Ajang PYDC 2026 Dorong Desainer Muda Angkat Warisan Minangkabau
Padang, InfoPublik – Regenerasi menjadi kunci agar warisan fesyen dan kerajinan Minangkabau tidak berhenti sebagai kekayaan budaya, tetapi terus berkembang menjadi karya kreatif bernilai ekonomi dan mampu menembus pasar global.
Semangat itu mengemuka dalam Grand Final Padang Young Designer Competition (PYDC) 2026 yang dibuka Ketua Umum Dekranasda Kota Padang Dian Puspita Fadly Amran di Hotel ZHM Padang, Senin (10/8/2026). Ajang tersebut menjadi bagian dari rangkaian Padang Fashion Summit (PFS) 2026.
Mengusung tema “Manaruko Rupo, From Minangkabau Heritage to Global Elegance”, PFS 2026 tidak sekadar menampilkan karya fesyen. Ajang ini diarahkan menjadi ruang pertemuan antara kreativitas desainer muda, kekayaan budaya Minangkabau, perajin, pelaku usaha, hingga pasar yang lebih luas.
Sebanyak 76 peserta terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut. PFS 2026 juga menghadirkan desainer dari mancanegara, di antaranya Malaysia dan Australia, sehingga membuka ruang pertukaran gagasan sekaligus memperkenalkan potensi fesyen berbasis budaya Minangkabau ke jejaring internasional.
Dian Puspita mengatakan keberadaan desainer muda menjadi bagian penting dalam memastikan warisan budaya tetap relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kekayaan motif, teknik, dan kerajinan tradisional membutuhkan kreativitas generasi baru agar dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki daya saing sekaligus tetap berakar pada identitas daerah.
“PFS tempat bertemunya peluang usaha, perajin, dan warisan budaya. Tempat karya lokal menemui pasarnya. Terpenting, PFS adalah regenerasi, kita harus menyiapkan regenerasi,” ujar Dian.
Karena itu, PYDC tidak hanya ditempatkan sebagai kompetisi untuk mencari pemenang. Lebih jauh, ajang tersebut menjadi ruang bagi talenta muda untuk mengasah kreativitas, mengenali kekayaan budaya daerah, serta belajar mengolahnya menjadi karya yang memiliki nilai estetika dan ekonomi.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang agar rantai industri kreatif daerah semakin kuat, mulai dari perajin sebagai penghasil bahan dan karya tradisional, desainer sebagai pengembang gagasan, hingga pasar sebagai ruang hilirisasi produk.
Ketua Dekranasda Provinsi Sumatra Barat Harneli Mahyeldi yang turut hadir memberikan apresiasi terhadap upaya menjadikan desainer muda sebagai penggerak pengembangan kerajinan daerah.
Ia menilai berbagai produk kerajinan Minangkabau memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi apabila dipadukan dengan kreativitas dan kemampuan desain yang tepat. Salah satunya adalah sulam banang ameh yang telah memiliki daya tarik di pasar nasional maupun internasional.
“Sesuatu yang luar biasa ini ketika diolah oleh desainer akan menjadi luar biasa. Ajang ini menumbuhkan desainer baru yang akan mengolah hasil kerajinan yang lebih berharga, karena kita harus melestarikan dan memperjuangkan kerajinan Minangkabau secara berkelanjutan,” tutur Harneli.
Pengembangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kreatif. Warisan budaya tidak hanya dipertahankan bentuk dan maknanya, tetapi dapat diolah menjadi produk baru yang sesuai dengan kebutuhan dan selera pasar tanpa kehilangan identitas asalnya.
Melalui PFS 2026, Pemerintah Kota Padang bersama Dekranasda mendorong terbentuknya ekosistem yang mempertemukan talenta muda, perajin, pelaku industri, dan pasar. Dari ruang itulah karya berbasis warisan Minangkabau diharapkan dapat tumbuh dari Padang menuju pasar yang lebih luas.
Pembukaan kegiatan turut dihadiri Ketua DWP Kota Padang Nova Raju, Ketua Harian Dekranasda Kota Padang Ferry Evriyan Rinaldy, jajaran pengurus Dekranasda Kota Padang, serta sejumlah kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kota Padang.
(Charlie/Dfr)
uploader by Ju
© Copyright 2026, All Rights Reserved