Temanggung, InfoPublik- Pemerintah Kabupaten Temanggung memperkuat sinergi pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan perbankan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah melalui Forum Rembug Ekonomi yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Temanggung di Aula Progo Bapperida, Rabu (30/9/2026).
Forum tersebut diarahkan untuk merumuskan strategi pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada penyerapan anggaran, tetapi mampu memberikan dampak ekonomi langsung atau multiplier effect bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Kepala Bapperida Kabupaten Temanggung, Hendra Sumaryana, mengatakan Bapperida berperan mengarahkan kebijakan pembangunan agar setiap program yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian daerah.
"Tugas Bapperida adalah menjadi lokomotif, serta pemicu arah kebijakan pembangunan," ujar Hendra.
Menurut Hendra, forum tersebut secara khusus mempertemukan perangkat daerah dan lembaga yang bersinggungan langsung dengan sektor riil, di antaranya Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), BUMDes, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Bank Jateng, BKK Temanggung, dan BPR BPD Temanggung.
Forum juga menghadirkan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip), Profesor Firmansyah, Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Dita Aditya Nugraha, serta pengelola BUMDes Sido Mulyo Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, sebagai praktisi lapangan.
"Kami sengaja memfokuskan peserta pada pelaku ekonomi dan perangkat daerah yang berkaitan langsung. Kami ingin forum ini melahirkan sinergi kuat antara pelaku bisnis di lapangan, akademisi sebagai penyusun gagasan, serta pemerintah dan bank sebagai regulator," kata dia.
Hendra menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Temanggung pada triwulan II mencapai 6,4 persen, sedangkan pada 2025 tercatat 5,6 persen. Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal bagi daerah untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor-sektor produktif.
"Kita optimistis keterlibatan aktif BUMDes dan sektor perbankan mampu memperkuat ketahanan ekonomi berbasis kerakyatan, karena notabene-nya, Temanggung ini masyarakatnya ditopang sektor UMKM," ujar dia.
Sementara itu, Profesor Firmansyah menekankan pentingnya meningkatkan nilai tambah produk lokal agar Temanggung tidak hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah, tetapi mampu mengembangkan produk hingga tahap akhir dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
"Kunci utamanya ada pada penciptaan nilai tambah. Aktivitas ekonomi dari hulu pertanian hingga menjadi produk akhir sebaiknya diselesaikan di Temanggung, sehingga keuntungan terbesarnya dinikmati oleh masyarakat setempat," ujar Firmansyah.
Ia juga mendorong perubahan pola pikir pelaku ekonomi agar lebih berani mengembangkan usaha dan menangkap peluang pasar yang lebih luas.
"Masyarakat Temanggung relatif tenang dan hidupnya nyaman. Namun dari sudut pandang ekonomi, kita perlu menyuntikkan ambisi bisnis yang lebih tinggi agar perekonomian tidak berjalan di tempat," jelas dia.
Dari sisi penguatan UMKM, Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Dita Aditya Nugraha, menyampaikan bahwa BI turut mendorong pembenahan ekosistem UMKM dan klaster pangan di daerah.
Menurut Dita, sejumlah tantangan yang masih dihadapi pelaku UMKM meliputi konsistensi produksi, strategi penjualan, akses terhadap fasilitas perbankan, ekspor, serta pemanfaatan pasar digital (marketplace).
"Tantangan UMKM kita cukup komplek, baik di ranah produksi, penjualan, akses terhadap fasilitas perbankan, hingga literasi penggunaan marketplace. Oleh karena itu, BI mendorong pelaku UMKM untuk berkelompok agar kemudahan monitoring, berbagi ilmu, dan pengelolaan usaha dapat berjalan lebih efektif," kata dia.
Dalam sektor ketahanan pangan, BI Jawa Tengah memfokuskan pendampingan pada komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi, seperti cabai, bawang merah, dan padi. Di Temanggung, BI telah membina klaster pertanian, khususnya komoditas cabai dan kopi.
"Komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan di Jawa Tengah pada Agustus lalu. Melalui pembinaan kelompok tani di Temanggung, kami berupaya menjaga stabilitas pasokan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani," tutup.dia.
(TFA, EKP)