Festival Pleretan Gresik Dorong Generasi Muda Lestarikan Budaya
Gresik, InfoPublik – Tradisi Pleretan di Kelurahan Sukorame, Kecamatan Gresik, kembali dihidupkan bukan sekadar sebagai ritual syukuran, tetapi sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengenali akar budaya daerah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman mengatakan keberlangsungan budaya lokal sangat bergantung pada kemampuan masyarakat mewariskannya kepada generasi berikutnya.
“Festival Budaya Pleretan mencerminkan kerukunan warga sekaligus mengingatkan pentingnya estafet bagi generasi muda agar lebih mengenal, mencintai, menjaga eksistensi dan melestarikan warisan leluhur di tengah gempuran modernisasi,” ujar Washil, dalam Festival Budaya Pleretan bertema “Harmoni Budaya, Generasi Berdaya” yang digelar di halaman SMA NU 2 Gresik, Minggu (13/9/2026).
Ratusan warga mengarak gunungan tumpeng Pleret berkeliling kampung diiringi lantunan selawat, sekaligus menghidupkan kembali tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Sukorame.
Menurutnya, keguyuban warga menjadi modal sosial yang penting bagi pembangunan daerah. Festival Pleretan menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan sekaligus identitas masyarakat.
“Saya sangat mengapresiasi Festival Budaya Pleretan ini. Karena ini adalah bukti nyata bahwa masyarakatnya sangat guyub rukun, kompak, dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap warisan leluhur,” katanya.
Namun, Washil mengingatkan bahwa tantangan terbesar pelestarian budaya bukan hanya menjaga tradisi tetap digelar, melainkan memastikan ada generasi yang bersedia mempelajari dan meneruskannya.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Gresik mendorong tokoh masyarakat dan orang tua melibatkan generasi muda dalam berbagai kegiatan adat dan budaya. Dengan cara tersebut, pelestarian budaya tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pembentukan karakter.
“Budaya lokal seperti ini harus terus ada generasi yang melanjutkan. Jangan sampai berhenti di kita. Anak-anak muda harus bangga dan mengambil peran agar tradisi Festival Budaya Pleretan ini tetap lestari di masa depan,” ujar Washil.
Tokoh budaya sekaligus Ketua Yayasan Mataseger Kris Adji mengatakan tradisi lokal seperti Pleretan memiliki nilai yang dapat menjadi pegangan bagi masyarakat di tengah derasnya pengaruh budaya luar. Pleret tidak hanya menarik dari sisi bentuk dan rasa, tetapi juga menyimpan filosofi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Kawasan yang kini menjadi lokasi festival, kata dia, dahulu merupakan hamparan sawah. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, beras memiliki posisi penting sebagai simbol kehidupan dan kemakmuran.
“Bahan utama pleret adalah beras. Ini menggambarkan pesan mendalam bahwa manusia tidak boleh menerima begitu saja, tetapi bagaimana kita mensyukuri apa yang diberikan Allah Swt. sebagai suatu keberkahan, lalu mengolahnya dengan baik, salah satunya menjadi kue pleret ini,” ujar Kris.
Ia menjelaskan, sejumlah simbol dalam Pleret juga merepresentasikan nilai yang diwariskan leluhur. Tepung beras sebagai bahan utama dikaitkan dengan penghormatan kepada Dewi Sri, sementara warna-warni Pleret menggambarkan keberagaman dan toleransi dalam kehidupan masyarakat. “Simbol-simbol inilah yang harus kita pegang teguh sebagai pendidikan karakter bagi generasi muda,” katanya.
Festival Budaya Pleretan merupakan tradisi syukuran masyarakat Sukorame yang juga digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Penghidupan kembali tradisi tersebut menjadi upaya masyarakat untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Selain kirab Pleret, festival diisi berbagai kegiatan, antara lain pentas Tari Pleretan, Musik Patrol, fashion show Batik Bunga Pleretan, bazar UMKM, serta permainan tradisional.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kreativitas masyarakat. Tradisi tidak hanya dipertahankan dalam bentuk aslinya, tetapi juga dapat menjadi ruang ekspresi seni, pengenalan produk lokal, sekaligus penggerak aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, Festival Budaya Pleretan tidak sekadar mengarak makanan tradisional dan meramaikan kampung. Di balik kirab dan berbagai pertunjukan, terdapat upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat Sukorame sekaligus memastikan generasi muda mengenal nilai budaya yang membentuk identitas daerahnya.
(dvd)