Jakarta, InfoPublik – Ancaman musim hujan membuat pemulihan sekolah terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), berpacu dengan waktu. Tenda dan terpal yang selama ini menjadi ruang belajar darurat dinilai tidak akan memadai untuk menopang kegiatan belajar dalam beberapa bulan ke depan.
Untuk itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan 672 ruang kelas sementara pada tahap pertama dengan total bantuan sekitar Rp3,5 miliar. Ruang belajar tersebut dirancang lebih tahan terhadap cuaca dengan memanfaatkan bahan lokal dan atap yang lebih kuat, sehingga dapat digunakan sekitar empat hingga enam bulan sambil menunggu pemulihan sekolah secara permanen.
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi mengatakan, penyediaan kelas sementara menjadi bagian penting untuk memastikan pembelajaran tetap berlangsung sekaligus mengantisipasi kondisi cuaca di wilayah terdampak.
“Satu hal yang menjadi perhatian adalah datangnya musim hujan. Tenda dan terpal darurat tidak akan cukup untuk beberapa bulan ke depan. Karena itu, kami mengarahkan penyediaan ruang darurat yang lebih tahan,” ujar Saryadi dalam Taklimat Media Perkembangan Penanganan Bencana NTT di Bidang Pendidikan secara daring, Senin (14/9/2026).
Bantuan tersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kualitas ruang kelas sementara yang sebelumnya dibangun secara swadaya oleh warga sekolah. Prioritas diberikan kepada sekolah dengan kerusakan berat serta wilayah yang lebih dahulu memasuki musim hujan.
Kebutuhan ruang belajar sementara tersebut tidak terlepas dari besarnya dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores sejak 15 Agustus 2026. Berdasarkan pemantauan hingga 10 September 2026, sebanyak 2.447 satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA, SMK, dan pendidikan khusus terdampak. Dampak tersebut dirasakan oleh 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan.
Sebanyak 62.722 warga satuan pendidikan juga sempat berada di pengungsian, terdiri atas 54.494 peserta didik dan 8.228 guru serta tenaga kependidikan. Dari sisi infrastruktur, 730 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat. Dari 13.750 ruang kelas yang telah dilaporkan, sebanyak 8.728 ruang dinyatakan rusak. Data tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan, verifikasi, dan validasi yang dilakukan pemerintah.
Meski menghadapi kerusakan besar, layanan pendidikan tidak berhenti. Sebanyak 1.960 satuan pendidikan masih menyelenggarakan pembelajaran dalam moda darurat, baik menggunakan tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas sementara. Sementara itu, 487 satuan pendidikan telah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka secara normal setelah kondisi ruang kelas dinyatakan aman.
“Pembelajaran terus berjalan. Ini adalah hasil kerja keras bersama antara pihak sekolah, pemerintah daerah, dan seluruh mitra di lapangan,” kata Saryadi.
Sebelum menyiapkan ruang kelas sementara yang lebih tahan terhadap cuaca, Kemendikdasmen telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat senilai Rp5,5 miliar ke wilayah terdampak.
Selain itu, sebanyak 40 tenda pengungsian yang sudah tidak digunakan dialihkan menjadi ruang kelas darurat. Sekolah bersama masyarakat juga membangun ruang belajar sementara menggunakan bambu, kayu, dan terpal dengan dukungan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan serta belanja tidak terduga pemerintah daerah.
Namun, pola tersebut memiliki keterbatasan ketika memasuki musim hujan. Karena itu, pembangunan ruang kelas sementara menjadi jembatan penting antara fase tanggap darurat dan pembangunan kembali sekolah secara permanen.
Saryadi mengatakan, Kemendikdasmen bersama pemerintah daerah dan tim teknis terus melakukan asesmen kondisi bangunan. Penilaian dilakukan dengan klasifikasi hijau, kuning, dan merah. Ruang kelas berkategori kuning dan merah tidak digunakan sampai dinyatakan aman. Sementara bangunan dengan kerusakan ringan dapat digunakan kembali setelah bagian yang membahayakan diperbaiki. "Sebelum kembali ke ruang kelas, peserta didik juga mendapatkan pembekalan kesiapsiagaan dan mengikuti simulasi evakuasi," ujarnya.
Saryadi menerangkan, keberlangsungan pembelajaran menjadi semakin penting bagi peserta didik yang berada di jenjang akhir. Pembelajaran tatap muka terbatas telah dimulai secara bertahap sejak akhir Agustus hingga awal September 2026 dengan memprioritaskan peserta didik kelas 6, 9, dan 12.
"Prioritas tersebut diberikan agar peserta didik tetap memiliki waktu mempersiapkan diri menghadapi Tes Kemampuan Akademik pada Oktober 2026, meski kondisi sekolah belum sepenuhnya pulih," ucapnya.
Kebijakan pembelajaran pascabencana mengacu pada Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1 Tahun 2026 tentang penyelenggaraan pembelajaran pada satuan pendidikan terdampak bencana.
Kebijakan tersebut menempatkan keselamatan peserta didik dan pendidik sebagai prioritas utama, memberikan fleksibilitas terhadap moda dan waktu pembelajaran sesuai kondisi lapangan, serta memastikan dukungan psikososial bagi warga satuan pendidikan.