Kademangan, InfoPublik – Festival Gir Sereng di Pantai Permata Pilang, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, menjadi momentum pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan ekonomi masyarakat.
Festival menghadirkan 23 stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang diikuti pelaku usaha lokal serta pedagang kaki lima (PKL). Beragam pertunjukan seni budaya turut memeriahkan kegiatan sebagai upaya melestarikan tradisi sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan tari dari Sanggar Tri Sukma yang dibawakan lima penari, dilanjutkan pertunjukan tari dari Sanggar Puri Rahayu. Suasana semakin semarak melalui drama kolosal "Buto Ijo dan Roro Anteng" yang dipersembahkan Sanggar Gunung Gembok dan mengangkat kisah terbentuknya Gunung Batok di kawasan Bromo.
Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, mengajak masyarakat terus menjaga dan melestarikan warisan budaya sebagai identitas daerah sekaligus memperkuat kebersamaan antarwarga.
"Melalui kegiatan seni dan budaya seperti ini, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mempererat persaudaraan dan kebersamaan," ujar Aminuddin, pada Minggu (2/8/2026).
Pada kesempatan tersebut, Aminuddin juga mengajak masyarakat menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan memasang Bendera Merah Putih dan lampu hias di lingkungan masing-masing. Langkah itu diharapkan dapat mempertahankan predikat Kota Probolinggo sebagai daerah yang meriah dalam memperingati hari-hari nasional.
Selain mengapresiasi pelestarian budaya, Aminuddin menilai Festival Gir Sereng turut memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Pemerintah Kota Probolinggo juga memaparkan rencana strategis pengembangan kawasan Pantai Permata Pilang. Kawasan wisata tersebut direncanakan diperluas hingga mencapai 34 hektare sebagai bagian dari pengembangan destinasi wisata, penghijauan, dan penguatan ekonomi daerah.
Salah seorang pelaku UMKM, Toyibah, mengaku senang dapat berpartisipasi dalam Festival Gir Sereng. Bersama anaknya, ia menjual rujak cingur seharga Rp10 ribu per bungkus, lebih murah dibandingkan harga normal Rp12 ribu di rumah.
"Di sini dijual Rp10 ribu per bungkus, kalau di rumah Rp12 ribu per bungkus. Tidak apa-apa, saya senang bisa ikut kumpul-kumpul di sini memeriahkan lingkungan sosial melalui kuliner tradisional," ungkap Toyibah.
Sementara itu, Lurah Pilang, Iwan Cahyono, menjelaskan Festival Gir Sereng digelar sebagai upaya merevitalisasi budaya lokal sekaligus menjadi wadah masyarakat mengungkapkan rasa syukur. Menurutnya, festival juga menjadi media promosi pariwisata serta pemberdayaan UMKM untuk memperkuat perekonomian warga.
"Harapannya, festival ini mampu menjadi agenda tahunan yang semakin memperkuat identitas budaya Kelurahan Pilang sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor ekonomi kreatif dan pariwisata," jelasnya.
(dy/fa)