Semarang, InfoPublik – Dua kali dalam sepekan, Nur Syahfatin harus menyeberangi laut untuk belajar Al-Qur’an.
Dari tempat tinggalnya di Kecamatan Rangsang Barat, Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, gadis berusia 13 tahun itu menuju Kecamatan Selatpanjang di Pulau Tebingtinggi untuk berguru. Perjalanan sekitar 15 menit melintasi laut telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Bukan untuk berwisata, melainkan untuk mengasah kemampuan membaca Al-Qur’an yang telah ditekuninya sejak masih kecil.
Setiap Jumat dan Minggu, Nur meninggalkan Pulau Rangsang untuk bertemu gurunya di Pulau Tebingtinggi.
Jarak dan perjalanan laut tidak membuatnya berhenti belajar. Justru, penyeberangan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar yang ia jalani untuk memperdalam kemampuan membaca Al-Qur’an.
Selain belajar bersama guru, Nur juga meluangkan waktu untuk belajar secara mandiri di rumah.
Kebiasaan itu membuat Al-Qur’an tidak sekadar menjadi materi yang dipelajari, tetapi telah menjadi bagian dari rutinitas dalam kehidupannya.
Kini, perjalanan tersebut membawanya jauh dari kampung halaman. Nur hadir di Semarang sebagai peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 Tahun 2026.
Ia menjadi bagian dari kafilah Provinsi Riau untuk cabang Seni Baca Al-Qur’an golongan Tilawah Anak-Anak.
Untuk pertama kalinya, Nur mendapatkan kesempatan tampil di panggung MTQ tingkat nasional. Kesempatan itu menghadirkan perasaan yang bercampur.
Ada kebanggaan karena dapat membawa nama daerah, tetapi ada pula rasa berdebar ketika harus tampil di hadapan peserta dan penonton dari berbagai daerah di Indonesia. “Berdebar-debar, karena ini pengalaman yang membanggakan,” ujar Nur setelah tampil pada babak penyisihan, Kamis (17/9/2026).
Bagi Nur, tampil di MTQN bukan semata-mata tentang menjadi juara. Ada kebahagiaan tersendiri ketika ia dapat membaca dan mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an.
Menurut dia, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Membaca dan mempelajarinya juga membuat Nur merasa lebih dekat dan mencintai Allah.
Kecintaannya terhadap Al-Qur’an sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum ia mengenal panggung perlombaan.
Nur mulai belajar membaca Al-Qur’an ketika berusia empat tahun. Sang ibu menjadi orang pertama yang mengenalkannya kepada bacaan Al-Qur’an.
Ia kemudian kerap mengikuti saudara-saudaranya mengaji. Kebiasaan sederhana itu perlahan menumbuhkan ketertarikannya untuk terus belajar. “Awalnya saya suka mengaji, kemudian mulai serius belajar sejak kelas 2 SD,” kata Nur.
Sejak saat itu, ia mulai menekuni bacaan Al-Qur’an dengan lebih serius. Ketekunan tersebut kemudian membawanya mengikuti berbagai perlombaan. Prestasi demi prestasi mulai diraihnya.
Nur pernah menjadi juara pertama dalam sejumlah perlombaan, mulai dari tingkat kampung hingga tingkat provinsi. Namun, ada hal lain yang membuatnya terus bersemangat.
Ia ingin kemampuannya dalam membaca Al-Qur’an dapat membuat kedua orang tuanya bahagia. Dukungan keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan bagi Nur untuk terus belajar.
Di tengah kesibukan sekolah dan latihan, ia tetap berusaha menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an.
Bagi Nur, setiap ayat memiliki pelajaran yang dapat dipetik. Salah satu ayat yang paling ia sukai adalah Surah Al-Baqarah ayat 60.
Menurutnya, ayat tersebut memiliki makna yang sangat baik. Meski memiliki ayat favorit, Nur tidak membatasi kecintaannya hanya pada satu bagian Al-Qur’an.
Ia mengaku masih banyak ayat lain yang juga disukainya. Baginya, setiap ayat memiliki pesan yang dapat dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Perjalanan menyeberangi laut dua kali dalam sepekan pun menjadi bagian dari proses tersebut. Bagi sebagian orang, perjalanan selama 15 menit mungkin terasa singkat.
Namun, bagi Nur, setiap perjalanan memiliki arti. Ada waktu yang disisihkan. Ada tenaga yang dikeluarkan. Ada tekad untuk terus belajar.
Cita-Cita Menjadi Dokter
Dan ada harapan yang dibawa setiap kali ia meninggalkan Pulau Rangsang menuju Pulau Tebingtinggi. Kini, perjalanan itu memiliki cerita yang lebih panjang.
Dari sebuah pulau kecil di Kepulauan Meranti, langkah Nur membawanya ke Semarang.
Ia berdiri di panggung nasional bersama peserta terbaik dari berbagai daerah. Panggung tersebut menjadi pengalaman baru sekaligus bagian dari perjalanan belajarnya.
Nur tidak ingin berhenti pada pencapaian hari ini. Di balik kemampuannya membaca Al-Qur’an, ia menyimpan cita-cita lain untuk masa depan.
Ia ingin menjadi seorang dokter. Cita-cita tersebut tumbuh bersamaan dengan keinginannya untuk terus mendalami Al-Qur’an.
Nur tidak ingin profesi yang kelak dijalaninya membuatnya jauh dari nilai-nilai yang selama ini dipelajarinya. “Saya ingin menjadi dokter yang juga memahami dan mengamalkan Al-Qur’an,” tuturnya.
Keinginan tersebut memperlihatkan bahwa bagi Nur, belajar Al-Qur’an bukan sesuatu yang terpisah dari cita-cita masa depan.
Nilai-nilai yang dipelajarinya ingin tetap menjadi bagian dari kehidupannya. Karena itu, ia juga mengajak teman-teman seusianya untuk tidak berhenti belajar Al-Qur’an.
Menurut Nur, ketekunan menjadi salah satu kunci untuk terus berkembang. Belajar dari orang-orang yang telah berhasil juga penting agar seseorang mengetahui apa yang perlu diperbaiki.
Yang tidak kalah penting, kata dia, adalah tidak mudah menyerah. Pesan itu terdengar sederhana. Namun, Nur telah menjalaninya sendiri. Dua kali sepekan ia menyeberangi laut.
Ia belajar bersama guru. Ia berlatih secara mandiri di rumah. Kemudian mengikuti perlombaan dari tingkat kampung hingga provinsi.
Hingga akhirnya, pada usia 13 tahun, ia berdiri di panggung MTQ Nasional ke-31 di Semarang. Perjalanan dari Pulau Rangsang menuju Pulau Tebingtinggi mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Namun, perjalanan yang sesungguhnya jauh lebih panjang. Di balik setiap penyeberangan terdapat ketekunan seorang anak untuk belajar.
Semua perjalanan itu bertemu pada satu hal yang terus ia jaga: kecintaannya kepada Al-Qur’an.