Bireuen, InfoPublik - Sebanyak 202 peserta mengikuti Sekolah Lapang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (SLMKG) yang digelar Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Kabupaten Bireuen. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat memahami informasi cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.
SLMKG yang digelar BMKG bersama Komisi V DPR RI dan Pemerintah Kabupaten Bireuen berlangsung di Aula Setdakab Lama Bireuen, Rabu (7/10/2026).
Wakil Bupati Bireuen, Razuardi, mengatakan, kondisi geografis dan topografi Bireuen membuat daerah tersebut menghadapi berbagai dinamika cuaca, perubahan iklim, serta potensi bencana hidrometeorologi dan geofisika.
Menurutnya, kemampuan masyarakat memahami dan memanfaatkan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika (MKG) menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan daerah.
“Atas nama Pemkab Bireuen, saya menyambut baik serta memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada BMKG Republik Indonesia dan BMKG Provinsi Aceh atas terselenggaranya kegiatan SLMKG,” ujar Razuardi.
Ia menilai, informasi MKG tidak lagi sebatas data teknis, tetapi telah menjadi kebutuhan berbagai sektor, terutama pertanian, kelautan dan perikanan, serta penanggulangan bencana.
Melalui sekolah lapang tersebut, peserta diharapkan mampu memahami informasi cuaca dan iklim serta mengenali potensi gempa bumi dan tsunami. Pengetahuan itu dapat digunakan untuk menyesuaikan aktivitas dengan kondisi alam sekaligus mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi risiko bencana.
Ia juga meminta peserta meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga, masyarakat, serta lingkungan kerja masing-masing.
“Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menyerap ilmu, teori dan praktik langsung dari para narasumber dan para ahli di bidang MKG. Sampaikan informasi yang diperoleh di sekolah lapang ini kepada masyarakat luas,” katanya.
Menurutnya, penyebarluasan informasi tersebut penting untuk membangun budaya sadar bencana sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Pemkab Bireuen juga mendorong penguatan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, BMKG, BPBD, TNI/Polri, relawan dan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
“Kami sangat berharap bimbingan, dukungan dan program berkelanjutan dari BMKG RI, Komisi V DPR RI serta jajaran BMKG Provinsi Aceh, supaya masyarakat Bireuen semakin adaptif terhadap perubahan iklim global yang kian dinamis,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua panitia yang juga Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, Cucu Kusmayancu, S.Kom., mengatakan peserta SLMKG terbagi dalam tiga kelompok kegiatan.
Sebanyak 102 peserta mengikuti Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), sedangkan 50 peserta mengikuti Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) dan 50 peserta lainnya mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI).
“Melalui SLMKG di Kabupaten Bireuen ini, kami berharap lahir para pelopor dan duta literasi iklim, cuaca serta mitigasi bencana di tengah masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ruslan M. Daud, yang diwakili Ferizal Hasan, berharap peserta mengikuti kegiatan secara menyeluruh agar dapat memahami kondisi cuaca, iklim, serta potensi gempa dan tsunami di wilayah masing-masing.
Kepala BMKG RI, Prof.Teuku Faisal Fathani, menyatakan BMKG memiliki 191 unit pelayanan teknis (UPT) yang tersebar di seluruh Indonesia. Layanan tersebut didukung sekitar 10.800 alat pemantau atau sensor serta sistem pemrosesan data menggunakan supercomputer di Jakarta.
Di Aceh, layanan BMKG didukung sejumlah unit yang berada di Sabang, Bandara Sultan Iskandar Muda, Stasiun Klimatologi Indrapuri, Stasiun Geofisika Mata Ie, Nagan Raya, Tapaktuan dan Bandara Malikussaleh Lhokseumawe. Selain itu, terdapat pos BMKG di Bandara Rembele dan Blangkejeren.
Faisal menjelaskan, program sekolah lapang telah dilaksanakan BMKG sejak 2012 dan telah diikuti puluhan ribu peserta melalui pendanaan APBN maupun dukungan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia dan pemerintah daerah.
“Saya harapkan peserta dapat meneruskan edukasi kepada keluarga dan komunitasnya,” ujarnya.
Ia menekankan, SLMKG menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah dalam memahami informasi MKG, termasuk dalam mendukung upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Bagi sektor pertanian, Sekolah Lapang Iklim membantu petani memahami karakteristik iklim lokal yang berbeda di setiap zona. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kegiatan pertanian dan mendukung produktivitas.
Sementara itu, Sekolah Lapang Cuaca Nelayan memberikan pemahaman mengenai kondisi laut, termasuk gelombang, arus dan angin. Informasi tersebut diharapkan membantu nelayan menentukan waktu dan kondisi yang lebih aman untuk melaut.
Dengan penguatan literasi MKG, masyarakat Bireuen diharapkan tidak hanya mampu mengenali potensi ancaman bencana, tetapi juga dapat memanfaatkan informasi cuaca dan iklim untuk mendukung aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari secara lebih aman dan adaptif. (Mc.Bireuen/Eyv)