Denpasar, InfoPublik — Di era banjir informasi, peran visual menjadi jembatan penting dalam menyampaikan pesan publik yang faktual, cepat, dan menggugah. Hal itu ditegaskan Roderick Adrian, jurnalis foto dan video Kompas.com, dalam sesi “IGID Menyapa” bertema Sehat Sejak Dini untuk Generasi Emas di Bali Sunset Road Convention Center, Rabu (29/10/2025).
Roderick Adrian menjelaskan, foto bukan sekadar dokumentasi, tetapi media untuk mengarahkan fokus publik terhadap pesan utama kebijakan pemerintah. “Yang penting dalam foto adalah apa yang ingin kita sampaikan. Begitu orang melihatnya, mereka langsung tahu konteks dan maknanya,” ujarnya.
Menurutnya, jurnalis maupun praktisi humas pemerintah harus memahami tiga unsur utama dalam foto komunikasi publik: angle (sudut pengambilan), timing (momen), dan relevansi konteks. “Timing adalah soal kapan momen paling pas diambil. Misalnya ketika anak-anak mengangkat tangan saat belajar — itu bukan hanya gambar, tapi simbol semangat belajar,” jelasnya.
Roderick memaparkan sejumlah contoh liputan foto lapangan yang relevan dengan program pemerintah, seperti kegiatan cek kesehatan gratis, bursa kerja Kementerian Ketenagakerjaan, hingga kunjungan lapangan pejabat publik. “Foto kegiatan harus bisa menggambarkan keseluruhan suasana: ada antrean, ada interaksi, dan ada aksi layanan. Dari situ publik merasa kegiatan itu nyata dan berdampak,” katanya.
Ia mencontohkan liputan mendadak yang dilakukan saat Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri melakukan sidak ke penampungan TKW pada 2014. “Sebagai jurnalis, kita harus siap menangkap momen. Saat itu Menteri tiba-tiba lompat pagar karena pintunya tak dibuka — itu momen yang autentik, menggambarkan kepedulian pejabat terhadap masalah nyata,” kenangnya.
Roderick juga menyoroti peran media sosial sebagai kanal utama distribusi berita dan konten kebijakan. Kompas.com, ujarnya, aktif di seluruh platform — TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, dan X (Twitter) — untuk menjangkau audiens muda seperti Generasi Z dan Alpha. “Pengguna media sosial sekarang luar biasa banyak, bahkan anak SMP sudah aktif menggulir konten. Karena itu, penyebaran berita kebijakan publik juga harus menyesuaikan ritme dan gaya visual yang disukai generasi digital,” terangnya.
Ia menambahkan, konten berbasis grafis data (infografik) menjadi solusi efektif ketika tidak tersedia foto lapangan. “Kalau tidak ada foto, gunakan data. Misalnya target 60 juta orang menerima cek kesehatan gratis — itu bisa divisualkan dalam grafis dengan foto pejabat terkait. Hasilnya bisa menjangkau ratusan ribu audiens,” jelasnya, seraya menyebut salah satu unggahan Kompas.com mencapai 260 ribu tayangan hanya dari satu grafis data.
Dalam sesi diskusi, Roderick juga menekankan pentingnya pengarsipan foto dan data komunikasi oleh instansi pemerintah. “Foto lama tetap relevan jika konteksnya diperbarui. Misalnya, data terbaru penerima cek kesehatan gratis naik dari 41 juta menjadi 46 juta orang, tinggal ubah angka dan teks — foto yang sama tetap bisa digunakan,” ujarnya.
Untuk itu, ia mendorong humas pemerintah untuk membuat sistem penyimpanan foto digital terstruktur per bulan dan jenis kegiatan agar mudah digunakan kembali dalam publikasi. “Kalau arsip rapi, publikasi jadi cepat, konsisten, dan efisien,” tambahnya.
Roderick menutup dengan pesan bahwa kekuatan komunikasi publik pemerintah tidak hanya pada visual yang menarik, tetapi juga pada data yang akurat dan terukur. “Kita harus masif dengan data positif. Kalau yang viral hanya isu negatif, maka citra kebijakan akan tertinggal. Humas pemerintah harus berani tampil dengan data, foto, dan narasi yang kuat,” tegasnya.
Acara IGID Menyapa menjadi ruang berbagi strategi komunikasi lintas lembaga antara insan media dan pemerintah, untuk memperkuat penyebaran informasi publik yang edukatif, inspiratif, dan berbasis bukti.