Jakarta, InfoPublik – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mendorong perguruan tinggi tidak harus mengejar semua hal dalam waktu bersamaan. Untuk itu, setiap kampus terlebih dahulu mengenali posisi, kekuatan, dan kekurangannya, kemudian menentukan keunggulan yang ingin dikembangkan secara konsisten.
"Strategi tersebut penting karena perguruan tinggi memiliki tantangan untuk menjaga keseimbangan antara kualitas, kuantitas, dan keterjangkauan pendidikan. Ketiganya tidak selalu mudah dicapai secara bersamaan sehingga membutuhkan pilihan strategis dari setiap perguruan tinggi. Karena, tidak semua perguruan tinggi kita harus sama. Di dalam segitiga itu harus kita pikirkan secara matang dan kita yakin dengan pilihan kita,” ujar Stella saat Peluncuran Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) di Graha Diktisaintek, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Stella menjelaskan, perguruan tinggi yang ingin meningkatkan kualitas pendidikan membutuhkan sumber daya yang memadai. Namun, di saat yang sama, kampus juga dituntut memperluas akses dan menjaga keterjangkauan pendidikan.
Karena itu, peningkatan angka partisipasi pendidikan tinggi (APK) tidak dapat dipisahkan dari kualitas dan keterjangkauan. Perluasan akses tanpa memperhatikan mutu berisiko menghasilkan lulusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. “Kalau APK-nya tinggi sekali, namun kualitasnya tidak baik, lulusan kita akan menganggur. Inilah yang penting kita pikirkan,” katanya.
Wamen Stella menilai kepemimpinan perguruan tinggi perlu dimulai dari kemampuan membaca posisi institusi secara objektif. Setelah itu, pimpinan kampus perlu menetapkan tujuan dan strategi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Ia mengingatkan, tidak semua perguruan tinggi harus memiliki prioritas yang identik. Kampus dapat memilih fokus pengembangan berdasarkan kekuatan akademik, kebutuhan daerah, maupun potensi yang dimiliki. “Tidak semua perguruan tinggi itu harus melakukan semua-semuanya,” ujarnya.
Menurut Stella, perguruan tinggi justru perlu memiliki satu atau dua bidang yang menjadi kekhasan dan keunggulan utama. Pilihan tersebut bukan berarti mengabaikan bidang lain, melainkan membuat sumber daya kampus lebih fokus untuk menghasilkan kualitas yang kuat.
Ia mencontohkan sejumlah perguruan tinggi terkemuka dunia yang berkembang dari kekhasan tertentu sebelum memperluas pengaruhnya. Pendekatan serupa dinilai relevan bagi perguruan tinggi di Indonesia dengan mengangkat potensi dan kearifan lokal sebagai modal menuju daya saing global. “Perguruan tinggi pun berhak dan bahkan harus mempunyai satu atau dua arahan yang jelas. Bukan berarti yang lainnya tidak dilakukan, tetapi kekhasannya atau yang paling menonjol harus ada,” kata Stella.
Lebih jauh, Stella menegaskan pilihan strategi perguruan tinggi tidak boleh dilepaskan dari kontribusinya terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai kampus harus dipandang sebagai bagian penting dari ekosistem pertumbuhan ekonomi, terutama melalui pengembangan sumber daya manusia, riset, inovasi, dan penciptaan teknologi yang dapat berkembang menjadi industri. “Perguruan tinggi adalah kunci, bukan sampingan, tapi kunci pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Stella mencontohkan Stanford University Amerika Serikat, yang menurutnya menunjukkan bagaimana ekosistem perguruan tinggi, dosen, alumni, riset, dan inovasi dapat memberikan dampak ekonomi dalam skala besar. Ia juga menyoroti perkembangan artificial intelligence (AI) sebagai gambaran bahwa inovasi berbasis pengetahuan dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru. Karena itu, dukungan terhadap perguruan tinggi perlu dilihat sebagai investasi bagi pertumbuhan ekonomi, bukan semata-mata pembiayaan sektor pendidikan. “Segala sesuatu yang kita berikan kepada universitas itu adalah investasi untuk pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Stella mendorong pimpinan perguruan tinggi menentukan apakah institusinya perlu memperkuat progres vertikal, yakni menghasilkan terobosan dan sesuatu yang baru, atau progres horizontal, yakni memperluas dan mereplikasi praktik yang telah terbukti. Penentuan arah itu, kata dia, baru dapat dilakukan setelah kampus memahami posisi dan tujuan yang ingin dicapai.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi mengatakan, gagasan tersebut menjadi salah satu landasan pembentukan AKPT. Program ini lahir dari premis bahwa pengembangan perguruan tinggi sangat bergantung pada kekuatan kepemimpinan. “Pengembangan perguruan tinggi di Indonesia, khususnya, dan juga di banyak tempat lain itu kuncinya adalah kepemimpinan yang kuat,” ujar Khairul.
Karena itu, AKPT tidak dirancang sebagai program yang berlangsung sekali. Kemdiktisaintek menyiapkan pembelajaran kepemimpinan secara berkelanjutan melalui sejumlah gelombang dan seri. Program tersebut memiliki dua sasaran utama. Pertama, memperkuat kompetensi para pemimpin perguruan tinggi yang sedang menjabat. Kedua, menyiapkan talenta kepemimpinan baru melalui skema future leaders.
Khairul mengatakan, kedua kelompok tersebut diharapkan membentuk jaringan talenta kepemimpinan perguruan tinggi yang dapat saling bersinergi dan pada waktunya mengisi berbagai posisi strategis di perguruan tinggi. “Harapan kita dengan pendekatan seperti ini kita bisa melahirkan kepemimpinan yang kuat di berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia,” katanya.
Pada gelombang pertama, AKPT melibatkan 34 perguruan tinggi negeri untuk kelas pimpinan. Selain itu, setiap perguruan tinggi menyiapkan dua peserta untuk kelas future leaders.