BMKG Pantau Potensi Karhutla melalui Spartan dan Citra Satelit
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (InfoBMKG)
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (InfoBMKG)
Jakarta, InfoPublik – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat di tengah musim kemarau 2026 yang diperkirakan lebih kering dan lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. Hingga akhir Juli, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 73,8 persen wilayah daratan Indonesia atau 516 zona musim telah memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah, terutama Sumatra dan Kalimantan, perlu meningkatkan kewaspadaan. Di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, luas lahan yang terbakar hingga pertengahan Juli 2026 mencapai sekitar 200,6 hektare sehingga pemerintah daerah menetapkan status siaga karhutla.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September 2026. Kondisi kemarau kemudian diprediksi berangsur berakhir mulai pertengahan Oktober hingga November seiring berkembangnya musim hujan.
"Risiko karhutla semakin perlu diwaspadai karena kondisi kering tahun ini juga dipengaruhi fenomena El Nino. Berdasarkan pemantauan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik pada Juli 2026, El Nino telah mencapai kategori kuat dan berpotensi terus meningkat," jelas BMKG dalam keterangannya yang dikutip InfoPublik di Jakarta, Minggu (16/8/2026).
Musim kemarau dan El Nino membuat lahan serta vegetasi lebih kering akibat berkurangnya curah hujan dan rendahnya kelembapan. Kondisi ini menyebabkan bahan bakar alami lebih mudah terbakar dan api berpotensi menyebar lebih cepat apabila terjadi kebakaran.
Karhutla merupakan peristiwa terbakarnya hutan dan/atau lahan, baik akibat faktor alam maupun aktivitas manusia. Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial serta menurunkan kualitas udara yang berdampak pada kesehatan masyarakat.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BMKG tidak hanya memantau kebakaran ketika api sudah terjadi, tetapi juga membaca kondisi cuaca yang dapat meningkatkan potensi kebakaran sejak dini melalui Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Spartan) atau Fire Danger Rating System (FDRS).
Spartan memberikan informasi potensi karhutla hingga tujuh hari ke depan dengan menganalisis tingkat kekeringan dan kemudahan bahan bakar untuk terbakar berdasarkan suhu, kelembapan, curah hujan, dan kecepatan angin.
Namun, Spartan bukan peta lokasi kebakaran. Sistem ini menunjukkan potensi kemudahan terjadinya kebakaran berdasarkan kondisi cuaca, bukan memastikan kebakaran sedang berlangsung di suatu lokasi.
Informasi tersebut dilengkapi pemantauan kondisi aktual melalui citra satelit. BMKG memantau hotspot dan geohotspot sebagai indikasi titik panas, sekaligus mengamati sebaran asap dan polutan udara akibat karhutla.
Hotspot Bukan Berarti Kebakaran, BMKG Dukung Mitigasi melalui OMC
BMKG mengingatkan hotspot tidak selalu menunjukkan lokasi kebakaran. Titik panas yang terdeteksi satelit perlu dipadukan dengan informasi lain untuk memastikan adanya kejadian karhutla.
Pada 2026, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi masih ditemukan terutama di Kalimantan Barat dan Papua Selatan, sementara wilayah lain menunjukkan kondisi fluktuatif.
Dengan menggabungkan Spartan dan pemantauan satelit, BMKG dapat mengantisipasi wilayah yang berpotensi mengalami karhutla sebelum terjadi, sekaligus memantau kejadian yang sedang berlangsung.
Selain pemantauan, BMKG mendukung mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu menjaga kelembapan wilayah rentan terbakar, khususnya lahan gambut. Sepanjang Juli hingga awal Agustus 2026, OMC telah dilaksanakan di sejumlah wilayah.
Memasuki puncak musim kemarau, masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan indikasi kebakaran.
Masyarakat juga diimbau memantau informasi cuaca dan potensi karhutla melalui layanan resmi BMKG. Pencegahan sejak dini menjadi kunci mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau 2026.