SLEMAN, InfoPublik – Sebuah tugu persegi peninggalan era kolonial Belanda berkode T695 berdiri kokoh di puncak bukit kawasan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman.
Berangkat dari komitmen pelestarian sejarah, seorang warga bernama Sugeng berinisiatif menyulap lahan semak belukar seluas 4.500 meter persegi di sekitarnya menjadi destinasi wisata panorama dan kuliner bertajuk Tera View.
Kini, kawasan yang telah dipugar dan diberi pagar pembatas tersebut menawarkan lanskap menawan dari gugusan Pegunungan Menoreh di sisi barat, Gunung Merapi dan Merbabu di utara, hingga Pegunungan Prambanan di ufuk timur.
Sugeng menjelaskan, tugu trianggulasi yang dibangun pada era 1800-an tersebut memiliki fungsi geografis khusus.
Berdasarkan penelusurannya, kode T695 merepresentasikan titik koordinat pemetaan bumi atau *Geodesi Spot*, yang ditandai dengan tertanamnya lempengan baja di bagian dalam tugu.
Mengingat urgensi geologisnya, posisi bangunan ini mutlak tidak boleh digeser (in situ) dengan ancaman denda perusakan yang sangat besar.
Menariknya, tugu ini kerap memikat para ahli dari Eropa. Pada awal tahun 2006 silam, rombongan peneliti asing bahkan sempat melakukan pengukuran di lokasi tersebut dan memprediksi potensi gempa yang kemudian terbukti pada tragedi gempa besar Yogyakarta.
Selain merekam jejak ilmu pengetahuan kolonial, kawasan perbukitan ini juga lekat dengan memori kolektif masyarakat setempat terkait sosok Ki Wirasuta, abdi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I yang memprakarsai tradisi adat Saparan Bekakak.
Mengingat usianya yang telah melampaui setengah abad, bernilai bagi ilmu pengetahuan geografi, serta keaslian letaknya yang masih terjaga utuh, Sugeng berharap Tugu Trianggulasi T695 kelak mendapatkan atensi dan ketetapan resmi sebagai objek cagar budaya dari instansi terkait. (MC Kab. Sleman / KIM Pararta Guna Gamping / Ony)