Batang, InfoPublik - Akses pelayanan medis yang cepat dan memadai masih menjadi tantangan nyata bagi warga Kabupaten Batang. Dengan populasi menembus angka 800 ribu jiwa, daerah ini harus berpacu dengan waktu untuk menutup jurang kekurangan ratusan tempat tidur rumah sakit, terutama bagi warga di wilayah dataran tinggi selatan.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Tahun 2025 mencatat fasilitas rumah sakit yang tersedia saat ini baru mengoperasikan 514 unit tempat tidur. Mengacu pada standar rasio minimal satu tempat tidur per 1.000 penduduk, Batang idealnya memiliki sedikitnya 800 unit tempat tidur. Artinya, daerah ini masih mengalami defisit sekitar 300 unit.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Ida Susilaksmi menekankan, pentingnya pemenuhan rasio dasar tersebut.
“Kalau yang itu kan 1.000 penduduk satu bed. Tapi kalau lebih, misalnya bisa 1.000 penduduk dua bed, itu tentu lebih bagus juga. Paling tidak, satu tempat tidur untuk 1.000 penduduk,” katanya saat ditemui di Kantornya, Selasa (20/10/2026).
Penghitungan tersebut sejauh ini baru memperhitungkan kapasitas tempat tidur rumah sakit yang sudah aktif beroperasi, belum mencakup proyeksi penambahan dari fasilitas baru yang akan berdiri.
“Di luar masalah kapasitas, tantangan lain yang tak kalah krusial adalah ketimpangan akses geografis. Masyarakat di kawasan Batang bagian selatan seperti Kecamatan Reban, Bawang, dan Blado harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju kawasan perkotaan atau wilayah tetangga untuk bisa mendapatkan perawatan medis. Untuk Bawang, Blado, itu untuk mendapatkan akses rumah sakitnya kan jauh, ke Limpung atau ke Batang. Maka butuh satu rumah sakit untuk daerah atas,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Batang kini menggalang dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi guna merealisasikan pembangunan rumah sakit di kawasan selatan. Bupati Batang M. Faiz Kurniawan bahkan menyuarakan langsung aspirasi ini dalam momentum kunjungan kerja Wakil Presiden.
“Pada saat kunjungan Wapres, Pak Bupati sekalian menyampaikan ke Pak Wapres. Beliau juga menyambut positif. Terus saya dan Pak Bupati juga menyampaikan ke Pak Kadinkes Provinsi, beliau juga menyambut positif,” ungkapnya.
Kendati telah mengantongi lampu hijau dan respon hangat dari pejabat berwenang, kepastian eksekusi proyek masih harus melewati sejumlah tahapan administratif dan teknis. Tantangan paling mendesak saat ini berpusat pada perburuan lahan yang tepat.
“Kalau untuk pastinya nanti bagaimana, kami belum tahu. Makanya ini masih berupaya untuk mencarikan lahannya dulu. Upaya pencarian lokasi pun tidak sepenuhnya mulus. Beberapa lokasi strategis yang sempat masuk radar ternyata berbenturan dengan tata ruang kawasan. Ada yang pas, tapi ternyata lahan hijau. Ada yang masih belum ketemu,” terangnya.
Mengenai luasan lokasi, Pemkab Batang menargetkan area minimal satu hektare demi keleluasaan pengembangan jangka panjang. Namun, opsi pembangunan vertikal tetap terbuka jika ketersediaan lahan terbatas.
“Paling tidak satu hektare, lebih bagus lagi kalau 1,5 hektare atau lebih. Jadi untuk pengembangan ke depannya lebih gampang,” ujar dia.
Proses pengajuan resmi kini tengah bergulir seiring langkah Pemkab Batang mematangkan perencanaan lahan, penentuan tipe rumah sakit, hingga skema pembiayaan. Realisasi rumah sakit di wilayah selatan ini menjadi tumpuan besar agar pemenuhan hak atas pelayanan medis di Kabupaten Batang tak sekadar menjadi wacana di atas kertas. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)