Padang, Infopublik – Pengasuhan anak usia dini tidak cukup hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Kasih sayang, kesantunan berbahasa, keteladanan, serta kemampuan memahami perasaan anak juga menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter generasi masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Bunda PAUD Kota Padang, Dian Puspita Fadly Amran, saat menghadiri pelatihan komunikasi dan pengasuhan bertema “Babaliak Ka Rumah Gadang (Bahasa Ibu)” yang digelar Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kota Padang di Palanta Rumah Dinas Wali Kota Padang, Jumat (23/10/2026).
Dian mengajak para pendidik PAUD menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Minangkabau dalam komunikasi dan pengasuhan anak. Menurutnya, kearifan lokal dapat menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan pendidikan di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi digital.
“Usia dini merupakan masa penting dalam perkembangan otak, kemampuan berbahasa, pengelolaan emosi, dan pembentukan karakter. Karena itu, anak perlu tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, aman, dan mendukung perkembangan potensinya,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendidikan anak usia dini harus berjalan seimbang antara pengembangan kemampuan intelektual dan pembentukan karakter, empati, akhlak mulia, serta identitas budaya.
Bagi masyarakat Minangkabau, Rumah Gadang bukan sekadar bangunan tradisional. Rumah Gadang juga menjadi simbol kebersamaan dan ruang pewarisan nilai agama, adat, serta budi pekerti antargenerasi.
Filosofi Babaliak Ka Rumah Gadang yang diangkat dalam pelatihan tersebut, menurut Dian, bukan berarti mengembalikan pengasuhan sepenuhnya pada pola masa lalu. Esensinya adalah menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang tetap relevan, seperti kasih sayang, kebersamaan, kesantunan, keteladanan, dan tanggung jawab dalam mendidik anak.
Nilai itu tercermin dalam falsafah Minangkabau, “Anak dipangku, kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan”. Falsafah tersebut menegaskan bahwa tanggung jawab pengasuhan tidak hanya berada di tangan orang tua, tetapi juga melibatkan keluarga besar dan lingkungan masyarakat.
Dian juga menyoroti nilai raso jo pareso, yakni kepekaan dalam merasakan keadaan orang lain dan kebijaksanaan dalam berpikir serta bertindak. Nilai tersebut dapat diterapkan dalam pengasuhan modern yang menghormati hak anak dan mengutamakan pendekatan tanpa kekerasan. “Nilai-nilai budaya tersebut perlu kita padukan dengan ilmu pendidikan modern yang menghargai hak anak dan mengutamakan pengasuhan tanpa kekerasan,” katanya.
Dengan demikian, budaya lokal bukan hanya diperkenalkan sebagai pengetahuan tentang adat, tetapi juga diterapkan dalam perilaku sehari-hari anak, baik di rumah maupun di satuan PAUD.
Salah satu aspek penting yang ditekankan dalam pelatihan tersebut adalah penggunaan bahasa ibu. Bahasa daerah tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana membangun kedekatan emosional, mengenalkan identitas budaya, dan menanamkan kesantunan sejak dini.
Dalam budaya Minangkabau, nilai kato nan ampek mengajarkan kesantunan berbicara sesuai dengan lawan bicara dan situasi. Pendidik dapat mengenalkan nilai tersebut melalui percakapan sehari-hari, cerita rakyat, lagu daerah, permainan tradisional, serta keteladanan.
Namun, Dian mengingatkan bahwa keberhasilan komunikasi dengan anak tidak hanya ditentukan oleh pilihan kata. Nada suara, ekspresi wajah, dan cara orang dewasa merespons perilaku anak turut memengaruhi perkembangan emosinya.
Ketika anak melakukan kesalahan, misalnya, pendidik perlu membimbing dengan sabar, bukan langsung memarahi. Begitu pula saat anak menangis atau marah, orang dewasa perlu berusaha memahami perasaan dan kebutuhan yang melatarbelakangi perilaku tersebut.
“Anak tidak hanya belajar dari kata-kata yang kita ucapkan, tetapi juga dari nada suara, ekspresi wajah, dan cara kita memperlakukan mereka. Inilah pentingnya komunikasi positif dalam pendidikan dan pengasuhan anak usia dini,” tuturnya.
Pendekatan ini menempatkan anak sebagai individu yang sedang belajar mengenali emosi dan memahami lingkungan. Dengan komunikasi yang positif, anak diharapkan tumbuh lebih percaya diri, mampu menghargai orang lain, dan mengembangkan karakter yang sehat.
Perkembangan teknologi turut menghadirkan tantangan baru dalam pengasuhan. Meski memberikan manfaat bagi proses belajar, teknologi tidak boleh menggantikan interaksi langsung antara anak, orang tua, dan pendidik.
Dian menekankan bahwa anak tetap membutuhkan kehadiran, perhatian, dan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Karena itu, keluarga dan satuan PAUD perlu bekerja sama memperkuat hubungan antargenerasi sekaligus mengenalkan nilai budaya sejak dini.
Pendidik PAUD memiliki peran strategis dalam proses tersebut. Tugas mereka bukan sekadar mengenalkan huruf, angka, dan warna, melainkan juga membantu anak mengenali emosi, membangun kepercayaan diri, menghargai orang lain, dan mengembangkan potensi sesuai tahap perkembangannya.
Ia berharap pelatihan HIMPAUDI Kota Padang dapat meningkatkan kompetensi pendidik dalam menerapkan komunikasi positif, pengasuhan ramah anak, serta pembelajaran berbasis nilai budaya Minangkabau.
Dian juga mendorong setiap satuan PAUD menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, menyenangkan, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Pendampingan, menurutnya, perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap anak karena proses tumbuh kembang mereka tidak selalu sama.
Penguatan pendidikan anak usia dini juga sejalan dengan upaya mendukung Wajib Belajar 13 Tahun, termasuk penyediaan satu tahun pendidikan prasekolah yang berkualitas sebelum anak memasuki sekolah dasar.
Bagi Kota Padang, pendidikan sejak dini menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang cerdas, sehat, berakhlak mulia, dan berakar pada nilai agama serta budaya. Upaya tersebut turut mendukung visi pembangunan kota yang maju dan sejahtera. “Untuk membangun kota yang maju, kita harus terlebih dahulu membangun kualitas manusianya sejak usia dini,” tegas Dian.
Ia menyampaikan apresiasi kepada para pendidik PAUD yang terus mendampingi tumbuh kembang anak. Menurutnya, hal-hal sederhana, seperti menyambut anak dengan senyuman, bersabar saat anak mengalami kesulitan, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dapat meninggalkan kesan mendalam yang memengaruhi pembentukan kepribadian mereka hingga dewasa.
Dian mengajak keluarga, pendidik, dan masyarakat memaknai Babaliak Ka Rumah Gadang sebagai gerakan bersama untuk mengembalikan kasih sayang, tutur kata yang santun, keteladanan, serta kepedulian dalam pengasuhan.
“Bukan sekadar kembali ke sebuah rumah, tetapi kembali kepada nilai-nilai yang menjadikan rumah sebagai tempat terbaik bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan merasa dicintai,” ungkapnya.
Melalui pengasuhan yang penuh kasih, komunikasi positif, dan penguatan budaya lokal, pendidikan anak usia dini diharapkan mampu menumbuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, berakhlak mulia, dan bangga terhadap budayanya.
(Charlie)
~ 📤 By Ju