BUMDes Candi Negoro Kembangkan Wisata Petik Melon Berbasis Smart Farming
Istimewa
Istimewa
Sidoarjo, InfoPublik – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gapura Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, mengembangkan wisata edukasi petik melon hidroponik berbasis smart farming untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi desa.
Wisata tersebut dikembangkan di dalam greenhouse seluas 400 meter persegi dengan 1.030 tanaman melon varietas Intanon dan Sakata yang dibudidayakan secara intensif oleh pemuda desa.
Bupati Sidoarjo, Subandi, mengapresiasi inovasi tersebut karena dinilai dapat menjadi contoh pemanfaatan potensi lokal melalui BUMDes.
"Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen melakukan pengawalan dan siap mengucurkan bantuan bagi perkembangan BUMDes. Sebab, setiap desa di Sidoarjo memiliki keunikan dan potensi ekonomi yang berbeda-beda," ujar Subandi saat peresmian wisata petik melon di Desa Candi Negoro, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, pengembangan potensi lokal seperti budidaya cabai, sayuran, perikanan, hingga kuliner perlu terus didorong agar desa mampu menciptakan sumber ekonomi secara mandiri.
Subandi juga meninjau kawasan greenhouse, memetik, dan mencicipi melon varietas Intanon yang dibudidayakan BUMDes.
"Rasanya manis banget, beda dan lebih lezat dari melon pada umumnya," katanya.
Menurut Subandi, penggunaan greenhouse dapat membantu petani mengurangi risiko yang muncul akibat perubahan cuaca karena suhu, kelembapan, dan kondisi tanaman dapat dikendalikan lebih baik dibandingkan budidaya di lahan terbuka.
"Kalau di sawah pas hujan sering gagal. Di sini lebih aman. Sekali tanam butuh waktu 70 hari untuk panen. Pendapatannya juga bagus, sekali panen bisa sampai Rp35 juta lebih. Desa-desa lain yang punya lahan kosong harus meniru langkah inovatif BUMDes ini," ujarnya.
Ketua BUMDes Gapura Candi Negoro, Ahmad Wildani Arifana, mengatakan melon dipilih karena menjadi salah satu buah yang banyak diminati masyarakat serta memiliki nilai ekonomi.
Dalam pengelolaannya, BUMDes menerapkan metode smart farming yang terintegrasi dengan sistem hidroponik.
Teknologi tersebut digunakan untuk memantau sejumlah parameter tanaman, mulai dari kondisi perakaran, pertumbuhan batang, pembentukan buah, suhu, tingkat keasaman atau pH air, hingga kecukupan nutrisi.
"Melalui sistem ini, pengelola tidak perlu lagi mengecek kondisi fisik tanaman secara manual setiap pagi dan sore. Pemantauan parameter krusial seperti suhu, pH air, dan kecukupan nutrisi dapat terpantau efisien melalui layar monitor," jelas Wildani.
Menurutnya, sistem tersebut membantu pengelola melakukan pengawasan tanaman secara lebih efisien sekaligus menjaga kualitas hasil panen.
Melon hidroponik hasil budidaya BUMDes dipasarkan melalui konsep wisata edukasi petik langsung dengan harga Rp30.000 per kilogram (kg).
Hasil panen diperkirakan mencapai sekitar 1,5 ton, dengan bobot setiap buah berkisar 1,2 hingga 2,6 kg.
Selain menjadi tempat pemasaran hasil pertanian, wisata petik melon tersebut dirancang sebagai sarana edukasi bagi pengunjung untuk mengenal penerapan pertanian modern dan hidroponik.
Pemkab Sidoarjo berharap inovasi BUMDes Gapura dapat mendorong desa-desa lain mengembangkan potensi lokal sesuai karakteristik wilayah masing-masing untuk memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat.
(yu/mas)
© Copyright 2026, All Rights Reserved