Jakarta, InfoPublik – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Smart Cakrawala Aviation menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu langkah mitigasi menghadapi dampak musim kemarau sekaligus membantu memperbaiki kualitas udara di Jakarta.
OMC dilakukan berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer secara real time dan rekomendasi BMKG. Operasi tersebut ditempuh ketika lima wilayah kota administrasi Jakarta berstatus Siaga peringatan dini kekeringan meteorologis, yang ditandai dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) sedikitnya 31 hari berturut-turut.
Kondisi tersebut juga terjadi di tengah persoalan kualitas udara Jakarta. Sebelum 20 Agustus 2026, kualitas udara Jakarta tercatat berada dalam kategori tidak sehat selama 26 hari terakhir. “Kami melakukan ikhtiar bersama untuk menjaga Jakarta dari potensi ancaman musim kemarau. Modifikasi cuaca ini dilakukan di lokasi yang telah kami pantau, termasuk titik-titik dengan angka polutan relatif tinggi,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (28/8/2026).
Posko OMC di Bandara Pondok Cabe telah diaktivasi sejak 21 Agustus 2026. Hingga 26 Agustus, sebanyak 24 sorti penerbangan telah dilakukan dengan total durasi sekitar 21 jam menggunakan dua pesawat Cessna Caravan 208B milik Smart Cakrawala Aviation.
Dalam pelaksanaannya, pesawat melakukan penyemaian pada awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Pada kondisi tertentu, penyemaian juga diarahkan ke titik-titik prioritas yang teridentifikasi memiliki kualitas udara kurang baik atau kadar PM2.5 tinggi.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil pada 27 Agustus. OMC menghasilkan hujan di sejumlah lokasi di Jakarta. Evaluasi sementara juga menunjukkan penurunan polutan di sejumlah wilayah pada kisaran 23–50 persen, dengan penurunan tertinggi sementara mencapai 57 persen. “OMC berhasil mengoptimalkan potensi hujan di beberapa lokasi. Kami juga melihat adanya penurunan angka polutan, namun hasilnya tetap kami evaluasi karena kondisi atmosfer sangat dinamis,” kata Maruli.
Meski demikian, Pemprov DKI menegaskan bahwa OMC bukan satu-satunya instrumen untuk menangani persoalan kualitas udara. Penurunan PM2.5 yang terpantau dalam evaluasi sementara masih perlu dicermati dan dievaluasi seiring perubahan kondisi atmosfer. “Penurunan PM2.5 yang terlihat dalam evaluasi sementara tentu kami cermati, tetapi OMC bukan solusi tunggal. Persoalan kualitas udara harus ditangani secara menyeluruh dan konsisten dari sumber pencemarnya,” tegas Maruli.
Pengendalian Kualitas Udara Jakarta
Sejalan dengan itu, Pemprov DKI tetap menjalankan berbagai langkah pengendalian kualitas udara, mulai dari pemantauan kualitas udara, pengawasan emisi kendaraan bermotor, pengendalian emisi industri dan kegiatan usaha, penguatan transportasi publik, hingga edukasi masyarakat agar tidak membakar sampah dan menggunakan air secara bijak.
“OMC kami tempatkan sebagai salah satu instrumen mitigasi yang berbasis data dan kondisi atmosfer. Operasi hanya dilakukan ketika secara teknis memungkinkan dan memang dapat memberikan manfaat berdasarkan rekomendasi BMKG,” ungkap Maruli.
Dari sisi teknis, BMKG menyesuaikan metode dan bahan semai dengan kondisi atmosfer. Pada musim kemarau, salah satu metode yang digunakan adalah water mist dengan campuran air dan surfaktan SLS (Sodium Lauryl Sulfate) untuk membantu mengikat polutan di udara. “Pada modifikasi cuaca kali ini, metode yang digunakan berbeda dengan saat musim penghujan. Pada musim kemarau, kami menggunakan surfaktan yang dicampur dengan air untuk membantu mengikat polutan dan menurunkan angka polutan di wilayah DKI Jakarta,” ujar Sutrisno, tim supervisi OMC dari BMKG.
Selain metode tersebut, apabila pemantauan menunjukkan pertumbuhan awan yang memenuhi kriteria, tim dapat menggunakan CaCl2 atau kalsium klorida untuk membantu proses kondensasi dan mengoptimalkan potensi hujan yang telah terbentuk secara alami. “Ketika hasil pemantauan menunjukkan adanya pertumbuhan awan yang memenuhi kriteria, bahan semai CaCl2 dapat digunakan untuk membantu proses kondensasi awan. Metode ini dilakukan secara bersama dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer yang ada,” jelas Sutrisno.