Jakarta, InfoPublik — Upaya pemulihan ekosistem laut di Pulau Buru, Maluku, mulai diperkuat melalui program konservasi terpadu bertajuk Rediscover Buru Moving Forward yang digagas Wanadri Women Divers (WWD).
Program tersebut menggabungkan restorasi terumbu karang, riset lingkungan, pemberdayaan masyarakat pesisir, hingga pengembangan ekowisata berkelanjutan.
Dalam keterangan tertulisnya yang diterima InfoPublik, pada Sabtu (30/5/2026), Ketua Dewan Pengurus Wanadri, Tomy Hosni Mubaraq menyampaikan, program ini lahir setelah temuan lapangan dalam kegiatan Buru Expedition menunjukkan adanya indikasi kerusakan terumbu karang di sejumlah kawasan pesisir Pulau Buru.
"Hal ini yang diduga dipengaruhi penurunan kualitas lingkungan laut dan aktivitas yang belum ramah terhadap ekosistem," ujar Tomy.
Kerusakan terumbu karang dinilai menjadi persoalan penting karena berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan sumber daya laut, keanekaragaman hayati, serta kehidupan masyarakat pesisir yang menggantungkan penghidupan dari sektor perikanan dan kelautan.
"Sebagai langkah awal pemulihan ekosistem, WWD menargetkan transplantasi sebanyak 2.500 fragmen terumbu karang di kawasan pesisir Desa Jikumerasa dan Desa Hatawano pada periode 1–10 Juni 2026" ujar Tomy Husni Mubaraq.
Restorasi tersebut diharapkan dapat mempercepat regenerasi habitat bawah laut sekaligus meningkatkan daya dukung ekosistem pesisir dalam jangka panjang.
Selain rehabilitasi terumbu karang, tim ekspedisi juga akan melakukan pemetaan kondisi terumbu karang, dokumentasi biodiversitas laut, analisis kualitas air laut, serta identifikasi potensi pencemaran di kawasan pesisir Pulau Buru.
Pendataan tersebut dilakukan untuk menyediakan basis data ilmiah yang dapat digunakan sebagai landasan penyusunan strategi konservasi laut yang lebih terukur dan berkelanjutan.
'Program ini tidak hanya berfokus pada pemulihan lingkungan, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat sebagai aktor utama dalam menjaga ekosistem pesisir'' jelas Ketua Dewan Pengurus Wanadri.
Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah IBU KARANG, yakni model pemberdayaan perempuan pesisir berbasis konservasi lingkungan.
Melalui program tersebut, perempuan di kawasan pesisir akan memperoleh pelatihan konservasi laut, edukasi lingkungan, penguatan kapasitas komunitas, hingga kesempatan mendapatkan sertifikasi selam Open Water berstandar internasional.
Pendekatan tersebut dilakukan untuk memperkuat peran perempuan sebagai penggerak pelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kapasitas ekonomi dan sosial masyarakat pesisir.
WWD menilai keberhasilan konservasi laut tidak hanya bergantung pada rehabilitasi ekosistem, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hasil-hasil konservasi secara mandiri.
Di sisi lain, program ini juga diarahkan untuk mendukung pengembangan ekowisata bahari berbasis masyarakat yang mengedepankan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan warga setempat.
Pengembangan ekowisata tersebut diharapkan mampu menciptakan sumber ekonomi baru tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi aset utama Pulau Buru.
Program Rediscover Buru Moving Forward dirancang sebagai gerakan jangka panjang hingga 2028 dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, akademisi, komunitas lingkungan, sektor swasta, dan masyarakat lokal.
Inisiatif tersebut juga mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain perlindungan ekosistem laut, kesetaraan gender, penanganan perubahan iklim, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, serta penguatan kemitraan pembangunan.
Program konservasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pembangunan masyarakat pesisir, sekaligus mendorong terciptanya model pengelolaan sumber daya laut yang lebih berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.