Jakarta, InfoPublik - Di tengah kondisi kekeringan yang dapat mengancam ketersediaan air bagi lahan pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) terus memperkuat infrastruktur sumber daya air untuk memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi. Salah satunya melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kampung Kalobo dan Waibu, Papua Barat Daya, untuk mendukung produktivitas pertanian masyarakat.
Penyediaan jaringan irigasi air tanah tersebut menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air permukaan dan menghadapi tantangan akibat kondisi cuaca kering.
Menteri PU, Dody Hanggodo menegaskan pembangunan JIAT merupakan langkah strategis untuk menjamin ketersediaan air, terutama saat musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Niño. Dengan sistem irigasi yang lebih andal, produktivitas pertanian diharapkan meningkat. “Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” kata Menteri Dody dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (10/9/2026)
Menteri Dody juga menekankan agar pengembangan JIAT tidak hanya berfokus pada pembangunan sumur dan pompa air tanah, tetapi dilengkapi jaringan saluran tersier sehingga air dapat dialirkan secara lebih efektif hingga ke lahan pertanian.
JIAT merupakan sistem irigasi yang memanfaatkan air tanah melalui sumur bor dan pompa untuk mengairi lahan pertanian, terutama di daerah yang tidak terjangkau jaringan irigasi permukaan.
Melalui pemanfaatan sumber air tanah, JIAT di Kampung Kalobo dan Waibu dirancang untuk memberikan suplai air bagi lahan pertanian dengan luas layanan sekitar 100 hektare. Infrastruktur tersebut diproyeksikan memberikan manfaat kepada sekitar 90 petani di wilayah tersebut.
Dalam kondisi kekeringan, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas pertanian. Karena itu, infrastruktur irigasi air tanah menjadi salah satu upaya untuk memastikan lahan pertanian tetap mendapatkan pasokan air selama periode kering.
Secara teknis, jaringan irigasi tersebut memiliki panjang sekitar 10 kilometer dan dilengkapi 80 bangunan pendukung. Untuk mendukung penyediaan air, terdapat 10 titik sumur bor dengan kapasitas debit sekitar 12 liter per detik pada setiap titik.
Air kemudian dialirkan melalui jaringan irigasi untuk memenuhi kebutuhan layanan dengan debit sekitar 2,5 liter per detik per titik. Sistem tersebut juga dilengkapi bak penampung berkapasitas 50 meter kubik sebagai bagian dari infrastruktur pendukung distribusi air ke kawasan pertanian.
Keberadaan JIAT diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan. Dengan tersedianya sumber air alternatif, lahan pertanian tetap memiliki dukungan pasokan air saat terjadi periode kering sehingga kegiatan budi daya dapat berlangsung secara lebih berkelanjutan.
Selain menjaga produktivitas pertanian, pembangunan JIAT juga diharapkan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Meningkatnya keandalan air irigasi dapat membuka peluang peningkatan produksi dan pendapatan petani di Kampung Kalobo dan Waibu.
Menjangkau Wilayah dengan Akses Terbatas
Pembangunan infrastruktur air di Kalobo juga menghadapi tantangan geografis dan aksesibilitas. Dari Kota Sorong, perjalanan menuju Kampung Kalobo ditempuh menggunakan speedboat dengan jarak sekitar 26,3 kilometer dan waktu tempuh kurang lebih satu jam.
Kondisi tersebut tidak mengurangi upaya pemerintah dalam menghadirkan infrastruktur dasar bagi masyarakat. Penyediaan jaringan irigasi air tanah menjadi bagian dari komitmen Kementerian PU untuk memastikan pembangunan infrastruktur sumber daya air dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah yang memiliki tantangan akses.
Kementerian PU terus mendorong pembangunan dan pengelolaan infrastruktur sumber daya air sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan air dan ketahanan pangan, terutama dalam menghadapi ancaman kekeringan dan perubahan kondisi iklim.
Melalui pembangunan JIAT, pemerintah berupaya memastikan ketersediaan air tetap terjaga, pertanian tetap produktif, dan masyarakat memiliki dukungan terhadap sumber penghidupan meskipun menghadapi kondisi kering.