Jakarta, InfoPublik – Menjadi pelayan tamu Allah di Tanah Suci merupakan sebuah amanah suci yang membutuhkan lebih dari sekadar kesiapan fisik dan mental.
Menyongsong penyelenggaraan ibadah haji 1448 Hijriah atau 2027 Masehi, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mengambil langkah progresif untuk memastikan kualitas para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).
Berkolaborasi dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN), pemerintah kini sepenuhnya menerapkan sistem Computer Assisted Test (CAT) guna meruntuhkan stigma seleksi tertutup.
Mekanisme ini diyakini mampu menghadirkan proses rekrutmen yang jauh lebih objektif, terukur, dan transparan sejak tahap paling awal.
Geliat transformasi tata kelola ini terlihat jelas saat Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf Hasyim, meninjau langsung jalannya seleksi calon PPIH dari unsur TNI dan Polri di Kantor BKN Pusat, Jakarta, seperti dikutip InfoPublik, Rabu (14/10/2026).
Di hadapan 171 abdi negara yang tengah bersaing di depan layar monitor, Irfan melontarkan apresiasi atas keandalan teknologi CAT BKN yang mampu menyajikan hasil ujian secara seketika atau real-time.
"Kami meyakini, mekanisme digital ini sukses memangkas celah subjektivitas, sehingga hasil seleksi yang kelak diperoleh menjadi kredibel dan tak terbantahkan," ujar Irfan.
Bagi Irfan, kepastian standar penilaian ini merupakan fondasi mutlak untuk memilih individu-individu unggul yang siap memikul tanggung jawab besar di Arab Saudi.
Skala seleksi yang masif ini sejatinya telah bergulir secara terpadu sejak akhir September lalu.
Koordinasi Kemenhaj dan BKN sukses menjaring 1.344 peserta pada gelombang pertama seleksi calon PPIH Arab Saudi dan PPIH Kloter Non-Tenaga Kesehatan yang digelar serentak di 35 titik lokasi unit pelaksana teknis BKN di seluruh penjuru daerah.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj, Puji Raharjo, memaparkan, saringan ketat ini dikhususkan untuk mengisi enam layanan krusial.
Enam pilar tersebut mencakup bimbingan ibadah, akomodasi, konsumsi, transportasi, layanan khusus jemaah lansia dan disabilitas, serta tim Media Center Haji.
Puji menekankan, panitia tidak hanya memburu kecerdasan manajerial, melainkan menuntut integritas moral dan orientasi pelayanan yang tulus.
Tantangan riil di lapangan kelak dipastikan sangat dinamis dan menguras emosi, terutama ketika para petugas harus merawat ragam kebutuhan jemaah lanjut usia maupun mereka yang menyandang disabilitas.
Oleh karena itu, standardisasi ujian melalui sistem CAT ini menjadi palang pintu pertama untuk menguji ketahanan dan kompetensi peserta.
Melalui penyaringan berkeadilan ini, para calon petugas diajak meresapi makna bahwa peran mereka bukanlah sekadar rutinitas pekerjaan, melainkan manifestasi murni dari ibadah sosial.
Menteri Irfan menaruh harapan besar agar ekosistem seleksi ini sukses melahirkan barisan pelayan haji berdedikasi tinggi yang ikhlas mendampingi jemaah hingga menuntaskan seluruh rukun haji. (Humas BKN)