Penanganan Layanan Kesehatan IGD di KKHI Makkah 24 Jam
Jakarta, InfoPublik - Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah mulai beroperasi 1 Juni 2023 dan memberikan pelayanan kesehatan 24 jam setiap harinya melalui Instalasi Gawat Daruratnya (IGD).
IGD itu bertugas untuk memberikan penanganan kegawat darutan pada jemaah haji sehingga risiko kecacatan atau dampak penyakit yang lebih parah dapat diminimalkan.
Penanggung jawab IGD KKHI Makkah dr. Netty Nurnaningtyas, Sp.EM menyampaikan bahwa untuk memberikan pelayanan yang yang optimal kepada jemaah haji selama 24 jam dibentuk tiga tim dokter yang terdiri dari lintas bidang spesialisasi.
“Untuk menunjang keefektifan operasional kita membentuk 3 tim dokter jaga yang terdiri dari berbagai bidang spesialisasi,” kata dr. Netty pada Selasa (20/6/2023).
Ia melanjutkan, beberapa kasus penyakit yang paling banyak ditangani oleh IGD KKHI Makkah yaitu kasus penyakit paru seperti sesak napas yang bisa disebabkan karena infeksi paru pneumonia dan infeksi paru kronis yang kemudian terjadi serangan akut saat di tanah suci.
Kasus kedua yang banyak diterima IGD KKHI Makkah adalah penyakit jantung. Jemaah haji dirawat dengan penyakit jantung yang ditemui banyak dipicu oleh aktifitas yang berlebihan serta komorbit yang diderita sejak di Indonesia.
Kemudian penyakit terbanyak yang dirawat di IGD KKHI Makkah adalah diabetes melitus, hipertensi, merupakan penyakit komorbit yang cukup berat. Penyakit ini diderita jemaah haji sejak Indonesia dan di tanah suci mengalami perberatan kondisi.
Lebih lanjut dr. Netty menyampaikan banyak menemui kasus trauma atau cedera yang dialami oleh jemaah haji lansia. Kasus trauma yang ditemui banyak terjadi pada jemaah Lansia saat melakukan ibadah yaitu sai dan tawaf.
Kemungkinan Lansia cenderung mudah lelah sehingga mudah terjatuh dan terpeleset. Hal ini menjadi perhatian tenaga kesehatan bahwa tidak hanya penyakit komorbid yang perlu diwaspadai pada jemaah haji Lansia.
"Namun juga penyakit yang bisa ditimbulkan dari aktivitas seperti trauma atau cedera," kata dr. Netty.
Beberapa penyakit yang ditemui di IGD KKHI Makkah dipicu beberapa faktor seperti cuaca panas ekstrim hingga mencapai 46 derajat celsius di mana sangat berbeda dengan cuaca di Indonesia.
Selanjutnya aktivitas fisik yang berlebihan dan melewati batas kemampuan dari para jemaah haji. Keinginan besar untuk beraktifitas namun cuaca tidak mendukung.
Berdasarkan pengalamannya, dr. Netty pernah mendapati jemaah haji dirujuk ke IGD KKHI Makkah dalam kondisi kelelahan dan setelah ditanya ternyata baru empat hari sampai di Makkah dan sudah menjalankan umrah sebanyak 4 kali.
"Kondisi ini sering terjadi karena keinginan yang besar dari jemaah haji untuk beraktifitas namun melebihi kemampuan tubuhnya,” kata dr. Netty.
Dari pengalaman selama bertugas di IGD KKHI Makkah, dr. Netty menyampaikan bahwa 90 persen jemaah yang mendapatkan perawatan di IGD adalah jemaah haji Lansia. Para jemaah Lansia ini sebagian besar terkendala bahasa dan beberapa tanpa pendamping.
Oleh karena itu, kata dr. Netty perlu memiliki pendekatan yang berbeda untuk edukasi terutama bagi jemaah haji sakit yang tanpa pendamping.
Pendekatan tenaga kesehatan yang bertugas di IGD KKHI Makkah dinilai baik oleh beberapa jemaah haji sakit. dr. Netty menyampaikan bahwa beberapa pasien yang tadinya beberapa hari tidak berselera untuk makan minum.
“Alhamdulillah, beberapa jemaah merasa senang bahkan yang sebelumnya dalam beberapa hari tidak berselera untuk makan minum, ketika mendapatkan perawatan di IGD mereka merasa senang dan sumringah,” kata dr. Netty.
Foto: Kemenkes
© Copyright 2026, All Rights Reserved