ISPA Mendominasi Kasus Penyakit Pascagempa NTT
Data Kasus Penyakit Dampak Gempa Bumi Nusa Tenggara Timur. (Sumber: Kemenkes)
Data Kasus Penyakit Dampak Gempa Bumi Nusa Tenggara Timur. (Sumber: Kemenkes)
Jakarta, InfoPublik – Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan di wilayah terdampak gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga 10 September 2026 pukul 07.30, Kementerian Kesehatan mencatat 25.017 kasus ISPA di enam kabupaten terdampak.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati mengatakan kasus tersebut ditemukan di Kabupaten Sikka, Nagekeo, Ngada, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Selain ISPA, dermatitis dan diare juga menjadi penyakit yang banyak dilaporkan, masing-masing sebanyak 1.573 kasus dan 1.512 kasus.
“Kasus yang paling banyak dilaporkan adalah ISPA, kemudian dermatitis dan diare,” ujar Widyawati dalam pemaparan perkembangan penanganan kesehatan pascagempa NTT, Kamis (10/9/2026).
Banyaknya kasus ISPA menjadi perhatian karena puluhan ribu warga masih berada di pengungsian. Data Kemenkes menunjukkan jumlah pengungsi mencapai 55.811 orang, sementara 215 orang mengalami luka berat, 1.552 orang mengalami luka ringan yang menjalani rawat jalan, dan 135 orang meninggal dunia.
Kondisi pengungsian membuat kebutuhan terhadap layanan kesehatan dan pencegahan penyakit menjadi semakin penting. Kepadatan tempat tinggal sementara serta persoalan air bersih dan sanitasi dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit, terutama yang berkaitan dengan saluran pernapasan, kulit, dan pencernaan.
Di sisi lain, dampak gempa juga dirasakan fasilitas pelayanan kesehatan. Kemenkes mencatat 169 fasilitas kesehatan terdampak di tujuh kabupaten. Tingkat kerusakannya beragam, mulai dari tidak rusak hingga mengalami kerusakan ringan, sedang, dan berat.
"Untuk menjaga pelayanan kesehatan tetap berjalan, sebanyak 868 relawan kesehatan telah dimobilisasi ke wilayah terdampak. Dari jumlah tersebut, Kemenkes mengirimkan 366 relawan dalam dua tahap, yakni 206 orang pada 24 Agustus dan 160 orang pada 7 September 2026," jelasnya.
Relawan lainnya berasal dari organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan unsur pemerintah. Kehadiran tenaga kesehatan tersebut diarahkan untuk mendukung pelayanan masyarakat di tengah keterbatasan fasilitas akibat gempa.
Dukungan juga diberikan melalui mobilisasi logistik kesehatan. Kemenkes menyalurkan 10 tenda rumah sakit lapangan, lima unit WC, delapan emergency kit, 16.000 masker, 17.600 sarung tangan, dan 444 PMT ke wilayah terdampak.
Widyawati mengatakan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan pelayanan dan logistik di wilayah terdampak dapat dipenuhi. Upaya tersebut sekaligus untuk mencegah masalah kesehatan berkembang di tengah proses pemulihan pascagempa.
© Copyright 2026, All Rights Reserved