Surakarta, InfoPublik – Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Haris, menekankan pentingnya inovasi dan teknologi untuk menarik minat generasi muda ke sektor pertanian.
Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Peran Milenial dalam Mendukung Kemandirian Pangan Lokal Berkelanjutan yang diinisiasi oleh Forum Agroteknologi Universitas Sebelas Maret (UNS) di Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (2/7/2026).
Dalam sambutannya, Abdul Haris menyoroti data memprihatinkan mengenai rendahnya partisipasi pemuda di sektor agraria. Saat ini, jumlah petani milenial hanya mencapai sekitar 25 persen, sementara keterlibatan generasi Z jauh lebih rendah, yakni di angka 2,4 persen.
"Ini angka yang sangat kecil dan menjadi tantangan besar bagi Fakultas Pertanian untuk menggelorakan semangat menjadi petani modern. Menjadi petani bukan berarti menjadi 'orang deso', melainkan menjadi pelaku sektor yang berbasis inovasi dan teknologi,” ujar Abdul Haris di hadapan Menko Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, dan jajaran pimpinan universitas,.
Abdul Haris menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari upaya koordinasi dengan forum rektor untuk memperkuat peran kampus dalam pembangunan nasional. Penguatan sektor pertanian melalui tangan mahasiswa dinilai krusial untuk mendukung program prioritas Presiden terkait ketahanan pangan.
Ia berharap mahasiswa Agroteknologi dapat menggali pengetahuan dari narasumber ahli, termasuk dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Pertanian, untuk membantu memberdayakan petani di pelosok desa,.
Lebih lanjut, Abdul Haris menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam poin pengabdian masyarakat. Sinergi antara hasil riset kampus dan pemberdayaan masyarakat desa diharapkan menjadi mesin penggerak utama dalam mencapai target pemerintah.
“Strategi kita untuk meningkatkan taraf hidup dan mencapai target 0 persen kemiskinan ekstrem adalah melalui pemberdayaan yang sumber karya dan inovasinya berangkat dari kampus-kampus,” tegasnya.
Seminar nasional ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang diskusi akademik, tetapi juga menghasilkan solusi konkret. Abdul Haris juga mengapresiasi inisiatif mahasiswa UNS dan berharap rekomendasi dari pertemuan ini dapat disusun menjadi policy brief.
“Kami yakin hasil seminar ini bisa memberikan manfaat nyata dan menjadi masukan kebijakan (policy brief) yang strategis bagi pemerintah dalam memajukan sektor pemberdayaan masyarakat dan pertanian nasional,” pungkasnya.