Di Tengah Dunia Bergejolak, Indonesia Menjaga Pertumbuhan dan Harapan
Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr
Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr
Jakarta, InfoPublik - Pagi itu, di sebuah rumah sederhana, seorang ibu menyiapkan sarapan sambil mendengarkan kabar dari radio kecil di sudut dapur. Berita tentang dunia masih dipenuhi ketegangan—konflik di berbagai kawasan, harga energi yang bergejolak, dan ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih.
Namun sang ibu tetap berangkat bekerja, sang ayah menuju tempat usahanya, dan anak-anak berangkat ke sekolah dengan seragam rapi. Dalam keheningan rutinitas itu, ketangguhan ekonomi nasional menemukan maknanya yang paling nyata: kehidupan terus berjalan.
Tahun 2025 tidak datang tanpa tantangan. Dunia bergerak cepat dengan arah yang sering tidak bisa diprediksi. Banyak negara harus mengencangkan ikat pinggang, menunda pembangunan, bahkan menghadapi tekanan sosial akibat lonjakan harga dan melemahnya daya beli.
Indonesia juga tidak sepenuhnya luput. Namun, alih-alih tenggelam dalam kekhawatiran, bangsa ini memilih untuk saling menopang—mengubah tantangan menjadi ruang untuk memperkuat fondasi ekonomi bersama.
Ketangguhan ekonomi Indonesia lahir dari kesadaran bahwa tidak ada satu pihak pun yang bisa berjalan sendirian. Pemerintah berusaha menjaga keseimbangan antara kehati-hatian dan keberpihakan.
Anggaran negara diarahkan agar tetap menyentuh kebutuhan dasar masyarakat—harga pangan yang lebih terkendali, bantuan sosial yang tepat sasaran, serta pembangunan yang membuka akses kerja dan penghidupan. Di balik angka-angka kebijakan, ada jutaan wajah yang merasakan langsung dampaknya.
Namun, kemandirian ekonomi sejatinya tumbuh dari bawah. Dari warung kecil yang bertahan di sudut gang, dari petani yang tetap menanam meski cuaca semakin sulit ditebak, hingga pelaku UMKM yang belajar memasarkan produknya secara digital. Mereka bukan bagian dari statistik, melainkan aktor utama yang menggerakkan ekonomi domestik. Ketika dunia luar melemah, kekuatan dari dalam negeri inilah yang menjadi penyangga.
Sinergi menjadi jantung dari cerita ini. Kebijakan fiskal dan moneter berjalan beriringan layaknya dua tangan yang saling menguatkan. Stabilitas harga dijaga agar belanja rumah tangga tidak tercekik. Nilai tukar dan iklim usaha dipelihara agar dunia usaha berani melangkah.
Di sisi lain, kebijakan pembangunan memastikan bahwa pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi lama, tetapi juga merambah ke daerah-daerah, membawa peluang baru bagi masyarakat setempat.
Pada tingkat yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, sinergi itu tampak dalam kerja sama yang sederhana namun bermakna. Pemerintah daerah menggandeng pelaku usaha lokal, koperasi tumbuh bersama komunitas, dan ekonomi berbasis desa kembali menemukan perannya. Ada rasa percaya yang tumbuh perlahan—percaya bahwa upaya hari ini, sekecil apa pun, tetap memiliki arti bagi masa depan.
Ketahanan ekonomi juga berbicara tentang rasa aman. Ketika harga kebutuhan pokok relatif stabil dan lapangan kerja tetap terbuka, masyarakat memiliki ruang untuk bernapas. Mereka bisa merencanakan pendidikan anak, memperbaiki rumah, atau menabung untuk hari esok. Di situlah ekonomi berhenti menjadi konsep abstrak dan berubah menjadi cerita tentang martabat manusia yang dijaga.
Tangguh dan Mandiri bukanlah slogan kosong. Ia adalah refleksi dari perjalanan panjang bangsa yang belajar dari krisis dan bangkit lewat kebersamaan. Tahun 2025 menjadi salah satu bab di mana Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi lebih dari sekadar angka di atas kertas. Ia adalah hasil dari sinergi, kerja keras, dan harapan yang tidak pernah padam.
Di tengah dunia yang terus berubah, Indonesia memilih untuk melangkah dengan hati-hati namun penuh keyakinan. Ketangguhan dijaga, kemandirian diperkuat, dan sinergi terus dirawat. Karena pada akhirnya, ekonomi yang kuat adalah ekonomi yang membuat manusianya tetap tegak, tetap tersenyum, dan tetap yakin bahwa masa depan layak untuk diperjuangkan bersama.
