SLEMAN, InfoPublik - Hujan yang mulai mengguyur wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi penanda berakhirnya krisis kemarau panjang akibat fenomena Super El Nino.
Meski curah air tersebut sangat efektif dalam meredam titik api kebakaran lahan, fase transisi cuaca ini membawa potensi ancaman baru berupa bencana hidrometeorologi.
Dosen Ilmu Tanah UPN Veteran Yogyakarta, Muhamad Kundarto, memaparkan, tingginya curah hujan yang menghantam tanah kering berisiko memicu erosi dan tanah longsor.
Akumulasi debit aliran permukaan dari hulu sungai juga berpotensi memicu luapan banjir bandang ketika menemui hambatan alam di kawasan permukiman hilir.
Pergeseran kalender musim ini turut menghadirkan tantangan berat bagi sektor ketahanan pangan perdesaan akibat mundurnya jadwal tanam hingga satu bulan penuh.
"Para petani yang salah memprediksi waktu tanam bisa mengalami ancaman gagal panen di mana hal ini akan memicu kelangkaan pasokan dan lonjakan harga di awal tahun," peringat Kundarto.
Merespons anomali cuaca tersebut, seluruh elemen masyarakat dituntut untuk segera memutar fokus mitigasi dari penanggulangan kekeringan menuju kesiapsiagaan menghadapi daya rusak air.
"Perubahan iklim mendorong batas antar musim menjadi semakin ekstrem, sehingga butuh kecepatan beradaptasi untuk menentukan strategi dari menghadapi kebakaran menuju pengendalian air, erosi, longsor, dan banjir," tandasnya. (MC Kab. Sleman/KIM Berbah/Kusnadi)