Riau Mulai Beralih ke Musim Hujan, BMKG Ingatkan Curah Hujan Tinggi
Istimewa
Istimewa
Pekanbaru, InfoPublik — Provinsi Riau mulai memasuki fase peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan, dengan puncak musim hujan diprakirakan terjadi pada November hingga Desember 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono, mengatakan periode musim hujan kali ini diprakirakan relatif singkat, tetapi memiliki curah hujan tinggi sehingga potensi cuaca ekstrem dan banjir perlu diwaspadai.
Hal tersebut disampaikannya setelah membahas prakiraan musim hujan, potensi cuaca ekstrem, serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bersama Pelaksana Tugas Gubernur Riau di Kantor Gubernur, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Rabu (23/9/2026).
“Ya, tadi kita sudah bertemu dengan Pak Plt Gubernur Riau terkait dengan prakiraan musim penghujan. Ada beberapa poin penting terkait masa peralihan musim, potensi cuaca ekstrem, dan strategi penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Riau. Saat ini, wilayah Riau sedang berada dalam fase peralihan ke musim penghujan,” ujar Warjono.
Menurut Warjono, sejumlah wilayah Riau bagian utara telah lebih dahulu memasuki musim hujan. Pergeseran musim kemudian diprakirakan berlanjut ke wilayah bagian selatan pada bulan berikutnya.
“Sebagian wilayah utara seperti Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan sebagian Bengkalis sudah mulai memasuki musim hujan. Pada bulan depan, curah hujan akan bergeser ke wilayah selatan, meliputi Kampar, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir,” jelasnya.
BMKG memprakirakan puncak musim hujan di Riau berlangsung pada November hingga Desember.
“Puncak musim penghujan diprediksi akan terjadi pada bulan November hingga Desember. Musim penghujan kali ini berdurasi cukup singkat, namun memiliki volume curah hujan yang sangat tinggi,” terangnya.
Warjono menggambarkan kondisi tersebut seperti volume hujan selama enam bulan yang turun dalam periode sekitar empat bulan.
“Diibaratkan seperti hujan enam bulan yang harus turun dalam waktu empat bulan, sehingga intensitasnya akan sangat deras dalam waktu singkat,” ungkapnya.
Menurut BMKG, curah hujan tinggi dalam waktu relatif singkat dapat meningkatkan potensi cuaca ekstrem dan banjir di sejumlah wilayah. Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan selama masa peralihan hingga puncak musim hujan.
Meski demikian, masuknya musim hujan tidak serta-merta menghilangkan potensi karhutla. Warjono mengatakan masih dapat terjadi periode dengan curah hujan rendah yang membuat kondisi lahan kembali kering.
“Jadi ada dua hal yang perlu kita waspadai. Di musim hujan masih ada potensi karhutla, sementara di sisi lain kita juga mulai beralih kepada kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem,” tegasnya.
© Copyright 2026, All Rights Reserved