Jakarta, InfoPublik - Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Provinsi Kalimantan Barat mengalami penurunan signifikan dari 134 titik menjadi 39 titik. Meski demikian, Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat operasi pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, meny meny meny berturut-turut Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Selatan, dan Jambi.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, secara nasional terdeteksi 569 hotspot high confidence. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 395 titik pada hari sebelumnya.
"Penurunan paling menonjol terjadi di Kalimantan Barat, dari 134 menjadi 39 hotspot high confidence. Sementara itu, Kalimantan Tengah dengan 96 titik menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di antara enam provinsi prioritas sehingga penguatan patroli, groundcheck, pemadaman, dan dukungan operasi udara terus dilakukan," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Ristianto Pribadi dalam rilis Kementerian Kehutanan di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Rincian hotspot high confidence pada enam provinsi prioritas tersebut mencatat Kalimantan Tengah sebanyak 96 titik, Kalimantan Barat 39 titik, Sumatra Selatan 34 titik, Riau 18 titik, Kalimantan Selatan 9 titik, dan Jambi 2 titik.
Perkembangan hotspot tersebut masih bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca maupun bahan bakar di lapangan. Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga setiap indikasi tetap diverifikasi melalui pengecekan di lapangan.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, serta dunia usaha terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, hingga pendinginan pada lokasi yang berpotensi mengalami penyalaan kembali. Khusus pada ekosistem gambut, pembasahan dan pendinginan menjadi perhatian utama karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Pemerintah juga menyiagakan 53 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Sebanyak 34 armada digunakan untuk operasi water bombing, sedangkan 19 armada difungsikan untuk patroli udara serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pengerahan armada udara dilakukan berdasarkan hasil pemantauan hotspot, verifikasi kondisi lapangan, perkembangan kebakaran, dan kondisi meteorologis. OMC disiagakan untuk memanfaatkan potensi awan guna membantu pembasahan lahan.
Dari sisi pemantauan PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori kualitas udara baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan masih menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan pada sebagian area di Kalimantan terpantau kategori berbahaya.
Berdasarkan pengamatan meteorologi penerbangan BMKG, asap masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah prioritas. Jarak pandang di Pontianak tercatat sekitar 1,2 kilometer dengan kondisi berasap, Palangka Raya sekitar 3 kilometer berasap, dan Jambi sekitar 2 kilometer berasap. Sementara itu, Pekanbaru memiliki jarak pandang sekitar 6 kilometer, Palembang 10 kilometer atau lebih, dan Banjarmasin 10 kilometer atau lebih dengan kondisi cerah berawan.
Kondisi kualitas udara dan jarak pandang menjadi indikator yang terus dipantau selain hotspot dan kondisi api di lapangan untuk menentukan prioritas operasi pengendalian. Kementerian Kehutanan bersama seluruh pihak terkait melakukan pemantauan terpadu terhadap hotspot, kondisi kebakaran, kualitas udara, cuaca, curah hujan, sebaran asap, serta jarak pandang.
Masyarakat diimbau untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran, masyarakat diminta segera melapor melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor telepon 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau posko.karhutla@kehutanan.go.id agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin.