Jakarta, InfoPublik – Indonesia kembali memperkuat perannya dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) penerbangan dunia dengan melatih 60 profesional penerbangan dari 24 negara melalui Indonesia-ICAO Developing Countries Training Programme (DCTP) 2026. Program ini menjadi wadah berbagi pengetahuan dan praktik terbaik untuk memperkuat keselamatan penerbangan global.
Program Indonesia-ICAO DCTP 2026 diselenggarakan Kementerian Perhubungan melalui Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Udara (PPSDMPU) sejak 31 Agustus hingga 4 September 2026 di Indonesia.
Penyelenggaraan tahun ini sekaligus menandai tahun keenam keterlibatan aktif Indonesia dalam program pengembangan kapasitas global yang digagas bersama International Civil Aviation Organization (ICAO).
Kepala PPSDMPU M. Abrar Tuntalanai dalam keterangan persnya yang diterima InfoPublik Kamis (3/9/2026) mengatakan program tersebut menjadi bagian dari komitmen Indonesia mendukung pengembangan kapasitas penerbangan negara-negara anggota ICAO melalui pelatihan berkualitas dan kerja sama internasional.
“Program ini diarahkan untuk memperkuat kompetensi tenaga pelatihan dan profesional keselamatan penerbangan sekaligus mendorong penerapan ICAO Standards and Recommended Practices (SARPs),” ujar Abrar di Tangerang, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, Indonesia-ICAO DCTP 2026 juga sejalan dengan inisiatif ICAO “No Country Left Behind”, yang mendorong kesetaraan kesempatan bagi negara anggota untuk meningkatkan kapasitas penerbangan melalui pelatihan dan kolaborasi internasional.
Sebanyak 60 profesional yang mengikuti program tersebut berasal dari 24 negara, yakni Angola, Bangladesh, Burkina Faso, Ethiopia, Ghana, Indonesia, Iran, Kazakhstan, Kenya, Liberia, Madagaskar, Malaysia, Namibia, Nigeria, Filipina, Rwanda, Sri Lanka, Sudan Selatan, Tanzania, Timor-Leste, Togo, Türkiye, Ukraina, dan Vietnam.
Program dilaksanakan melalui empat pelatihan, yakni Development TPM for an ATO, Training Managers Course, Training Instructor Course, dan Ramp Safety Awareness.
Tiga program pertama berlangsung selama lima hari, sedangkan Ramp Safety Awareness dilaksanakan selama tiga hari.
Seluruh pelatihan dilakukan secara tatap muka dengan pendekatan interaktif. Peserta tidak hanya mendapatkan materi di ruang kelas, tetapi juga mengikuti diskusi, pembahasan kasus, pertukaran pengalaman, dan berbagi praktik terbaik di bidang penerbangan.
Indonesia-ICAO DCTP 2026 diselenggarakan PPSDMPU melalui Politeknik Penerbangan Surabaya bekerja sama dengan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) melalui Program Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST).
Kepala Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri Kemensetneg Noviyanti mengatakan pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan di organisasi masing-masing sehingga memberikan dampak berkelanjutan terhadap keselamatan penerbangan.
“Program ini diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan dan kompetensi yang relevan bagi peserta, tetapi juga membuka ruang untuk berbagi pengalaman, praktik terbaik, serta memperkuat kerja sama antarprofesional penerbangan dari berbagai negara,” ujarnya.
Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan (BPSDMP) Suharto mengatakan kolaborasi antara Kemenhub dan Kemensetneg menunjukkan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam peningkatan kapasitas SDM negara-negara berkembang, khususnya di sektor penerbangan.
“Kolaborasi antara Kementerian Perhubungan dan Kementerian Sekretariat Negara dalam penyelenggaraan Indonesia-ICAO DCTP 2026 ini merupakan wujud nyata komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam pembangunan kapasitas sumber daya manusia di negara-negara berkembang pada sektor transportasi, khususnya penerbangan,” kata Suharto.
Menurut Suharto, kerja sama semacam ini diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat tidak hanya bagi negara peserta, tetapi juga bagi Indonesia melalui penguatan jejaring dan kerja sama internasional.
Program tersebut juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang tidak hanya menjadi pengguna dan pengembang sistem penerbangan, tetapi turut berbagi pengalaman serta kapasitas dengan negara lain.
Melalui Indonesia-ICAO DCTP 2026, Indonesia mendorong terbentuknya jejaring profesional penerbangan lintas negara yang memiliki kompetensi dan pemahaman terhadap standar keselamatan internasional.
Penguatan kualitas SDM dan keselamatan penerbangan tersebut sejalan dengan semangat Asta Cita, terutama dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia serta memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama internasional. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, peningkatan kapasitas SDM penerbangan juga menjadi bagian penting dalam menjaga konektivitas nasional sekaligus mendukung transportasi udara yang aman, efisien, dan berkelanjutan.
Dengan melibatkan 60 profesional dari 24 negara, Indonesia-ICAO DCTP 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai program pelatihan, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas penerbangan global melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik.
"Pada akhirnya, semakin kuat kapasitas SDM penerbangan di berbagai negara, semakin besar pula peluang terciptanya sistem penerbangan sipil global yang aman, efisien, inklusif, dan berkelanjutan," pungkasnya.