Jakarta, InfoPublik - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memproyeksikan kebutuhan batu bara untuk memasok Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pada 2027 mencapai kisaran 174 juta ton, yang mencakup batu bara kalori menengah (medium rank coal) sebanyak 89 juta ton.
Pasokan tersebut dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan operasional pembangkit pasokan listrik nasional di tengah keterbatasan cadangan batu bara kalori menengah di dalam negeri.
Hal itu disampaikan Pelaksana Harian (Plh.) Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, melalui keterangan resmi, Selasa (3/11/2026).
Rakhmad mengungkapkan, mayoritas desain PLTU di Indonesia saat ini masih mengandalkan batu bara kalori menengah. Kondisi ini memicu ketidaksesuaian (mismatch) antara kebutuhan operasional dengan ketersediaan pasokan nasional, mengingat cadangan batu bara Indonesia didominasi oleh batu bara kalori rendah (low rank coal).
Berdasarkan data PLN EPI, cadangan batu bara kalori menengah yang tersisa di Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 4,54 miliar ton, batu bara kalori tinggi (high rank coal) sejumlah 3,4 miliar ton, sementara porsi terbesar didominasi oleh batu bara kalori rendah.
Untuk mengatasi tantangan keterbatasan pasokan tersebut, PLN merencanakan penyesuaian (upgrade) desain PLTU agar dapat memanfaatkan batu bara berkalori rendah.
Namun, proses adaptasi teknologi pada pembangkit listrik tersebut membutuhkan waktu pertimbangan matang serta investasi yang tidak sedikit. “Upgrade itu nggak simpel dan kita, kalau mau matiin PLTU, kan kita harus berpikir gantinya ada atau enggak, ini butuh investasi juga,” ujar Rakhmad.
Selain kendala kesesuaian spesifikasi kalori, PLN EPI juga menyoroti adanya kesenjangan harga yang signifikan antara pasokan domestic market obligation (DMO) untuk PLN dengan harga batu bara di pasar internasional maupun industri lain.
Batas harga maksimal batu bara untuk PLN ditetapkan sebesar 70 dolar AS per ton untuk kalori 6.322 kcal/kg, sedangkan harga komoditas dengan spesifikasi setara di pasar global telah menyentuh kisaran 150 dolar AS per ton. Kesenjangan serupa juga terjadi pada kategori batu bara kalori menengah dan rendah.
Guna menjaga kontinuitas pasokan listrik, PLN EPI telah berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memperoleh dukungan regulasi dalam pemenuhan batu bara kalori menengah.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengindikasikan peluang penyesuaian kuota produksi batu bara seiring dengan membaiknya tren harga komoditas global.
Pemerintah memastikan penetapan kuota produksi dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) akan tetap memperhitungkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran (supply and demand). “Batu bara kan sekarang sudah bagus nih, idealnya kan harganya bagus, produksinya banyak,” kata Bahlil Lahadalia melalui keterangan resmi, Senin (2/11/2026).