Jakarta, InfoPublik - Perjalanan Indonesia dalam mengarungi arus transisi energi bersih kini memasuki babak baru. Di tengah komitmen global untuk mengurangi emisi karbon, langkah nyata terus diayunkan dari bumi nusantara melalui pemanfaatan bahan bakar nabati. Peluncuran program mandatori biodiesel 50 persen atau B50 menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia kian mantap menata masa depan energi yang lebih mandiri dan ramah lingkungan.
Geliat transisi energi terasa hingga ke berbagai penjuru daerah. Meski mandatori B50 telah resmi dimulai sejak 1 Juli 2026, pemerintah memberikan ruang transisi selama tiga bulan untuk menghabiskan sisa pasokan B40 sekaligus menyelesaikan uji coba di lapangan.
Capaian distribusi bahan bakar ramah lingkungan terus menunjukkan perkembangan signifikan. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR pada Selasa (8/9/2026), Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, memaparkan tingginya penetrasi penyaluran B50 di tingkat konsumen. "Kalau kita melihat jumlah SPBU di Indonesia menurut data dari Patra Niaga, ini sudah ada 94 persen dan yang sudah menyalurkan sekitar 6.050 lokasi, 362 masih dalam masa transisi," ungkap Eniya.
Eniya mengatakan, hingga awal September, total volume biodiesel yang tersalurkan telah mencapai 10,69 juta kiloliter (KL). Evaluasi teknis pada berbagai sektor kendaraan dan mesin pun terus difinalisasi. "Kalau untuk yang lain untuk sektor otomotif, sektor alsintan, sektor alat berat pertambangan, angkutan laut, dan pembangkit listrik atau genset telah selesai dilaporkan dan saat ini kami masih menunggu beberapa hasil yang dari perkeretaapian. Jadi targetnya selesai di Desember 2026," tuturnya.
Di balik angka-angka capaian tersebut, terdapat perjuangan logistik menembus bentang alam Indonesia yang dinamis. Tantangan geografis dari pesisir hingga daerah pedalaman menjadi cerita tersendiri dalam menghadirkan energi hijau secara merata.
Sedangkan, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo, menjelaskan kondisi terkini terkait titik distribusi terminal BBM yang hampir seluruhnya telah menyalurkan B50, meski ada dinamika cuaca di wilayah tertentu.
"Satu terminal yang saat ini belum menyalurkan B50 adalah Terminal Sintang. Ini karena ada faktor cuaca di mana kami masih ada kesulitan untuk masuk alur sungai di terminal Sintang, karena faktor kendala musim kemarau sehingga beberapa sungai ini mengalami penyusutan," ungkap Mars Ega.
Selain persoalan alur sungai yang surut, kendala distribusi ke kawasan terpencil juga menjadi perhatian khusus dalam proses penyesuaian di lapangan.
"Masih terdapat 362 SPBU yang mendistribusikan B40 ini karena faktor handling dan distribusi khususnya ini sebagian besar ada di wilayah-wilayah yang remote area," kata Mars Ega.
Program B50 yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (9/7/2026) di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek mengombinasikan 50 persen minyak sawit (FAME) dan 50 persen solar fosil. Berlandaskan Permen ESDM Nomor 4 Tahun 2025 dan Kepmen ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026, penerapan B50 diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong pemanfaatan potensi lokal yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.