Jakarta, InfoPublik – Perguruan tinggi didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir langsung menjawab persoalan serta mengembangkan potensi masyarakat di desa.
Untuk itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjajaki kolaborasi dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) melalui skema pendampingan berbasis kebutuhan dan potensi desa.
Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dengan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Inti kolaborasi yang dijajaki adalah mempertemukan perguruan tinggi dengan desa secara lebih tepat sasaran. Fakultas dan program studi akan disesuaikan dengan karakteristik, potensi, serta persoalan yang dihadapi masing-masing desa. “Kita lakukan matching antara kampus dan desa, fakultas mana yang relevan untuk membantu desa. Ini kita sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa,” ujar Brian Yuliarto.
Pendekatan tersebut memungkinkan pendampingan dilakukan secara tematik. Desa yang memiliki potensi pertanian, misalnya, dapat didampingi perguruan tinggi dengan keahlian di bidang pertanian dan teknologi pangan. Demikian pula desa yang mengembangkan peternakan, perikanan, ekonomi kreatif, pariwisata, atau kebudayaan dapat dipertemukan dengan fakultas dan program studi yang relevan.
Skema ini sekaligus membuka peluang agar penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi lebih dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan. Persoalan desa dapat menjadi bagian dari agenda riset, sementara hasil penelitian dan inovasi kampus dapat diterapkan untuk memperkuat potensi ekonomi maupun sosial masyarakat.
Mendes PDT, Yandri Susanto menyambut baik gagasan tersebut. Menurutnya, berbagai program pengembangan desa yang telah berjalan dapat menjadi ruang pertemuan antara kapasitas perguruan tinggi dan kebutuhan pembangunan desa.
Salah satunya melalui pengembangan desa tematik yang diarahkan berdasarkan potensi unggulan masing-masing wilayah. Model tersebut dapat diperkuat dengan dukungan pengetahuan, teknologi, inovasi, serta pendampingan dari perguruan tinggi. “Program desa tematik yang sudah berjalan sangat bermanfaat. Seperti desa ekspor, pendapatan masyarakat meningkat pesat,” kata Yandri.
Kolaborasi kampus dan desa juga dapat memperkuat keterlibatan mahasiswa serta dosen dalam Tridarma Perguruan Tinggi. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar dari persoalan nyata masyarakat, sedangkan dosen dan peneliti memiliki ruang untuk mengembangkan riset yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Dengan pola tersebut, hubungan perguruan tinggi dan desa tidak berhenti pada kegiatan kunjungan atau pendampingan sesaat. Kemitraan diarahkan untuk menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan solusi yang dapat diterapkan sesuai karakter setiap wilayah.
Kemdiktisaintek dan Kemendes PDT selanjutnya akan mengeksplorasi bentuk kolaborasi yang lebih konkret, termasuk mekanisme untuk mempertemukan program pengembangan desa dengan kapasitas fakultas dan program studi di perguruan tinggi.
Pemetaan kebutuhan desa menjadi salah satu kunci agar sumber daya akademik dapat diarahkan secara efektif. Dengan mengenali potensi dan persoalan setiap desa, perguruan tinggi dapat memberikan dukungan berdasarkan keahlian yang benar-benar dibutuhkan.
Sinergi ini diharapkan memperkuat pembangunan desa berbasis potensi lokal sekaligus membuka ruang lebih luas bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.
Alhasil, dengan mempertemukan potensi desa dan keahlian kampus, kolaborasi tersebut diarahkan bukan hanya menghasilkan kegiatan pengabdian, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi dan solusi yang dapat memperkuat kemandirian serta kesejahteraan masyarakat di daerah.