Jakarta, InfoPublik – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan angka kelahiran di Indonesia semakin dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah perempuan yang melahirkan pada usia muda. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan penurunan Total Fertility Rate (TFR) nasional terutama didorong oleh menurunnya angka kelahiran pada perempuan berusia 15–19 tahun dan 20–24 tahun.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, tren tersebut menandai perubahan pola fertilitas di Indonesia. Perempuan kini cenderung menunda kelahiran hingga memasuki usia yang lebih matang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
"Penurunan TFR ini didorong oleh angka kelahiran pada perempuan kelompok umur 15 sampai 19 tahun dan 20 sampai 24 tahun yang menurun secara signifikan. Sekarang kecenderungannya adalah perempuan melahirkan pada usia yang lebih matang," kata Amalia dalam Peluncuran Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak Tahun 2026–2030 di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Berdasarkan hasil SUPAS 2025, Total Fertility Rate (TFR) perempuan usia 15–49 tahun tercatat sebesar 2,13 anak per perempuan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2020, namun masih berada pada tingkat replacement level, yakni kondisi ketika jumlah kelahiran cukup untuk mempertahankan keseimbangan pertumbuhan penduduk.
Amalia menjelaskan, di tengah penurunan angka kelahiran pada kelompok usia muda, justru terjadi peningkatan kelahiran pada perempuan berusia 25–29 tahun. Hal ini menunjukkan semakin banyak perempuan yang memilih memiliki anak setelah memasuki usia dewasa yang lebih matang.
Temuan tersebut juga tercermin dari data kelahiran selama periode Juli 2022 hingga Juni 2025. Sebagian besar bayi di Indonesia lahir dari ibu berusia 25–34 tahun, sedangkan setelah usia 35 tahun, jumlah kelahiran menurun cukup tajam. "Artinya, usia produktif perempuan untuk melahirkan saat ini didominasi kelompok umur 25 sampai dengan 34 tahun," ujar Amalia.
SUPAS 2025 juga mencatat jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 284,67 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,08 persen, lebih rendah dibandingkan lima tahun sebelumnya.
Meski demikian, BPS menilai kondisi fertilitas antardaerah masih belum merata. Wilayah Pulau Jawa umumnya memiliki TFR lebih rendah dibandingkan wilayah lain, sementara beberapa provinsi di kawasan timur Indonesia masih mencatat tingkat fertilitas yang lebih tinggi.
Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan TFR tertinggi, yakni 2,78 anak per perempuan, sedangkan DKI Jakarta mencatat angka terendah sebesar 1,79. Sejumlah provinsi lain seperti Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Banten, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta juga telah memiliki TFR di bawah angka penggantian penduduk sebesar 2,1.
SUPAS 2025 dilaksanakan pada Juni–Juli 2025 di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota dengan melibatkan 664.640 rumah tangga sampel. Menurut Amalia, hasil survei ini menjadi dasar penting bagi penyusunan kebijakan kependudukan, termasuk mendukung pelaksanaan Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak Tahun 2026–2030 agar intervensi pemerintah dapat disesuaikan dengan karakteristik demografi di setiap daerah.