Optimisme Baru
Memasuki satu tahun masa pemerintahannya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa perekonomian Indonesia bergerak ke arah yang semakin positif dan menjanjikan, meskipun dunia tengah dihadapkan pada ketidakpastian global. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat memberikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 yang digelar di Graha Bhasvara Icchana, Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/11/2025).
PTBI merupakan forum strategis yang diselenggarakan rutin setiap akhir tahun untuk menyampaikan pandangan Bank Indonesia mengenai kondisi perekonomian terkini, tantangan, prospek, dan arah bauran kebijakan Bank Indonesia, serta memperoleh arahan dari Presiden RI. Tahun 2025 ini, PTBI mengambil tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan".
Dalam forum strategis yang mempertemukan para pemimpin ekonomi nasional tersebut, Presiden Prabowo merespons pemaparan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Gubernur Bank Indonesia yang menyingkap data komprehensif mengenai penguatan ekonomi nasional selama satu tahun terakhir.
“Tadi paparan dari Menteri Koordinator Perekonomian dan paparan dari Saudara Gubernur BI, saya kira secara objektif, secara jujur bisa kita terima sebagai dua paparan yang sangat komprehensif, sangat lengkap, sangat detail, dan mencerminkan, dan memberi kepada kita gambaran kondisi ekonomi Indonesia yang sesungguhnya cukup menjanjikan, cukup menenangkan di tengah tantangan global yang penuh ketidakpastian,” tegas Presiden.
Presiden menegaskan bahwa tren positif ekonomi tidak terlepas dari kerja sama dan sinergi besar seluruh pemangku kebijakan ekonomi, baik pemerintah pusat maupun daerah, serta lembaga keuangan dan sektor strategis.
“Saya katakan Ini adalah tadi sinergi dan kerja sama yang cukup baik di antara pengelola-pengelola perekonomian kita. Saya merasa sangat dibantu oleh tokoh-tokoh kunci dalam pengelolaan ekonomi kita, saya terima kasih saya mendapat suatu takdir yang baik, saya dibantu oleh orang-orang yang hebat yang membantu Saya sehingga yang kita capai ini adalah hasil kita semua,” ujar Presiden.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa capaian positif ekonomi merupakan bagian dari komitmen membangun pemerintahan yang bersih dan adil, serta menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas tertinggi.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, pada kesempatan yang sama menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia ke depan akan lebih baik dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan, dengan tetap mewaspadai ketidakpastian global yang tinggi.
Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 berada di kisaran 4,7–5,5% dan meningkat lebih tinggi pada 2026 dan 2027 masing-masing dalam kisaran 4,9–5,7% dan 5,1–5,9% didukung oleh konsumsi dan investasi yang meningkat, serta ekspor yang cukup baik di tengah perlambatan ekonomi dunia.
Inflasi akan tetap terjaga rendah dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027 didukung konsistensi kebijakan moneter, kebijakan fiskal, eratnya sinergi pengendalian inflasi baik di pusat maupun di daerah, dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional. Stabilitas eksternal dan sistem keuangan tetap terjaga, disertai digitalisasi yang terus berkembang pesat.
"Ke depan, lima tantangan global perlu terus dicermati dan diwaspadai, yakni berlanjutnya kebijakan tarif AS, melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, tingginya utang Pemerintah dan suku bunga negara maju, tingginya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia, serta maraknya uang kripto dan stablecoins pihak swasta," ujar perry.
Sinergi merupakan prasyarat dalam memperkuat transformasi ekonomi nasional agar pertumbuhan dapat lebih tinggi dan berdaya tahan. Sinergi kebijakan perlu terus diperkuat untuk menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks, yang meliputi lima area penting, yakni: (i) memperkuat stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan; (ii) mendorong pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan; (iii) meningkatkan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan; (iv) mengakselerasi digitalisasi ekonomi-keuangan nasional; serta (v) memperkuat kerja sama ekonomi bilateral dan regional.
Perry menambahkan, sinergi kebijakan transformasi sektor riil untuk meningkatkan modal, tenaga kerja, dan produktivitas diperlukan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan. Kebijakan transformasi sektor riil ditempuh baik melalui kebijakan industrial maupun kebijakan reformasi struktural, yang saling melengkapi.
Kebijakan industrial diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produksi dari sektor-sektor prioritas nasional, termasuk diantaranya hilirisasi khususnya berbasis sumber daya alam, industri teknologi, serta indusri padat karya.
