Banda Aceh, InfoPublik - Aktivitas masyarakat menghasilkan jumlah sampah semakin banyak dan sulit ditangani hingga saat ini. Masyarakat didalam pengolahannya terhadap sampah masih tergolong dengan cara yang kurang tepat.
"Banyak masyarakat yang tidak tertarik untuk memanfaatkan sampah, sehingga sampah semakin menumpuk dan sangat berdampak pada lingkungan kita."ujar Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, drg. Rizki Permatasari, Rabu (25/10/2023)..
Menurutnya, menciptakan lingkungan yang sehat dapat dimulai dengan melakukan pengolahan sampah. Pengolahan sampah berguna untuk mencegah terjadinya polusi atau pencemaran lingkungan akibat sampah yang terbengkalai.
Rizki menyarankan bahwa langkah paling sederhana namun sangat besar dampaknya terhadap lingkungan dalam pengolahan sampah adalah dengan konsep 3R yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang).
Dengan konsep ini juga masyarakat akan lebih mudah memilah sampah dan mengelompokkannya, sehingga dapat membantu menentukan metode pengolahan sampah menjadi sesuatu yang lebih berguna.
Secara umum, jenis-jenis sampah dibedakan menjadi dua yaitu sampah organik atau disebut dengan sampah basah, dan sampah anorganik atau disebut dengan sampah kering.
Sampah organik berasal dari makhluk hidup, antara lain seperti daun, ranting, sampah dapur termasuk sisa makanan dan lain sebagainya. Sedangkan sampah anorganik antara lain adalah plastik, kertas, kaleng, botol, besi, aneka logam.
Penyumbang sampah terbanyak di Indonesia menurut data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional adalah dari jenis sampah organik yaitu sisa makanan sebanyak 40,7% yang bersumber dari rumah tangga yaitu sebesar 38,4% pada tahun 2022.
Sampah organik dari hasil rumah tangga memang dapat terdegradasi dan hancur secara alami. Namun jika masyarakat bisa melakukan pengolahan sampah dengan baik, hal ini bisa menjadi manfaat yang baik untuk masyarakat dan lingkungan.
Sampah tidak selalu menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan lingkungan. Sampah bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat apabila dikelola dengan cara yang tepat.
Salah satu cara dalam menangani sampah organik untuk mengurangi masalah sampah sisa makanan di rumah tangga adalah dengan pembuatan cairan eco enzyme.
Eco enzyme, kata Rizki, pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand. Beliau aktif melakukan penelitian ini selama 30 tahun tentang eco enzyme, dan pada tahun 2003 beliau mendapatkan penghargaan atas penemuannya tersebut dari FAO (Food and Agriculture Organization) yaitu organisasi pangan dan pertanian dibawah naungan PBB.
Eco enzyme adalah produk dari sampah rumah tangga yang ramah lingkungan, sangat bermanfaat dan mudah cara pembuatannya. Eco enzyme ini sendiri merupakan cairan fermentasi alami yang terbuat dari sampah organik.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan eco enzyme juga sederhana yang mudah didapat dari sampah dapur rumah tangga. Terdiri dari air, gula sebagai sumber karbon (tidak disarankan penggunaan gula pasir), dan sampah organik sayur atau buah yang mentah atau belum di olah dan tidak busuk.
Fermentasi yang dihasilkan adalah eco enzyme sebagai produk utama dan alkohol atau asam asetat sebagai produk sampingannya. Proses fermentasi dilakukan selama 3 bulan dengan hasil cairan yang berwarna coklat dengan aromanya asam segar dan kuat khas fermentasi, bukan berbau busuk.
Proses pembuatan eco enzyme ini mirip dengan pembuatan kompos, tetapi ada penambahan air sebagai media pertumbuhannya sehingga produk yang dihasilkan dari proses ini berupa cairan dan lebih mudah pengaplikasiannya. Pada dasarnya cairan eco enzyme ini mempercepat reaksi bio-kimia untuk menghasilkan enzim yang sangat bermanfaat bagi kita.
Walapupun memerlukan waktu yang lama, namun fermentasi yang dihasilkan memiliki manfaat yang sangat banyak dan dapat memperbaiki kualitas lingkungan, tanah, air dan udara.
Manfaat dari produk eco enzyme diantaranya dapat menghasilkan gas O3 (ozon) didalam proses fermentasinya yang dapat mengurangi efek rumah kaca dan pemanasan global.
Cairan eco enzyme juga dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga yaitu sebagai cairan pembersih lantai, untuk mencuci pakaian, mencuci piring, mencuci sayur dan buah untuk menghilangkan pestisida, dengan cara mencampurkan cairan eco enzym dengan air setiap kali pemakaiannya.
"Manfaat lainnya bisa digunakan untuk menyiram tanaman agar menjadi subur dan memberikan hasil panen yang lebih baik."ujarnya.
Selain itu ampas dari fermentasi pembuatan eco enzym juga dapat digunakan sebagai pupuk organik. Eco enzyme selain berguna untuk mengurangi efek pemanasan global para ahli juga mengklaim cairan ini juga dapat menjernihkan air kolam dan mengurangi pencemaran sungai akibat limbah zat kimia yang merusak sungai.
Namun demikian, penting untuk kita pahami bahwa penggunaan cairan eco enzyme juga memerlukan tata cara yang tepat dalam mengaplikasikannya. Pengguna harus memperhatikan faktor-faktor seperti dosis yang tepat pada saat menggunakannya agar manfaat yang dihasilkan juga maksimal.
Proses pembuatan dan bahan yang digunakan dari bahan alami membuat eco enzyme mudah terurai dan tidak berbahaya bagi manusia maupun terhadap lingkungan.
Pengolahan sampah dengan cara pembuatan cairan eco enzyme diharapkan bisa melibatkan pemerintah, komunitas, sektor swasta, dan tentunya juga masyarakat di Indonesia dalam mempromosikan dan mengembangkan teknologi ramah lingkungan ini.
Dengan terus menggali potensi dan manfaat dari eco enzyme ini kita dapat memaksimalkan upaya dalam melestarikan lingkungan. Menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan secara individu melainkan bersama-sama.
"Karena lingkungan yang sehat tercipta dari kontribusi semua masyarakat yang tinggal didalam lingkungan tersebut. Sehingga akan terciptanya lingkungan bersih dan sehat yang akan membuat masyarakat juga sehat," demikian ujarnya. (MC 05)