Cuaca Terasa Panas, Indonesia Masuki Peralihan Musim
foto; BMKG
foto; BMKG
Jakarta, InfoPublik – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia saat ini masih berada dalam masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam Podcast Temu Tamu BMKG. Ia menjelaskan, musim kemarau di Indonesia tidak terjadi secara serentak, melainkan berlangsung bertahap di setiap wilayah.
"Hingga awal Mei 2026, sejumlah daerah telah mulai memasuki musim kemarau, sementara wilayah lain masih mengalami hujan dengan intensitas bervariasi. Masuknya musim kemarau di Indonesia tidak pernah seragam. Ini terjadi secara bertahap, dimulai dari wilayah timur kemudian bergerak ke arah barat,” jelasnya, Selasa (5/5/2026).
Wilayah yang lebih dahulu memasuki musim kemarau meliputi sebagian Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, Gorontalo bagian selatan, serta beberapa wilayah di Maluku seperti Pulau Buru dan Pulau Seram.
Menurutnya, fenomena ini dipengaruhi oleh angin monsun Australia yang membawa massa udara kering dan pertama kali berdampak pada wilayah Indonesia bagian timur. Oleh karena itu, daerah seperti NTT secara konsisten menjadi wilayah yang lebih awal mengalami musim kemarau.
"Sementara itu, wilayah lain seperti Pulau Jawa masih berada pada fase transisi. Untuk DKI Jakarta dan sekitarnya baru akan memasuki musim kemarau pada akhir Mei 2026. Pada masa transisi ini, masyarakat masih berpotensi mengalami hujan, meskipun suhu udara terasa lebih panas atau gerah," ungkapnya.
Hal tersebut disebabkan oleh masih adanya kandungan uap air di atmosfer yang menyimpan panas lebih tinggi dibandingkan udara kering. "Walaupun mulai terasa panas, kondisi ini masih fase peralihan karena sisa uap air dari musim hujan masih cukup tinggi. Karena itu, potensi hujan masih tetap ada,” ujar Ardhasena.
Lebih lanjut dijelaskan, untuk di Pulau Jawa, terdapat karakteristik khusus dalam peralihan musim. Wilayah pesisir utara, seperti sebagian daerah di Karawang dan Bekasi, cenderung lebih dahulu mengalami kondisi kering dibandingkan wilayah dataran tinggi di bagian tengah pulau.
Selain itu, BMKG juga mengungkap adanya wilayah yang tidak memiliki pola musim yang jelas atau disebut sebagai daerah “tidak bermusim”. Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Papua, pesisir barat Sumatra, serta sebagian Kalimantan.
Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor geografis dan lingkungan, seperti keberadaan hutan yang luas serta pengaruh angin lembap dari Samudera Hindia. Di wilayah pesisir barat Sumatra, curah hujan tinggi terjadi sepanjang tahun akibat efek Pegunungan Bukit Barisan yang menghambat pergerakan massa udara.
© Copyright 2026, All Rights Reserved