Sementara itu, kebijakan struktural diarahkan untuk perbaikan iklim investasi, persaingan usaha yang sehat, konektivitas infrastruktur, serta penguatan kebijakan perdagangan dan investasi, termasuk melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pusat-pusat pertumbuhan.
"Bauran kebijakan Bank Indonesia pada tahun 2026 akan terus diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas, dalam sinergi erat dengan bauran kebijakan ekonomi nasional," ungkap Perry.
Perry menambahkan, kebijakan moneter pada tahun 2026 diarahkan untuk menjaga stabilitas (“pro-stability") dengan tetap memanfaatkan ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi (“pro-growth"). Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran pada 2026 tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi (“pro-growth").
Bauran kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil serta implementasi strategi kebijakan utama 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi dan Komunikasi efektif) terus ditempuh untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam rentang sasaran.
“Selain menjalankan program reguler pengendalian inflasi, Pemerintah juga juga memberikan stimulus ekonomi termasuk untuk menjaga stabilitas daya beli di masyarakat serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga telah menyalurkan berbagai stimulus ekonomi hingga akhir tahun, di antaranya program diskon transportasi; bantuan pangan, Bantuan Langsung Tunai (BLT) Kesra dan program magang lulusan perguruan tinggi,” ujar Menko Airlangga.
Untuk memperkuat efektivitas kebijakan tersebut, Pemerintah juga mengakselerasi transformasi digital di daerah. Dukungan kebijakan Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD) mendorong perkembangan ekosistem digital secara signifikan, dimana hingga Semester-I 2025 menunjukkan terdapat 501 Pemerintah Daerah (atau 91,8%) telah memiliki ekosistem (regulasi, kanal, kesiapan dan ketersediaan sistem, serta dukungan BPD) yang memadai.
“Ke depan, Pemerintah akan terus mendorong beberapa hal diantaranya penyediaan dan perluasan kanal digital, perluasan layanan sinyal, penguatan layanan digital BPD, perluasan insentif bagi masyarakat, perluasan kerjasama dengan platform digital, dan penguatan sinergi penyediaan basis data perpajakan,” kata Menko Airlangga.
Kunci dari Ketahanan Ekonomi Indonesia
Di berbagai indikator utama, ketahanan ekonomi Indonesia tampil sebagai cerita tentang daya tahan, kehati-hatian, dan kerja bersama yang teruji oleh krisis. Kekuatan ini bukan muncul secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari kerja kolektif seluruh elemen bangsa—pemerintah pusat dan daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, hingga masyarakat yang terus beradaptasi dengan perubahan. Dalam situasi global yang sarat ketidakpastian, Indonesia memilih jalan untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga menjaga arah pertumbuhan agar tetap berkelanjutan.
Kunci dari ketahanan tersebut terletak pada sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang berjalan seirama. Pemerintah menjaga pengelolaan anggaran negara tetap kredibel dan responsif, memastikan belanja negara hadir sebagai penyangga ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas jangka panjang. Di saat yang sama, kebijakan moneter dijalankan secara terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta memastikan likuiditas tetap mengalir ke sektor-sektor produktif.
Harmoni antara pertumbuhan dan stabilitas inilah yang menjadi pembeda. Ketika banyak negara dihadapkan pada dilema antara mengejar pertumbuhan atau mengorbankan stabilitas, Indonesia mampu berjalan di jalur tengah. Aktivitas ekonomi terus bergerak, konsumsi domestik tetap terjaga, dan kepercayaan pasar tidak terkikis oleh sentimen negatif global.
Lebih dari sekadar angka, ketahanan ekonomi sepanjang 2025 mencerminkan optimisme yang tumbuh di tengah tantangan. Bagi pelaku usaha, stabilitas memberikan ruang untuk tetap berinvestasi dan menciptakan lapangan kerja. Bagi masyarakat, stabilitas harga dan ketersediaan kebutuhan pokok memberi rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dan bagi negara, capaian ini menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional cukup kuat untuk menghadapi guncangan, hari ini maupun di masa mendatang.
Di tengah dunia yang bergejolak, cerita ekonomi Indonesia pada 2025 adalah kisah tentang kolaborasi, kehati-hatian, dan keteguhan menjaga arah. Sebuah pengingat bahwa ketahanan bukan hanya soal bertahan dari badai, tetapi juga tentang kemampuan menjaga keseimbangan agar kapal ekonomi tetap melaju menuju tujuan.