Jakarta, InfoPublik – Transisi menuju ekonomi hijau tidak hanya membawa perubahan pada sektor energi dan industri, tetapi juga membuka peluang besar bagi penciptaan lapangan kerja baru. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan kompetensi tenaga kerja untuk mengisi peluang green jobs yang diproyeksikan mencapai 5,3 juta hingga sembilan juta lapangan kerja baru dalam lima hingga 10 tahun ke depan.
Penyiapan tenaga kerja tersebut mencakup keterampilan siap kerja, kurikulum pelatihan, instruktur, fasilitas, sertifikasi, hingga rekognisi kompetensi. Langkah ini menjadi bagian penting agar peluang ekonomi dari transisi hijau dapat diisi tenaga kerja Indonesia.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan tantangan utama setelah tersusunnya peta jalan green jobs adalah menerjemahkannya menjadi langkah konkret yang berdampak langsung terhadap kesiapan tenaga kerja.
“Kalau kita lihat dalam kacamata global, green jobs ini tidak hanya menjadi concern Indonesia, tetapi semua negara dan semua di dunia. Kita sudah berdiskusi cukup panjang terkait dengan roadmap khusus terkait dengan green jobs ini,” ujar Yassierli, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Jumat (4/9/2026).
Menurut Yassierli, Kemnaker mengambil peran pada sisi pengembangan sumber daya manusia agar tenaga kerja memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan hijau. Persiapan dilakukan dari hulu, mulai dari penyediaan tempat pelatihan hingga pengakuan atas kompetensi yang dimiliki pekerja.
“Peran kami di Kementerian Ketenagakerjaan adalah menyiapkan modalitas, mulai dari tempat pelatihan, dalam konteks itu adalah skill siap kerja terkait dengan green jobs ini sendiri. Kemudian penyiapan kurikulum, instruktur, fasilitas, sertifikasi sampai kepada rekognisi,” jelasnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena transformasi menuju ekonomi hijau berpotensi menciptakan jenis pekerjaan baru sekaligus mengubah kebutuhan kompetensi pada pekerjaan yang sudah ada. Karena itu, kesiapan tenaga kerja perlu dibangun seiring dengan perkembangan industri dan kebijakan transisi energi.
Yassierli menekankan, pemanfaatan peluang green jobs membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, serta pemangku kepentingan lainnya perlu memastikan kebutuhan kompetensi tenaga kerja dapat mengikuti arah transformasi ekonomi.
Menurutnya, persiapan sejak dini juga menjadi bagian dari prinsip transisi energi yang inklusif. Dengan demikian, perubahan menuju ekonomi rendah karbon tidak hanya menghasilkan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka kesempatan kerja yang dapat diakses masyarakat secara luas.
“Ini harus menjadi kesempatan yang kita ambil, kita siapkan dari awal. Karena semangatnya transisi energi pun semangatnya adalah no one left behind,” pungkas Yassierli.