Jakarta, InfoPublik - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengingatkan Indonesia menghadapi ancaman baru seiring perkembangan komputasi kuantum, termasuk praktik harvest now, decrypt later yang memungkinkan pelaku siber menyimpan data terenkripsi untuk dibuka pada masa mendatang.
Nezar menjelaskan, dalam praktik tersebut, pelaku siber mencuri data yang telah dienkripsi dan menyimpannya tanpa harus langsung membuka informasi di dalamnya. Data tersebut kemudian dapat didekripsi ketika teknologi yang tersedia memungkinkan sistem enkripsi saat ini ditembus.
“Ada data-data yang sudah mereka curi, mereka enggak bisa buka, karena sudah ada enkripsinya. Cuma data itu dia simpan, diambil,” ujar Nezar dalam ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).
Menurut Nezar, perkembangan tersebut mengubah cara pandang terhadap keamanan data. Pelindungan data tidak lagi cukup hanya mengandalkan sistem kriptografi yang dirancang untuk menghadapi kemampuan komputasi saat ini.
Indonesia, kata dia, perlu mulai mempersiapkan sistem keamanan yang mampu menghadapi perkembangan teknologi kuantum melalui post-quantum cryptography.
“Kita juga harus bersiap-siap, terutama untuk keamanan data kita, untuk sistem kriptografi kita, itu adalah post-quantum cryptography,” tegasnya.
Nezar menilai persiapan tersebut perlu dilakukan sejak sekarang karena data yang dicuri dan disimpan pelaku siber masih dapat memiliki nilai pada masa mendatang. Karena itu, pembangunan arsitektur digital perlu mempertimbangkan perkembangan kemampuan teknologi yang belum sepenuhnya tersedia saat ini.
Perubahan lanskap ancaman siber juga mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital mengubah pendekatan dalam pembangunan sistem digital.
Pengalaman serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 pada Juni 2024 menjadi salah satu pelajaran penting bagi pemerintah dalam mengevaluasi arsitektur keamanan siber.
Nezar mengatakan, salah satu perubahan pendekatan tersebut adalah menempatkan aspek keamanan sejak tahap awal pembangunan sistem atau security by design.
“Security harus sudah masuk dalam perencanaan,” kata Nezar.
Selain komputasi kuantum, ancaman siber juga semakin kompleks seiring perkembangan kecerdasan artifisial (AI). Menurut Nezar, AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan sekaligus digunakan untuk melancarkan serangan siber.
Perkembangan agentic AI, lanjut dia, bahkan memungkinkan serangan dilakukan secara otomatis dan tidak sepenuhnya bergantung pada peretas manusia.
“Yang bekerja bukan lagi hacker, tapi agentic AI yang melakukan serangan-serangan siber itu,” ungkapnya.
Menghadapi perubahan ancaman tersebut, Nezar menilai Indonesia membutuhkan talenta yang mampu memahami perkembangan keamanan siber dan teknologi baru.
Pemerintah memperkirakan kebutuhan talenta digital Indonesia mencapai sekitar sembilan juta orang pada 2030. Sementara itu, kemampuan menghasilkan talenta saat ini disebut baru sekitar tiga juta lebih.
Karena itu, Nezar menilai kehadiran ITSEC Cyber & AI Academy dapat menjadi jembatan antara perkembangan teknologi di industri dengan kompetensi yang dipelajari di perguruan tinggi.
Menurut dia, penguatan talenta menjadi bagian penting untuk memastikan keamanan dan pengelolaan data Indonesia di tengah perkembangan teknologi.
“Tanpa talent yang kuat, saya kira kekayaan data kita pada akhirnya akan berserak ke mana-mana dan akan dicuri, akan dibaca, akan dicapture oleh mereka yang lebih powerful,” tandasnya.