Angka Kematian Ibu di Indonesia Timur Tiga Kali Lebih Tinggi daripada Jawa-Bali
Peta Disparitas Angka Kematian Ibu Melahirkan 2025. (BPS)
Peta Disparitas Angka Kematian Ibu Melahirkan 2025. (BPS)
Jakarta, InfoPublik – Meski angka kematian ibu melahirkan di Indonesia terus menurun, Badan Pusat Statistik (BPS) menyoroti masih lebarnya disparitas antarwilayah. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat angka kematian ibu di Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua masih tiga kali lebih tinggi dibandingkan Jawa-Bali.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan penurunan maternal mortality ratio (MMR) secara nasional menunjukkan perkembangan yang signifikan. Di wilayah Jawa dan Bali, angka kematian ibu telah mencapai 114 per 100 ribu kelahiran hidup.
"Untuk angka kematian ibu melahirkan atau yang disebut dengan maternal mortality ratio atau MMR, penurunannya sudah sangat tajam, yang sudah sangat baik, di mana kalau kita perhatikan terutama Jawa dan Bali sudah mencapai 114," ujar Amalia saat memaparkan hasil SUPAS 2025 di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Namun, menurut Amalia, kondisi tersebut belum merata di seluruh Indonesia. Di kawasan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, angka kematian ibu masih mencapai 317 per 100 ribu kelahiran hidup.
"Kalau kita lihat angka ini, Jawa-Bali dibandingkan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, angka kematian ibu melahirkan di daerah Nusa Tenggara, Maluku, Papua tiga kali lipat dibandingkan dengan kematian ibu melahirkan di daerah Jawa-Bali," ungkapnya.
Selain kesenjangan antarwilayah, SUPAS 2025 juga menunjukkan sebagian besar kematian ibu terjadi pada masa kehamilan, terutama yang berkaitan dengan keguguran.
BPS turut mencatat tingkat pendidikan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan tingginya risiko kematian ibu. Semakin rendah tingkat pendidikan ibu, semakin tinggi pula potensi terjadinya kematian saat kehamilan maupun persalinan.
"Semakin rendah tingkat pendidikan ibu melahirkan, potensi kematian ibu melahirkan itu relatif lebih tinggi. Jadi tingkat pendidikan juga mempengaruhi potensi angka kematian," kata Amalia.
Dari sisi penyebab, pendarahan menjadi faktor utama kematian ibu melahirkan di Indonesia. Penyebab berikutnya adalah penyakit kronis, disusul preeklampsia atau eklampsia yang berkaitan dengan hipertensi selama kehamilan.
Amalia menegaskan disparitas angka kematian ibu masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Tingginya angka kematian ibu di kawasan timur Indonesia menunjukkan masih adanya kesenjangan layanan dan kondisi yang memengaruhi keselamatan ibu selama kehamilan hingga persalinan.
© Copyright 2026, All Rights Reserved