Jakarta, InfoPublik - Pentingnya membangun ekosistem kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri. Hal ini diperlukan agar proses penciptaan sumber daya manusia (SDM) unggul dapat terintegrasi dan melekat dalam satu tujuan.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko PMK Warsito saat menjadi pembicara kunci pada Peluncuran dan Diskusi Publik Program Penguatan Ekosistem Kemitraan untuk Pengembangan Inovasi Berbasis Potensi Daerah di Aceh pada Senin (16/10/2023).
"Penguatan ekosistem kemitraan berorientasi untuk menumbuhkan inovasi berbasis potensi daerah melalui kemitraan strategis sehingga dapat memperkuat daya saing ekonomi Indonesia," kata Warsito seperti yang dikutip InfoPublik Selasa (17/10/2023).
Program pendidikan vokasi sistem ganda dapat mencontoh Negera Jerman, kesempatan untuk praktek atau magang di industri selama sekitar 70 persen dari total masa pendidikan dan 30 persen mendapatkan pelajaran atau mata kuliah teori di sekolah vokasi.
Warsito mengatakan pelaksanaan Ausbildung mensyaratkan adanya komitmen kemitraan yang erat antara satuan pendidikan vokasi dengan industri di daerah, sehingga setiap satu daerah dengan daerah lainnya punya corak khas yang berbeda.
Ia menekankan pentingnya untuk memiliki kekhasan dan perbedaan berdasarkan potensi bangsa dengan potensi kekhasan daerah salah satunya dengan keterampilan berwirausaha.
"Ketika berbicara tentang definisi vokasi melekat di dalamnya selain keterampilan juga adanya kewirausahaan dan ini menjadi kekhasan masing-masing provinsi yang ada di Indonesia," kata Warsito.
Ia mengatakan pendidikan vokasi pun kini tengah mengalami transformasi yang ditandai dengan merdeka belajar, dimana peserta didik kini lebih leluasa untuk memperoleh pembelajaran yang tidak terbatas hanya di ruang kelas.
Namun juga melalui berbagai pengalaman di luar kelas, bahkan langsung di dunia kerja, misalnya melalui program praktek atau magang.
Warsito mengatakan setiap tahap transformasi yang tengah diupayakan tersebut nyatanya tidak terlepas dari peran kemitraan.
"Selama ini, tantangan terbesar melahirkan inovasi dari proses kolaborasi adalah ekosistem kemitraan yang mumpuni," kata Warsito.
Ia meminta Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV) Aceh harus segera menyusun strategi vokasi daerah menjalankan Peraturan Presiden 68 Tahun 2022 dan Permenko PMK 6/2022.
Empat komponen utama zonasi vokasi harus dilakukan secara selaras, yaitu potensi sumber daya ekonomi daerah, pendidikan vokasi, pelatihan vokasi, dan arah kebijakan pengembangan daerah.
"Kegiatan ini memiliki arti penting untuk memastikan ekosistem kemitraan antara satuan pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi dengan stakeholder terkait sesuai dengan pengembangan industri dan potensi daerah," kata Warsito.