- Oleh MC KOTA TIDORE
- Jumat, 24 Januari 2025 | 00:36 WIB
© 2023 - Portal Berita InfoPublik.
: Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, dalam keterangannya pada Rabu (19/2/2025), menjelaskan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban, yang selama ini menangani laporan warga terkait keberadaan ular, telah mengumpulkan puluhan ekor ular sanca dari berbagai lokasi. -Foto: Mc.Jatim
Oleh MC PROV JAWA TIMUR, Rabu, 19 Februari 2025 | 17:28 WIB - Redaktur: Eka Yonavilbia - 165
Surabaya, InfoPublik – Fenomena pancaroba di akhir dan awal tahun meningkatkan interaksi antara manusia dan satwa liar. Perubahan musim, ketersediaan makanan yang melimpah, serta perilaku migrasi alami menjadi faktor utama keluarnya ular dari habitat aslinya.
Hal ini terjadi di Kabupaten Tuban pada akhir tahun 2024 hingga awal 2025, puluhan Ular Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) berkeliaran di berbagai lokasi permukiman, memicu kekhawatiran warga.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, dalam keterangannya pada Rabu (19/2/2025), menjelaskan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban, yang selama ini menangani laporan warga terkait keberadaan ular, telah mengumpulkan puluhan ekor ular sanca dari berbagai lokasi.
Ular-ular tersebut bukan hanya pengganggu yang bisa dipindahkan sembarangan. Sebagai predator alami yang mengendalikan populasi hewan pengerat, ular memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Untuk itu, upaya penyelamatan dan relokasi harus dilakukan dengan hati-hati oleh pihak yang berwenang.
Pada tanggal 18 Februari 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), melalui Seksi KSDA Wilayah (SKW) II Bojonegoro dan Wildlife Rescue Unit (WRU), melakukan evakuasi besar-besaran. Sebanyak 51 ekor ular sanca yang sebelumnya ditempatkan di kandang transit Dinas Pemadam Kebakaran Tuban, diangkut ke fasilitas rehabilitasi WRU BBKSDA Jatim untuk pemeriksaan kesehatan dan persiapan pelepasliaran ke habitat yang lebih aman.
Namun, ular bukan satu-satunya satwa yang menimbulkan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. Dua ekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) juga diselamatkan. Primata ini sering kali terpaksa masuk ke pemukiman akibat semakin menyusutnya habitat mereka, yang berujung pada interaksi yang tidak diinginkan dengan manusia.
Kadang, monyet juga menjadi korban manusia yang memelihara mereka sebagai hewan peliharaan ketika masih kecil dan imut, namun saat dewasa dan menunjukkan sifat liar, mereka dibiarkan begitu saja di pemukiman, menimbulkan masalah bagi warga.
Kini, kedua monyet tersebut telah diserahkan kepada WRU BBKSDA Jatim untuk mendapatkan perawatan dan rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke alam.
Fenomena kemunculan ular di akhir dan awal tahun bukanlah kebetulan. Perubahan musim dari kemarau ke hujan atau sebaliknya memaksa ular mencari tempat yang lebih kering. Sementara itu, melimpahnya populasi mangsa seperti tikus dan burung membuat ular lebih aktif berburu. Beberapa spesies juga melakukan migrasi untuk mencari habitat yang lebih sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Faktor-faktor seperti suhu, kelembaban, dan ketersediaan udara turut mempengaruhi perilaku mereka.
Penyelamatan satwa ini bukan hanya sekadar memindahkan mereka dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi konflik manusia-satwa. Keberhasilan ini membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, manusia dan satwa liar bisa hidup berdampingan tanpa saling mengancam.
Konservasi bukan hanya soal melindungi spesies langka, tetapi juga tentang memahami dan menghormati kehidupan makhluk lain yang berbagi ruang dengan kita. (MC Prov Jatim /hjr-jal/eyv)