Jakarta, InfoPublik — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul tidak hanya bertumpu pada kecerdasan akademik, tetapi juga kesehatan fisik, mental, karakter, serta kesiapan menghadapi disrupsi digital dan perubahan iklim.
Pesan itu disampaikan dalam Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026, sebagai bagian dari penguatan sinergi lintas sektor untuk mendorong pendidikan bermutu bagi semua yang dilakukan secara daring dan luring, Senin (9/2/2026).
Menurut Pratikno, pendidikan merupakan fondasi utama dalam agenda besar pembangunan SDM unggul yang menjadi prioritas pemerintah. Karena ruang lingkup pembangunan manusia yang dikoordinasikan Kemenko PMK sangat luas, meliputi pendidikan, kesehatan, keluarga, pemuda, hingga kebencanaan.
Menko PMK menambahkan, pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus didukung oleh peran keluarga, masyarakat, dan lingkungan yang sehat. “Anak bisa saja berprestasi tinggi secara akademik, tetapi jika kesehatannya terganggu, baik fisik maupun mental, maka potensinya tidak akan berkembang optimal,” ujarnya.
Untuk itu, Pratikno mendorong satuan pendidikan tidak hanya berfokus mencetak siswa pintar, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat.
Ia menilai, pembiasaan sederhana seperti cuci tangan, olahraga, hingga lingkungan sekolah yang bersih merupakan bagian penting dalam membentuk generasi tangguh. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menyasar sekolah juga disebut menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat pilar kesehatan anak sejak dini.
Selain kesehatan fisik, ia menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental peserta didik.
Urbanisasi dan digitalisasi yang kian masif, menurutnya, menghadirkan tantangan baru bagi perkembangan psikologis anak dan remaja. Karena itu, keterlibatan orang tua dan masyarakat dinilai menjadi faktor kunci. “Waktu anak di rumah dan di masyarakat jauh lebih besar dibandingkan di sekolah. Maka pendidikan harus menjadi gerakan bersama, bukan hanya tugas guru,” tegas Menko PMK.
Dalam menghadapi era disrupsi, Pratikno menekankan pentingnya literasi digital dan kecerdasan buatan (AI). Pemerintah, melalui Kemenko PMK, akan meluncurkan platform pembelajaran terbuka yang dapat diakses anak, guru, dan orang tua untuk meningkatkan kecakapan digital secara bijak.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi tidak bisa dihindari, namun harus diimbangi dengan kemampuan adaptasi dan etika penggunaan. “AI bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk kemajuan, tetapi jika tidak digunakan secara cerdas, justru berpotensi menimbulkan risiko baru,” katanya.
Ia juga mengingatkan tingginya durasi penggunaan gawai pada generasi muda yang mencapai rata-rata berjam-jam setiap hari. Untuk itu, ia mendorong pergeseran pola dari “screen time” menuju “green time”, yakni memperbanyak interaksi dengan lingkungan nyata, aktivitas fisik, dan pengalaman sosial yang membangun karakter.
Selain disrupsi digital, tantangan besar lain yang perlu diantisipasi adalah perubahan iklim. Pratikno menilai sekolah memiliki peran strategis sebagai ruang pembelajaran praktik kehidupan berkelanjutan, mulai dari kebiasaan memilah sampah, mengurangi pemborosan makanan, hingga menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Ia mengaitkan hal itu dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan pengelolaan sampah berbasis energi. Menurutnya, pembiasaan sederhana di sekolah dapat memberi dampak besar jika dilakukan secara konsisten oleh generasi muda. “Sekolah bukan hanya tempat belajar di kelas, tetapi juga laboratorium kehidupan untuk membentuk manusia unggul, sehat, peduli lingkungan, dan siap menghadapi perubahan,” ujar Pratikno.
Menutup arahannya, ia mengajak kepala dinas pendidikan, kepala sekolah, dan para guru menjadi penggerak kolaborasi lintas pihak. Peran mereka dinilai strategis sebagai “orkestrator” yang menghubungkan pendidikan dengan keluarga, masyarakat, dan berbagai program pembangunan manusia.
Dengan sinergi yang kuat, Pratikno optimistis pendidikan nasional dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.