Jakarta, InfoPublik - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Republik Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Tehran menolak tawaran mediasi dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dalam upaya meredakan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Penolakan itu didasari pada sikap prinsip Iran yang tidak akan berunding dengan Amerika Serikat (AS) pascapenyerangan Negeri Paman Sam bersama Israel itu ke wilayah Iran sejak 28 Februari 2026 hingga kini. Pernyataan tersebut disampaikan Dubes Boroujerdi, melalui keterangan resmi, Kamis (5/3/2026).
Penolakan itu merespons pernyataan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang menyatakan kesiapan Indonesia untuk memfasilitasi dialog guna menciptakan kembali kondisi keamanan yang kondusif, serta kesediaan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator. "Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh, dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi," tegas Dubes Boroujerdi seraya tetap memberikan apresiasi atas niat Indonesia menjadi mediator konflik AS-Israel vs Iran.
Dubes Boroujerdi mengatakan, Iran telah tiga kali berunding dengan Amerika Serikat, namun pengalaman pahit selalu berujung pada pelanggaran perjanjian oleh pihak Washington atau bahkan mereka mendapatkan serangan militer.
Boroujerdi merinci, negosiasi pertama terkait program nuklir yang menghasilkan kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2015.
Kesepakatan yang melibatkan Iran dan negara-negara besar dunia itu kemudian ditinggalkan AS secara sepihak. "Negosiasi kedua adalah lima putaran kami melakukan negosiasi dengan mereka dan di tengah-tengah negosiasi mereka telah menyerang negara kami," ucapnya, merujuk pada serangan pada Juni 2025 lalu.
Adapun negosiasi ketiga, menurut Boroujerdi, berlangsung dengan Oman sebagai mediator.
Delegasi Iran dan AS tengah melakukan negosiasi tidak langsung putaran ketiga di Jenewa, Swis, sebelum akhirnya operasi militer AS-Iran dilancarkan.
Merujuk pada pengalaman negosiasi yang berakhir di tengah jalan tersebut, Dubes Boroujerdi menekankan bahwa Iran tidak akan lagi membuka ruang negosiasi dan akan memperjuangkan kemenangan. "Ini berkaitan dengan komitmen terhadap sebuah negosiasi dan jaminan akan berlangsungnya sebuah negosiasi sampai pencapaian hasil. Untuk kali ini kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apapun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran," tegasnya.
Selain Indonesia, Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyampaikan kesiapan untuk menjadi mediator.
Menurut pernyataan dari Istana Kremlin, Putin menawarkan diri untuk bertindak sebagai perantara dengan menyampaikan keluhan Uni Emirat Arab (UEA) tentang serangan tersebut kepada Iran. Tawaran itu disampaikan Putin saat melakukan panggilan telepon dengan Presiden UEA, Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan Presiden Prabowo Subianto siap menjadi mediator apabila Iran dan Amerika Serikat berkeinginan untuk membuka ruang mediasi. "Jika kedua belah pihak berkeinginan (mediasi), ya kita, Pak Presiden bersedia untuk menjadi mediator. Tetapi kalau misalnya ada pandangan seperti itu (kemungkinan tidak ada negosiasi lanjutan), ya kita kembalikan kepada mereka," ujar Sugiono melalui keterangan resmi, Selasa (3/3/2026).
Adapun Presiden RI Prabowo Subianto melalui Menlu RI Sugiono, pada saat bertemu Dubes Iran, menyampaikan surat kepada Pemerintah Republik Islam Iran yang berisikan pernyataan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Repubilk Islam Iran, Ayatuillah Ali Khamenei.