Jakarta, InfoPublik – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengajak generasi muda, perguruan tinggi, dan startup di Aceh mengembangkan teknologi kecerdasan artifisial (AI) berbasis bahasa lokal. Salah satu peluang yang didorong adalah pengembangan Large Language Model (LLM) berbahasa Aceh agar daerah turut berkontribusi dalam inovasi AI nasional.
“Saya mendambakan ada large language model bahasa Aceh. Bisa ya kita bikin ya bahasa Aceh? Karena itu sangat penting karena kita punya keunikan sendiri,” ujar Wamenkomdigi dalam Seminar Terbuka bertema “Aceh dalam Peta AI Nasional: Infrastruktur, Talenta, dan Ekosistem” di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (2/11/2026).
Menurut Nezar Patria, pengembangan AI berbasis bahasa lokal membuka peluang kolaborasi antara bidang linguistik dan ilmu komputer. Bahasa tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga mencerminkan struktur berpikir serta cara masyarakat memahami dunia.
Karena itu, pengembangan model bahasa Aceh dapat menjadi langkah penting untuk menghadirkan teknologi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Linguistik dipadukan dengan computer science. Hari ini inilah yang kemudian membuat artificial intelligence makin dekat dengan cara berpikir manusia,” jelasnya.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berencana membuka Garuda Spark Innovation Hub di Banda Aceh melalui kerja sama dengan pemerintah kota. Fasilitas ini disiapkan sebagai pusat pelatihan, inovasi, dan pengembangan startup yang ingin mengadopsi teknologi AI di berbagai sektor.
Wamen Nezar menjelaskan, keberadaan Garuda Spark diharapkan membantu generasi muda Aceh mengembangkan solusi teknologi untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat, mulai dari layanan kesehatan, pertanian, perikanan, hingga pendidikan.
Dengan demikian, pemanfaatan AI tidak hanya berhenti pada penggunaan aplikasi yang sudah tersedia, tetapi juga berkembang menjadi kemampuan menciptakan produk dan layanan digital sendiri.
“Insyaallah akan kita buka bekerja sama dengan Wali Kota Banda Aceh. Kementerian Komdigi melalui Direktorat Jenderal Ekosistem Digital akan membuka Garuda Spark di Aceh,” ungkapnya.
Ia menilai Aceh memiliki modal sumber daya manusia dan ekosistem pendidikan yang dapat mendukung pengembangan AI. Keberadaan perguruan tinggi serta antusiasme sivitas akademika dalam mengadopsi teknologi menjadi peluang untuk memperkuat kontribusi Aceh dalam pengembangan AI nasional.
Namun, peluang tersebut perlu diikuti peningkatan keterampilan digital. Nezar mengungkapkan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar sembilan juta talenta digital hingga 2030, sementara kemampuan penyediaannya saat ini baru sekitar empat juta orang.
Kesenjangan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda untuk memasuki bidang pekerjaan baru yang berkembang seiring kemajuan teknologi.
Menurut Nezar, kebutuhan talenta digital tidak terbatas pada lulusan bidang teknik atau komputer. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, termasuk bahasa dan linguistik, juga dapat berkontribusi dalam pengembangan AI sepanjang menguasai keterampilan teknologi yang dibutuhkan.
Pengembangan model bahasa Aceh menjadi salah satu peluang bagi daerah untuk berkontribusi dalam industri AI nasional dengan mengandalkan keunggulan dan kekhasan lokal.
“Saya ingin melihat startup-startup Aceh bisa berada di top 10 pentas nasional. Dan itu harus dihasilkan oleh rekan-rekan semua, anak-anak muda Aceh,” pungkas Wamenkomdigi Nezar Patria.