Jakarta, InfoPublik – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong penerapan prakiraan berbasis dampak (impact based-forecast/IBF) untuk memperkuat budaya tangguh bencana melalui aksi dini dan pembangunan multisektor.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, penerapan IBF menjadi penting seiring perubahan iklim yang meningkatkan kejadian ekstrem dan risiko bencana hidrometeorologi yang berdampak pada kesehatan, ketersediaan air, pangan, hingga energi.
“Sejak 1850, terjadi kenaikan rata-rata suhu permukaan bumi sebesar 1,4–1,5ºC. Di Indonesia sendiri, tercatat kenaikan suhu sebesar 0,8ºC. Apabila kita tidak melakukan aksi atau upaya pengurangan laju kenaikan, diproyeksikan kenaikan suhu permukaan bumi mencapai 3ºC pada 2050 mendatang,” kata Faisal pada pameran Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Menurut Faisal, paradigma IBF memungkinkan peringatan dini diterjemahkan menjadi langkah konkret karena dibangun melalui proses end-to-end, mulai dari observasi, analisis dan pemodelan, penilaian dampak, hingga penyusunan prakiraan berdasarkan dampak yang ditimbulkan.
Data hasil observasi kemudian dianalisis menggunakan berbagai pendekatan dan model, antara lain Numerical Weather Prediction, climate prediction, model hidrologi, artificial intelligence (AI), hingga pemodelan tsunami.
Pada tahap penilaian dampak, IBF menggabungkan aspek hazard atau bahaya, exposure atau keterpaparan, dan vulnerability atau kerentanan. Pendekatan tersebut memungkinkan informasi yang dihasilkan tidak hanya menjelaskan ancaman, tetapi juga pihak yang berpotensi terdampak dan tingkat risikonya.
“Tahap penilaian dampak menggabungkan hazard (bahaya), exposure (keterpaparan), dan vulnerability (kerentanan) sehingga memungkinkan kita memahami bukan hanya apa saja ancamannya, tetapi siapa yang terdampak dan seberapa besar risikonya,” tambah Faisal.
BMKG, lanjutnya, tetap menjaga prinsip saintifik melalui observasi berkualitas, pemodelan berbasis ilmu, validasi dan verifikasi, serta komunikasi probabilistik dan uncertainty. Dengan pendekatan tersebut, informasi IBF diharapkan semakin relevan bagi pengguna dan dapat mempercepat respons terhadap peringatan dini.
BMKG juga mengintegrasikan IBF ke dalam layanan informasi yang dibutuhkan berbagai sektor pembangunan dan bidang yang memiliki risiko bencana. Pendampingan dilakukan hingga tingkat kelurahan melalui unit pelaksana teknis (UPT) BMKG yang tersebar di 191 titik.
“Transformasi peringatan dini berbasis dampak tidak hanya berfungsi sebagai sumber data dan peringatan dini, tetapi menjadi acuan strategi adaptasi yang tepat sesuai kondisi iklim yang diprediksi,” ujar Faisal.
Salah satu penerapan informasi BMKG ditunjukkan dalam sektor pertanian. Komisi Irigasi Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, mempercepat jadwal tanam dari Minggu IV Maret hingga Minggu I April menggunakan varietas padi genjah berumur 65–90 hari.
Petani juga memanfaatkan sumber air alternatif melalui sumur bor, embungnisasi, dan pompanisasi. Langkah tersebut berhasil menyelamatkan 7.067 hektare lahan pertanian dari risiko gagal panen.
Sebelumnya, dalam pembukaan acara, Rabu (12/8/2026), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno menegaskan, peringatan dini tidak akan memberikan manfaat apabila tidak diikuti aksi dini.
“Sebagaimana BMKG terus-menerus mengingatkan bagaimana El Nino yang akan melanda, kita harus bisa menguasai cara merespons cepat untuk meminimalkan dampaknya. Karena, kekeringan yang panjang dapat mengurangi ketersediaan air, ketahanan pangan, bahkan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan,” tutur Pratikno.
Pratikno mendorong penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kolaborasi lintas sektor untuk memastikan setiap informasi peringatan dini dapat direspons secara cepat dan tepat.
Dalam pameran EDRR Indonesia 2026, BMKG turut menghadirkan berbagai perangkat meteorologi dan kebencanaan, di antaranya campbell stokes, Warning Receiver System (WRS) New Generation, Automatic Weather System (AWS) Rekayasa, seismometer, dan buoy. Pengunjung juga dapat mengikuti berbagai kuis interaktif. Pameran EDRR Indonesia 2026 berlangsung di Hall D2 JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 12–14 Agustus 2026. (Sumber:BMKG)