadapi petani juga menjadi perhatian, termasuk angin musiman yang kerap merusak tanaman dan memengaruhi hasil panen. Melalui forum ini, pemerintah daerah berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara petani, ahli, pemerintah, dan pelaku usaha untuk mencari solusi konkret dalam meningkatkan produktivitas, kualitas, serta daya saing mangga Probolinggo,” urainya.
Diskusi menghadirkan Freddy dari Direktorat Hilirisasi Hasil Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, yang menyampaikan paparan secara virtual. Ia membahas peningkatan nilai tambah melalui inovasi, teknologi pengolahan, dan diversifikasi produk agar mangga tidak hanya dipasarkan sebagai buah segar.
Narasumber berikutnya, Novi Hutami dari Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, membahas jejaring bisnis serta peluang pasar ekspor ke Timur Tengah dan Eropa. Konsistensi kualitas dan ketersediaan pasokan menjadi perhatian untuk memenuhi kebutuhan pasar tujuan.
Sementara itu, Farihul Ihsan dari Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memaparkan pengembangan budi daya untuk meningkatkan keuntungan dan menjaga kesinambungan produksi.
Ketiga paparan menekankan inovasi budi daya, penguatan jejaring perdagangan, dan pemanfaatan teknologi pengolahan. Selain diskusi dan tanya jawab, kegiatan dilengkapi penjajakan kemitraan usaha atau business matching bersama asosiasi terkait.
Pemkot Probolinggo berharap forum tersebut menghasilkan kerja sama berkelanjutan untuk mengatasi kendala produksi dan distribusi serta memperluas pemasaran mangga lokal. (dy/fa)