Batang, InfoPublik - Upaya membedah sejarah keterkaitan antara kemasyhuran Mataram Islam dengan Kadipaten Batang di masa lampau masih menjadi perbincangan hangat hingga memunculkan ide untuk membukukan perjalanan sejarah kedua daerah tersebut. Ide itu tercetus, usai digelarnya dialog budaya antara Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama Bupati M Faiz Kurniawan dan para budayawan, agar generasi muda dapat mengambil hikmah pembelajaran dari sejarah perjalanan panjang Mataram Islam dengan Kadipaten Batang.
Rencana tersebut makin mengemuka, setelah Sri Sultan meyakini, keberadaan Ratu Batang sebagai permaisuri Sultan Agung memiliki peranan penting dalam perlawanan ke Batavia melalui jalur Alas Roban.
“Setelah dialog budaya ini, saya harapkan agar ada tidak lanjut, Bapak Bupati dapat membuat buku sejarah Kabupaten Batang ini sebagai bentuk komitmen untuk menyelesaikan tugas ini,” katanya, saat konferensi pers, di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang, Rabu (21/10/2026).
Sri Sultan mengapresiasi semangat budayawan maupun sejarawan Batang yang ingin menggali hubungan keterkaitan dengan Mataram Islam melalui tokoh penting seperti Ratu Batang.
“Beberapa tahun lalu saya ke sini, belum ada pergerakan apapun, tapi sekarang saya dengar ada tim penggali sejarah Batang, itu bukti kesungguhan dalam menggali keterikatan tersebut,” ungkapnya.
Tim tersebut telah melakukan penelitian intensif bersama para tokoh, pemerhati maupun pakar yang membidangi hingga mampu menelusuri lebih intens.
“Prosesnya memang panjang dan harus menggali informasi dari berbagai sumber, seperti manuskrip lampau, tempat-tempat bersejarah yang memiliki korelasi dan lainnya, hingga nantinya menemukan data informasi yang lebih fokus lagi,” tegasnya.
Terkait dengan hubungan Ratu Batang dengan Mataram Islam, Sri Sultan berupaya untuk mencari informasi lebih detail dengan membuka manuskrip di perpustakaan keraton. Hal itu untuk mengetahui kepastian nama Ratu Batang itu memang berasal dari Kadipaten Batang, bukan sekadar nama.
“Berarti kan kita sudah bisa mendekati untuk segera nulis buku, otomatis posisi Ratu Batang adalah permaisuri. Karena putranya bisa menjadi putra mahkota menggantikan Sultan Agung menjadi raja,” ujar dia.
Sri Sultan meyakini keberadaan Batang sangatlah potensial melihat peran dari Tumenggung Bahurekso dan Adipati Uposonto dalam proses penyerbuan ke Batavia. Namun tetap harus mengkaji literatur yang ada di beberapa sumber, untuk mempertegas peran penting tokoh-tokoh tersebut.
Menanggapi harapan Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk merebitkan buku sejarah Batang, Bupati M Faiz Kurniawan mendukung penuh, namun masih tetap harus melakukan kajian mendalam agar, hasilnya yang dituangkan dalam buku dapat dipertanggungjawabkan.
“Biar buku sejarah Batang yang diterbitkan nanti sesuai dengan peristiwa yang telah terjadi, sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara publik,” tuturnya.
Di sisi lain, Bupati Faiz masih menantikan hasil kajian mendalam terkait Ratu Batang.
“Yang jelas jejak sejarahnya di Makam Imogiri ada, untuk memastikannya memang perlu kajian mendalam dari beberapa literatur baik di dalam maupun luar negeri,” tandasnya. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)